Kapolda Banten Tinjau Kebakaran TPA Jatiwaringin, Teknologi Deteksi Dini Disorot

Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Banten akhir pekan lalu menjadi perhatian serius aparat keamanan. Kapolda Banten

Jul 08, 2026 - 10:09
0 0
Kapolda Banten Tinjau Kebakaran TPA Jatiwaringin, Teknologi Deteksi Dini Disorot

Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Banten akhir pekan lalu menjadi perhatian serius aparat keamanan. Kapolda Banten, Inspektur Jenderal Suyudi Ario Seto, langsung meninjau lokasi untuk memastikan penanganan berjalan optimal. Insiden ini menghanguskan area seluas 4,7 hektar dan mengeluarkan asap pekat yang berdampak pada kualitas udara di tiga desa sekitar. Proses pemadaman memakan waktu 16 jam dan melibatkan 15 unit mobil pemadam serta dua helikopter water bombing.

Menurut data Dinas Lingkungan Hidup setempat, suhu di pusat kebakaran bawah permukaan mencapai 700–850 derajat Celsius, dipicu oleh kantong-kantong gas metana hasil dekomposisi sampah organik selama bertahun-tahun. Kebakaran bawah permukaan seperti ini sangat sulit dideteksi secara dini karena tidak menampakkan api di permukaan hingga asap tebal menyembul dari celah-celah tanah. Ini bukan kali pertama TPA Jatiwaringin terbakar; insiden serupa terjadi pada 2021 dan 2019, menjadikannya salah satu TPA paling rawan kebakaran di Pulau Jawa.

Mengapa TPA Rawan Terbakar? Peran Gas Metana dan Deteksi Sensor IoT

TPA merupakan penghasil gas metana terbesar ketiga dari aktivitas manusia setelah pertanian dan industri energi. Gas ini terbentuk saat material organik terurai dalam kondisi anaerobik (tanpa oksigen). Metana memiliki potensi pemanasan global 28 kali lipat lebih besar dibandingkan CO₂ dalam jangka waktu 100 tahun. Jika tidak dikelola, metana dapat bermigrasi melalui tanah dan menyulut secara spontan saat terpapar oksigen pada suhu tinggi—fenomena yang disebut auto-ignition.

Untuk mengantisipasi hal ini, sejumlah TPA di negara maju telah mengadopsi sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT). Sensor gas yang tertanam di berbagai titik TPA mampu mengukur konsentrasi metana, suhu, kelembapan, dan tekanan secara real-time. Data dikirim ke pusat kendali, dan jika terdeteksi lonjakan parameter melebihi ambang batas, sistem otomatis mengirim peringatan ke petugas. “Teknologi sensor IoT sudah mature secara komersial. Biaya perangkatnya sekitar Rp5–15 juta per titik, jauh lebih murah daripada kerugian kebakaran yang bisa mencapai miliaran rupiah,” ujar Dr. Andri Wibowo, pakar manajemen lingkungan dari Universitas Indonesia.

Selain sensor bawah tanah, drone dengan kamera termal juga digunakan untuk memetakan titik panas (hotspot) di area TPA yang luas. Kombinasi keduanya memungkinkan deteksi dini bahkan sebelum asap terlihat. Di San Jose, California, sistem serupa berhasil menurunkan insiden kebakaran TPA hingga 70% dalam tiga tahun pertama implementasi.

Perbandingan Metode Penanganan Kebakaran TPA
AspekMetode KonvensionalPendekatan Teknologi Modern
DeteksiLaporan visual warga, patroli manual 1-2 kali sehariSensor gas IoT, drone termal, pemantauan satelit resolusi tinggi
Waktu Respons4–12 jam setelah asap terlihat30–60 menit sejak anomali parameter terdeteksi
Biaya Investasi AwalHampir nol (mengandalkan infrastruktur eksisting)Sekitar Rp150–400 juta untuk 10 titik sensor dan sistem data
Efektivitas PemadamanTerbatas pada permukaan; sering gagal pada kebakaran bawahPemadaman presisi dengan injeksi campuran air, nitrogen, dan foam
Dampak LingkunganAsap tebal berhari-hari, polusi PM2.5 tidak termonitorPeringatan dini memungkinkan pemadaman cepat, meminimalkan emisi

Selain gas metana, kebakaran TPA juga melepaskan polutan berbahaya seperti dioksin, furan, dan partikel halus PM2.5. Paparan jangka pendek terhadap partikel ini dikaitkan dengan peningkatan kasus ISPA dan iritasi mata. Dinas Kesehatan Banten mencatat lonjakan kunjungan pasien ISPA sebesar 34% selama tiga hari pertama kebakaran Jatiwaringin. Di sinilah pentingnya integrasi pemantauan kualitas udara berbasis sensor low-cost yang dapat memberi peringatan ke ponsel warga.

Jalan Keluar Jangka Panjang: Dari TPA ke Waste-to-Energy

Kebakaran TPA bukan sekadar masalah pemadaman, melainkan gejala pengelolaan sampah yang tidak berkelanjutan. TPA terbuka (open dumping) yang masih mendominasi Indonesia menyimpan potensi kebakaran dan pencemaran air tanah. Jepang dan Singapura, misalnya, telah bertransformasi dengan membangun fasilitas insinerasi yang dilengkapi sistem waste-to-energy (WtE)—mengubah sampah menjadi listrik. Teknologi gasifikasi plasma, yang beroperasi pada suhu 1.500–3.000 derajat Celsius, mampu memecah sampah hingga level molekuler tanpa menghasilkan dioksin, meninggalkan residu berupa terak vitrifikasi yang aman digunakan sebagai bahan bangunan.

“Indonesia memiliki potensi besar untuk mengadopsi WtE, tetapi masih terkendala biaya investasi dan konsistensi regulasi. Satu pabrik berkapasitas 1.000 ton per hari membutuhkan investasi sekitar Rp2–3 triliun. Namun jika dikelola dengan skema kemitraan pemerintah-swasta yang tepat, ini bisa menjadi solusi permanen mengakhiri siklus kebakaran TPA,” jelas Dr. Sri Maryati, peneliti senior Pusat Studi Lingkungan ITB.

Sementara solusi jangka panjang masih dalam tahap perencanaan, peninjauan Kapolda Banten di TPA Jatiwaringin menegaskan urgensi perbaikan sistem deteksi dan respons dini. Kebakaran ini menjadi bukti nyata bahwa investasi pada teknologi pemantauan bukan lagi opsi, melainkan keharusan untuk melindungi lingkungan dan kesehatan publik. Dengan data yang akurat dan cepat, petugas dapat memadamkan titik api sebelum berubah menjadi bencana skala besar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User