Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah Sejak Maret
Jakarta - Pasar energi global kembali diguncang gejolak signifikan setelah harga minyak mentah dunia terjun bebas sekitar 5% pada perdagangan Selasa. Berdasarkan laporan dari berbagai pusat data keua
Jakarta - Pasar energi global kembali diguncang gejolak signifikan setelah harga minyak mentah dunia terjun bebas sekitar 5% pada perdagangan Selasa. Berdasarkan laporan dari berbagai pusat data keuangan, anjloknya harga ini membawa minyak mentah menyentuh titik terlemah dalam kurun tiga bulan terakhir, sebuah kondisi yang tidak terlepas dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pendorong utama di balik koreksi tajam ini adalah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang turut membuka kembali jalur vital Selat Hormuz untuk pelayaran komersial. Selat strategis ini selama berbulan-bulan menjadi pusat kekhawatiran pasokan global. Lebih dari itu, kesepakatan ini memberikan lampu hijau bagi Teheran untuk kembali memasok minyak mentahnya ke pasar internasional, sebuah langkah yang secara langsung meredakan kekhawatiran akan kelangkaan pasokan.
“Kembalinya minyak Iran ke pasar global, ditambah jaminan keamanan di Selat Hormuz, telah mengikis premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga di level tinggi.”
Tekanan jual yang masif terpantau jelas pada dua kontrak acuan utama dunia. Minyak mentah Brent ditutup anjlok US$4,21 atau setara 5,1% ke posisi US$78,96 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik AS mengalami pukulan yang lebih dalam dengan penurunan US$4,70 atau 5,8%, mengakhiri sesi di level US$76,05 per barel. Tingkat penutupan yang tercatat merupakan yang paling rendah untuk Brent sejak 2 Maret, dan untuk WTI menjadi yang terendah sejak 4 Maret.
Namun, jika ditarik lebih mundur, analis Terdepan.id mencatat bahwa meskipun terjadi penurunan drastis, harga minyak saat ini belum sepenuhnya kembali ke titik pra-konflik. Sebagai perbandingan, sehari sebelum eskalasi perang AS-Iran pecah pada 28 Februari, Brent masih nyaman bertengger di kisaran US$72,48 per barel, dengan WTI berada di area US$67,02. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun tensi geopolitik telah mereda, masih terdapat faktor fundamental lain yang menjaga dasar harga tetap lebih tinggi dibandingkan periode sebelum konflik bersenjata.
Kendati begitu, pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada potensi bertambahnya pasokan dari Iran serta kestabilan rantai distribusi global. Penurunan harga yang drastis ini dipandang sebagai angin segar bagi negara-negara importir, namun sekaligus menjadi alarm bagi para produsen yang sedang berupaya menjaga keseimbangan anggaran mereka di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
Comments (0)