Senator Paraguay Celeste Amarilla Lontarkan Hinaan Rasis ke Mbappe di Piala Dunia
Kontroversi baru pecah di tengah gemerlap Piala Dunia 2026 yang sedang berlangsung di Amerika Utara. Senator perempuan Paraguay, Celeste Amarilla, menjadi
Kontroversi baru pecah di tengah gemerlap Piala Dunia 2026 yang sedang berlangsung di Amerika Utara. Senator perempuan Paraguay, Celeste Amarilla, menjadi sorotan tajam setelah cuitannya di media sosial yang diduga berisi hinaan bernada rasial terhadap bintang tim nasional Prancis, Kylian Mbappé. Cuitan tersebut diunggah sesaat setelah Prancis menyingkirkan salah satu wakil Afrika di babak 16 besar, dan langsung memicu gelombang kemarahan dari warganet global, organisasi anti-rasisme, hingga kalangan diplomatik.
Dalam unggahan yang kini telah dihapus, Amarilla—politisi dari Partai Liberal Radikal Otentik (PLRA)—menuliskan kalimat yang menyamakan Mbappé dengan “primata yang hanya bisa berlari,” serta menyinggung asal-usul keturunan Kamerun-Aljazair sang pemain. Meski ia kemudian mengklaim bahwa itu hanyalah “kritik terhadap gaya bermain sepak bola yang mengandalkan kecepatan semata,” konteks pemilihan kata yang menyerempet stereotipe fisik dan etnis membuat publik sulit menerima pembelaan tersebut. Lebih dari 1,2 juta balasan mengecam senator itu dalam waktu 6 jam pertama, menjadikan tagar #AmarillaRacista sebagai trending topic dunia dengan 3,4 juta cuitan.
Gelombang kecaman datang dari berbagai penjuru. Kylian Mbappé sendiri merespons dengan elegan lewat unggahan Instagram: “Airmata ibu saya dari Aljazair terlalu berharga untuk ditumpahkan oleh kata-kata seorang yang tak paham sejarah.” Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) secara resmi mengirimkan nota protes kepada FIFA dan Kedutaan Besar Paraguay di Paris. Sementara itu, FIFA melalui juru bicaranya menyatakan bahwa mereka “mengecam segala bentuk diskriminasi dan akan mengkaji sanksi terhadap individu yang terbukti melanggar kode etik integritas turnamen,” tanpa menyebut nama Amarilla secara eksplisit.
Analisis: Politisi dan ‘Lelucon’ yang Merusak Diplomasi
Kasus ini bukan sekadar blunder individu seorang senator yang kurang paham etika berkomunikasi di ranah publik. Ia menyiratkan bagaimana batas antara “kritik olahraga” dan “ucapan kebencian” masih sangat cair di kalangan elite politik Amerika Latin. “Pernyataan Amarilla menunjukkan bahwa prasangka rasial kerap kali disamarkan sebagai komentar olahraga yang kasual. Ini adalah bentuk rasisme yang paling licik karena pelaku selalu bersembunyi di balik dalih ‘hanya bercanda’ atau ‘tidak bermaksud menyinggung’,” ujar Dr. Renata Suárez, antropolog dari Universitas Nacional de Asunción yang meneliti wacana publik di Paraguay.
Dampak politik pun langsung terasa. Kedutaan Besar Prancis di Asunción menunda acara pekan budaya yang telah dijadwalkan, sementara Kementerian Luar Negeri Paraguay harus bekerja keras meredam ketegangan dengan menyebut pernyataan Amarilla sebagai “pandangan pribadi yang tidak mencerminkan sikap pemerintah.” Di sisi lain, dukungan terhadap Amarilla juga muncul dari sejumlah kecil pendukung garis keras yang menganggap reaksi dunia terlalu berlebihan. “Ini adalah pertarungan antara Paraguay yang konservatif dan tuntutan standar global tentang non-diskriminasi,” tambah Suárez.
Perbandingan Insiden Rasisme di Panggung Sepak Bola Dunia
| Tahun | Pelaku | Korban/Sasaran | Konsekuensi |
|---|---|---|---|
| 2023 | Suporter Valencia CF | Vinícius Jr. (Real Madrid) | Denda €45.000, larangan stadion seumur hidup untuk 3 pelaku |
| 2021 | Suporter timnas Hungaria | Raheem Sterling (Inggris) | FIFA menjatuhkan denda CHF 200.000 dan larangan bertanding satu laga |
| 2019 | Suporter Italia | Moise Kean (Italia) | Tidak ada sanksi formal, hanya kecaman publik |
| 2026 | Senator Celeste Amarilla (Paraguay) | Kylian Mbappé (Prancis) | Dalam proses kajian FIFA; petisi pemakzulan senator oleh 500.000+ warga Paraguay |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa sanksi selama ini lebih sering menyasar suporter di dalam stadion, sedangkan figur publik di luar gelanggang sepak bola kerap lolos tanpa hukuman berarti. Kasus Amarilla menjadi ujian pertama bagi FIFA di era baru Piala Dunia 2026, apakah mereka akan memperluas yurisdiksi sanksi hingga ke ranah komentar politik yang berdampak langsung pada atmosfer turnamen.
Sementara itu, petisi di platform Change.org yang mendesak pencopotan Amarilla dari Senat telah mengumpulkan lebih dari 520.000 tanda tangan dalam 3 hari. Inisiatif tersebut digerakkan oleh koalisi organisasi hak sipil Afrika-Paraguay yang selama ini bersuara lantang tentang diskriminasi struktural terhadap komunitas Afro-descendant di negara itu. “Peristiwa ini adalah cermin yang harus kita tatap bersama. Rasisme di Paraguay nyata, dan kali ini ia muncul dari mulut seorang pembuat undang-undang,” demikian tertulis dalam deskripsi petisi.
Di penghujung kontroversi, satu hal yang pasti: insiden ini telah merenggangkan jarak antara Paraguay dan Prancis, mengalihkan fokus dari panggung sepak bola ke panggung politik, dan sekali lagi membuktikan bahwa kata-kata seorang tokoh publik bisa menjadi bola salju yang melukai jauh melampaui 140 karakter di layar ponsel.
Comments (0)