[JAKARTA] — TVS Sentil Brand Motor Listrik Gaib: Hari Ini Ada, Bulan Depan Hilang
Jakarta - Pasar sepeda motor listrik di Indonesia tengah bergairah, tetapi juga diwarnai fenomena yang meresahkan konsumen. Produsen roda dua asal India, T
Kronologi Gejolak Pasar Motor Listrik
Dalam dua tahun terakhir, lanskap kendaraan listrik roda dua di Tanah Air mengalami pasang surut yang cukup dramatis. Berikut rentetan kejadian yang membentuk opini publik dan pemicu pernyataan TVS:
- 2023 – Awal 2024: Puluhan merek baru bermunculan, memanfaatkan insentif pemerintah dan meningkatnya minat terhadap mobilitas ramah lingkungan. Banyak di antaranya menawarkan harga sangat kompetitif dengan klaim spesifikasi tinggi.
- Pertengahan 2024 – Akhir 2024: Sebagian merek mulai kesulitan mempertahankan layanan purna jual, jaringan suku cadang, dan ketersediaan unit. Konsumen mengeluhkan bengkel tutup dan garansi tidak terpenuhi.
- Awal 2025: Sejumlah merek tiba‑tiba menghentikan operasi di Indonesia, menghilang dari pameran, dan menutup seluruh kanal komunikasi. Konsumen terlantar tanpa dukungan teknis maupun kompensasi.
- Februari 2025: Di tengah kekosongan regulasi yang ketat, TVS melalui Ryan Rahadian melontarkan kritik keras terhadap fenomena “brand gaib” ini, menegaskan bahwa industri tidak bisa digarap asal‑asalan.
Pernyataan Tegas TVS: Industri Tidak Bisa Dibangun secara “Untung‑untungan”
Dalam keterangannya, Ryan Rahadian tidak menyebut nama merek tertentu, tetapi sindiran tajamnya jelas tertuju pada pola bisnis yang dianggap merugikan konsumen. “Hari ini ada, bulan depan tiba‑tiba menghilang. Ini kesannya main‑main. Membangun kepercayaan di segmen motor listrik butuh komitmen jangka panjang, bukan sekadar menjual unit lalu lenyap,” tegas Ryan. Ia menambahkan bahwa TVS yang telah berkiprah selama puluhan tahun di Indonesia memahami betul dinamika pasar, termasuk pentingnya infrastruktur purnajual dan kepastian suku cadang.
Pernyataan ini disampaikan bersamaan dengan penjelasan mengenai resep bertahan TVS di tengah gempuran jenama Jepang dan Tiongkok. TVS mengedepankan jaringan diler yang solid, investasi berkelanjutan di lini perakitan lokal, serta program loyalitas pelanggan yang membuat pemilik motor TVS tidak sekadar membeli produk, tetapi juga masuk ke dalam ekosistem layanan yang terjamin. Saat ini TVS telah mengoperasikan lebih dari 200 diler resmi di seluruh Indonesia dan terus memperluas jangkauan ke kota‑kota tier 2 dan 3.
Mengapa Fenomena “Brand Gaib” Membahayakan Ekosistem
Fenomena merek yang lenyap sekejap bukan hanya soal kekecewaan individual. Secara makro, kejadian ini menciptakan trauma pasar yang memperlambat adopsi motor listrik. Calon pembeli menjadi ragu, lembaga pembiayaan mengeraskan persyaratan kredit untuk kendaraan listrik, dan pemerintah pun kesulitan menakar efektivitas program percepatan elektrifikasi. Padahal, target 2 juta unit motor listrik pada 2025 sebagaimana peta jalan Kementerian Perindustrian memerlukan geliat industri yang sehat dan berkelanjutan.
TVS sendiri menunjukkan kehadiran konsisten dengan model iQube dan beberapa varian yang akan segera diluncurkan. Perusahaan menekankan bahwa keberlanjutan bisnis tidak bisa dicapai hanya melalui penjualan unit semata, melainkan lewat kehadiran yang tak terputus di mata konsumen.
Dengan sorotan ini, TVS berharap regulator dapat memperketat pengawasan terhadap merek‑merek baru di segmen motor listrik, sekaligus mengajak seluruh pemain industri untuk bersaing secara sehat demi tercapainya ekosistem mobilitas tanpa emisi yang sesungguhnya.
Comments (0)