Jakarta — Menakar Ulang Arti ‘Sekufu’ di Tengah Lonjakan Perceraian

Di sebuah ruang sidang yang dingin di Pengadilan Agama Jakarta Pusat, pasangan muda itu duduk berjauhan. Tatapan mereka kosong, seakan sisa-sisa kemesraan

Jul 08, 2026 - 07:59
0 1
Jakarta — Menakar Ulang Arti ‘Sekufu’ di Tengah Lonjakan Perceraian

Di sebuah ruang sidang yang dingin di Pengadilan Agama Jakarta Pusat, pasangan muda itu duduk berjauhan. Tatapan mereka kosong, seakan sisa-sisa kemesraan tinggal bayang-bayang yang enggan pergi. Hakim mengetuk palu, dan gugatan cerai dikabulkan. Di luar, koridor pengadilan ramai oleh antrean pasangan lain—sebuah pemandangan yang kian akrab dalam dua tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan angka perceraian hingga 15% pada 2025, dengan mayoritas gugatan berasal dari generasi muda usia 20-35 tahun. Cinta, yang dulu dianggap fondasi kokoh pernikahan, kini seolah rapuh diterpa badai realitas. Masyarakat mulai menoleh pada konsep lama: sekufu—kesetaraan dan kesepadanan antarpasangan—yang kembali diuji relevansinya di era modern.

Dari Syariat ke Psikologi Relasi: Apa Itu Sekufu?

Dalam khazanah fikih klasik, kafā'ah atau sekufu sering dipahami sebagai kesetaraan dalam hal agama, nasab, harta, dan pekerjaan. Namun, para pemikir kontemporer memperluas definisinya sebagai kompatibilitas menyeluruh: kecocokan nilai, visi hidup, tingkat pendidikan, hingga gaya komunikasi. Analoginya sederhana—ibarat membangun aplikasi, agama adalah sistem operasi-nya, tetapi sekufu adalah seluruh arsitektur kode yang memastikan program berjalan tanpa bug. Jika salah satu modul tidak sinkron, sistem akan terus mengalami konflik tersembunyi hingga akhirnya crash.

“Di zaman sekarang, sekufu bukan lagi soal bibit-bebet-bobot secara kaku. Ini tentang selarasnya lensa cara memandang dunia,” ujar Nadia Rahmawati, psikolog klinis yang mendalami konseling pranikah. “Pasangan bisa saling jatuh cinta dengan hebat, tetapi jika tak sepadan dalam manajemen konflik atau konsep peran gender, rumah tangga akan menjadi medan pertempuran diam-diam.”

Cinta vs. Kompatibilitas: Mengapa Perasaan Tak Lagi Cukup?

Studi neuropsikologi dari Universitas Indonesia yang dipublikasikan pada 2024 menunjukkan bahwa euforia cinta romantis—yang dipicu oleh lonjakan dopamin—rata-rata hanya bertahan 12–18 bulan. Setelah fase itu, otak beralih pada sistem attachment yang sangat dipengaruhi oleh kesamaan nilai dan pengalaman. Inilah mengapa banyak pasangan bercerai di tahun-tahun awal pernikahan: ketika kabut biokimia mereda, ketidaksetaraan yang semula diabaikan muncul ke permukaan.

Buffy pernah mewawancarai Raka (32), seorang software engineer yang mengakhiri pernikahan setelah tiga tahun.

“Kami cinta mati. Tapi setiap diskusi soal keuangan, soal cara mendidik anak kelak, selalu berakhir pertengkaran. Dia ingin gaya hidup fleksibel, aku lebih terstruktur. Kami tak pernah benar-benar sinkron dari awal, hanya menunda ledakan.”

Apa yang dialami Raka adalah cermin fenomena lebih luas: sekufu emosional-intelektual yang terabaikan. Konselor pernikahan Iwan Setiawan menekankan, “Cinta adalah bahan bakar, tetapi kompatibilitas adalah peta jalan. Tanpa peta, sekuat apa pun mesin, Anda akan tersesat.”

Menakar Sekufu di Era Digital: Kriteria Baru yang Harus Diuji

Modernitas telah menambahkan lapisan baru dalam konsep sekufu: literasi digital, orientasi karier, dan pandangan terhadap keseimbangan hidup-kerja. Survei yang dilakukan platform taaruf daring “Serasi” menemukan bahwa 68% lajang perkotaan kini memasukkan “kesamaan minat pengembangan diri” sebagai syarat utama pasangan, mengalahkan faktor materi atau keturunan. Generasi ini tak lagi sekadar bertanya, “Dari mana asalmu?” melainkan “Kamu mau tumbuh ke mana?”

Namun, obsesi pada “sekufu” juga memiliki bahaya: jika terlalu kaku, ia bisa menjelma menjadi standar perfeksionis yang menolak perbedaan. Yang diperlukan adalah keseimbangan—menilai aspek-aspek non-negosiable seperti integritas, tujuan hidup, dan cara menghadapi krisis, sembari menerima warna-warni perbedaan yang justru memperkaya hubungan.

Meredefinisi Badai: Kesempatan untuk Kalibrasi Ulang

Jika kita ibaratkan pernikahan sebagai perjalanan dua awak dalam satu pesawat, maka sekufu adalah pre-flight checklist yang harus disepakati bersama. Tanpa itu, pesawat bisa tinggal landas dengan cinta sebagai dorongan jet, tetapi berisiko mengalami dekompresi di ketinggian. Di sinilah pentingnya konseling pranikah berbasis sains: memetakan bukan hanya perasaan, melainkan cetak biru relasi.

Melihat lonjakan perceraian saat ini, alih-alih pesimistis, kita justru bisa membacanya sebagai sinyal masyarakat yang kian sadar pentingnya kesehatan mental dan relasi berkualitas. Cinta memang tak cukup, tetapi bukan berarti ia tak lagi berharga. Cinta menjadi lebih bermakna ketika ia berdiri di atas fondasi kesepadanan yang dibangun secara sadar. Maka, menakar ulang sekufu bukanlah langkah mundur ke masa lalu, melainkan strategi futuristik—menggabungkan kearifan tradisi dan temuan sains untuk menciptakan pernikahan yang tangguh menghadapi badai zaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User