Jakarta, Terdepan.id – Langkah safari perdana Presiden ke-7 RI Joko Widodo ke Lampung tak hanya menyedot perhatian pu
Agenda yang menjadi sorotan adalah upacara pemberian gelar adat atau muakhi kepada Jokowi di Lampung. Dalam prosesi tersebut, Jokowi terlihat menginjak sebuah replika kepala kerbau yang diletakkan
Agenda yang menjadi sorotan adalah upacara pemberian gelar adat atau muakhi kepada Jokowi di Lampung. Dalam prosesi tersebut, Jokowi terlihat menginjak sebuah replika kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah. Momen ini lekas menjadi perbincangan lantaran dianggap sarat makna simbolik, terutama ketika dikaitkan dengan dinamika politik terkini.
Pertanyaan Tajam dari Kubu PDIP
Juru Bicara PDIP, Guntur Romli, melontarkan sejumlah pertanyaan bernada sinis merespons prosesi itu. Ia mempertanyakan esensi sebenarnya dari tindakan Jokowi: apakah murni bagian dari penghormatan adat Lampung, atau justru pesan politik terselubung.
“Apakah yang dilakukan Jokowi sebagai adat, ekspresi kesombongan, atau simbolisasi perendahan politik,” ujar Guntur Romli melalui keterangan yang diterima Terdepan.id.
Tak berhenti di situ, Gunrom — sapaan akrab Guntur Romli — menyindir para pendukung Jokowi. Ia menilai ada halusinasi politik di kalangan pendukung mantan Wali Kota Solo itu.
“Saya kira para pendukung Jokowi tengah berhalusinasi bahwa yang tengah diinjak adalah kepala banteng,” imbuhnya.
Pernyataan tersebut jelas merujuk pada lambang PDIP yang identik dengan kepala banteng moncong putih. Sindiran ini langsung memanaskan hubungan kedua belah pihak yang belakangan memang kerap berbeda haluan politik.
Meruncingnya Suhu Politik
Dari kubu PSI, meski belum memberikan respons resmi yang sedetail pernyataan Gunrom, sejumlah elite dan simpatisan berlambang gajah itu telah terlebih dahulu melontarkan pujian terhadap prosesi adat tersebut. Mereka menyebutnya sebagai bentuk penghormatan tinggi masyarakat adat Lampung kepada mantan presiden yang dianggap berjasa. Salut-salut itu seolah menjadi pemicu bagi PDIP untuk melancarkan kritik balasan, sehingga memperkeruh suasana.
Kedatangan Jokowi ke Lampung sendiri merupakan agenda safari perdananya pasca-lengser. Sejumlah pihak telah menduga pergerakan Jokowi akan menjadi komoditas perbincangan politik, dan terbukti mampu memantik tensi antara kubu yang dulu pernah berada di satu barisan pengusung, namun kini berada di jalur konflik yang kian terbuka.
Panasnya adu mulut ini menegaskan bahwa sisa-sisa perseteruan antara elite PDIP dan eks kadernya masih membara. Setiap gerak-gerik Jokowi, bahkan dalam acara kebudayaan, tak lagi bisa lepas dari kacamata politik rivalitas.
Hingga berita ini diturunkan, keluarga besar masyarakat adat Lampung sendiri cenderung enggan terseret pusaran polemik. Sejumlah tokoh adat menegaskan bahwa prosesi muakhi tak berkaitan dengan politik praktis, melainkan murni penghargaan kultural.
Meski demikian, suara dari para tokoh adat tampaknya belum cukup meredam riuh-rendah komentar dari para elite partai. Perseteruan narasi ini menambah panjang daftar friksi antara pendukung si banteng dan si gajah pasca-Pilpres 2024, seiring dengan manuver politik Jokowi yang tetap memikat perhatian.
Comments (0)