Arlington, AS — Mohamed Salah Ingin Kesuksesan Mesir di Piala Dunia 2026 Jadi Inspirasi
AT&T Stadium, Arlington, Texas — Stadion berkapasitas 80.000 penonton itu bergemuruh saat wasit meniup peluit panjang. Tim nasional Mesir baru saja mengala
AT&T Stadium, Arlington, Texas — Stadion berkapasitas 80.000 penonton itu bergemuruh saat wasit meniup peluit panjang. Tim nasional Mesir baru saja mengalahkan Belgia 2-1 di babak 16 besar Piala Dunia 2026, dan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, The Pharaohs melangkah ke perempat final. Di tengah euforia, sang kapten Mohamed Salah menatap tribun dengan mata berkaca-kaca. Bukan hanya kemenangan yang ia rayakan, melainkan sebuah pesan yang jauh lebih besar.
"Kami Menulis Ulang Sejarah"
Dalam konferensi pers usai laga, Salah berbicara dengan suara tenang namun penuh keyakinan. Ia menyebut pencapaian ini sebagai titik balik yang harus dimaknai lebih luas.
"Ini bukan hanya tentang kami sebagai pemain. Ini tentang setiap anak kecil di Mesir yang bermimpi menjadi pemain sepak bola, dokter, insinyur, atau apa pun. Kami ingin mereka melihat bahwa sejarah bisa ditulis ulang. Tidak ada batasan," tegas Mohamed Salah.
Gol penentu Salah di menit ke-78 — sepakan kaki kiri dari luar kotak penalti yang meluncur deras ke sudut atas gawang — menjadi gol kelimanya di turnamen ini. Angka itu menempatkannya sebagai pencetak gol terbanyak kedua sementara Piala Dunia 2026, hanya kalah satu gol dari Kylian Mbappé.
Selangkah Lebih Jauh dari Masa Lalu
Bagi Mesir, pencapaian ini adalah lompatan monumental. Sebelum Piala Dunia 2026, negara dengan sejarah sepak bola tertua di Afrika itu tak pernah melampaui babak grup dalam empat penampilan sebelumnya — pada 1934, 1990, 2018, dan 2022. Tiga kali di antaranya berakhir tanpa kemenangan. Kini, di bawah arahan pelatih Hossam Hassan, tim yang dibangun dengan perpaduan pemain veteran dan talenta muda dari Liga Primer Inggris hingga Bundesliga Jerman itu akhirnya mematahkan kutukan.
Statistik menunjukkan dominasi Mesir di laga tersebut: penguasaan bola 52 persen, 14 tembakan dengan enam tepat sasaran, dan umpan akurat mencapai 83 persen. Namun, angka-angka itu hanyalah kulit luar dari narasi yang lebih dalam tentang ketekunan dan transformasi mental.
Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Di Mesir, dampak kesuksesan ini sudah terasa jauh sebelum peluit akhir dibunyikan. Video reaksi anak-anak di kawasan Populer Kairo, gang-gang sempit Alexandria, hingga desa-desa di Nagrig — kampung halaman Salah — membanjiri media sosial. Mereka melompat, menangis, dan meneriakkan nama "Mo Salah" seolah sang bintang adalah milik mereka sendiri.
Fenomena ini bukan hal baru, tetapi intensitasnya meningkat drastis. "Efek Salah" telah lama menjadi istilah sosiolog maupun ekonom di Mesir — tingkat pendaftaran di akademi sepak bola melonjak, para orang tua mulai mengizinkan anak-anak bermimpi di luar sektor pekerjaan tradisional, bahkan angka putus sekolah di beberapa daerah tercatat menurun sejak popularitas Salah meroket di Liverpool satu dekade lalu.
"Mimpi Saya Dulu, Sekarang Mimpi Mereka"
Salah mengaku paham betul beban yang ia pikul sebagai ikon nasional. Namun, baginya, beban itu justru menjadi bahan bakar.
"Saya dulu anak kecil yang menonton Piala Dunia di televisi hitam-putih di rumah sederhana. Saya tidak pernah membayangkan akan berada di sini. Sekarang saya ingin anak-anak Mesir sadar bahwa tempat Anda lahir tidak menentukan seberapa tinggi Anda bisa terbang. Mimpi saya dulu, sekarang mimpi mereka."
Untuk memperkuat pesan itu, Federasi Sepak Bola Mesir merencanakan program "Mimpi 2030" — sebuah inisiatif yang akan membangun 50 lapangan mini dan klinik pelatihan di daerah-daerah tertinggal. Salah dikabarkan akan menjadi duta utama program tersebut.
Jalan Masih Panjang, Warisan Sudah Terukir
Mesir kini bersiap menghadapi Argentina di perempat final — duel yang akan mempertemukan Salah dengan Lionel Messi. Apapun hasilnya kelak, warisan perjalanan Piala Dunia 2026 ini sudah tak bisa dihapus. Generasi muda Mesir kini punya bukti nyata bahwa langit bukanlah batas.
Seperti yang diucapkan Salah sambil berjalan keluar stadion dengan senyum tipis: "Kami sudah menang. Bukan hanya di papan skor, tapi di hati mereka."
Comments (0)