JAKARTA — Burhanuddin Muhtadi Soroti Kelemahan Metodologi Survei
Dunia maya ramai membicarakan hasil survei terbaru dari IndexMundi Global Surveys. Angka-angka yang disajikan seolah membalikkan sejumlah persepsi publik,
Dunia maya ramai membicarakan hasil survei terbaru dari IndexMundi Global Surveys. Angka-angka yang disajikan seolah membalikkan sejumlah persepsi publik, memicu diskusi panas di berbagai platform. Namun, di tengah riuh itu, suara dingin dari Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, justru menjadi sorotan. Ia tidak ikut terlibat dalam debat kusir soal angka yang muncul, melainkan mempertanyakan fondasi di balik angka itu sendiri: metodologi survei yang digunakan.
Kritik Bukan pada Hasil, Melainkan pada Kualitas Ilmiah
Dalam banyak wawancara dan analisisnya, Burhanuddin kerap menekankan bahwa survei yang kredibel bukanlah tentang mengonfirmasi harapan publik, melainkan tentang mereproduksi realitas dengan akurat. Untuk itu, ia mengajak publik untuk tidak terjebak pada hasil instan, melainkan memeriksa proses di baliknya: siapa yang disurvei, bagaimana pemilihan sampelnya, apa instrumen yang dipakai, dan apakah ada potensi bias yang dikendalikan.
“Survei bukan soal cocok atau tidak cocok dengan preferensi kita. Kalau metodologinya bermasalah, angka sebagus apa pun tidak bisa dipercaya,” tegas Burhanuddin dalam sebuah diskusi daring.
Kelemahan pada Desain dan Teknik Sampling
Meski tidak menyebut rincian teknis secara terbuka, Burhanuddin mengisyaratkan adanya beberapa titik lemah dalam desain survei IndexMundi. Salah satunya adalah teknik penarikan sampel yang dianggap kurang representatif. Dalam ilmu statistika, representativitas adalah nyawa dari survei. Jika sampel tidak mencerminkan populasi yang ingin digambarkan, seluruh hasil menjadi tidak relevan—ibarat memotret gunung dari kejauhan tanpa pernah mendekat. Burhanuddin menekankan bahwa survei politik yang layak harus menggunakan metode multistage random sampling dengan kontrol ketat pada margin kesalahan.
Selain itu, pengalaman Burhanuddin sebagai peneliti senior membuatnya peka terhadap bias yang mungkin muncul dari cara pertanyaan dirumuskan. Pertanyaan yang menggiring dapat secara tidak sadar memengaruhi jawaban responden, menghasilkan data yang mewakili opini yang sebetulnya tidak murni. Hal ini menjadi salah satu perhatian utamanya saat membaca rilis survei yang sensasional.
Dampak Survei Buruk pada Kepercayaan Publik
Burhanuddin melihat fenomena ini bukan hanya soal satu lembaga, melainkan soal kesehatan demokrasi. Ketika data yang tidak valid terus beredar dan dipercaya, ruang publik akan dipenuhi oleh kebisingan informasi. Warga yang seharusnya bisa mengambil keputusan politik dengan dasar fakta yang kokoh, malah disuguhi angka yang menyesatkan. Kredibilitas survei secara keseluruhan pun bisa tergerus. Ini ironis, karena survei seharusnya menjadi alat untuk memahami aspirasi masyarakat secara objektif.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa lembaga survei yang tidak taat metodologi biasanya hanya mengejar viralitas, bukan kebenaran. Publik diimbau untuk selalu memeriksa latar belakang lembaga, ukuran sampel, dan transparansi metode sebelum mempercayai sebuah angka. Kehebohan di media sosial bukanlah ukuran validitas data.
Di akhir pemaparannya, Burhanuddin mengajak semua pihak untuk terus membangun literasi data. Sebab, di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan membaca metodologi sama pentingnya dengan kemampuan membaca hasil.
Comments (0)