Harga Minyak Dunia Ambruk ke Titik Terendah Sejak Maret, Brent dan WTI Kompak Merosot

Pasar energi global kembali diguncang tekanan jual masif. Harga minyak mentah dunia ambruk sekitar 5% pada perdagangan Selasa, menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. Anjloknya harga ini

Jul 08, 2026 - 00:50
0 0
Harga Minyak Dunia Ambruk ke Titik Terendah Sejak Maret, Brent dan WTI Kompak Merosot

Pasar energi global kembali diguncang tekanan jual masif. Harga minyak mentah dunia ambruk sekitar 5% pada perdagangan Selasa, menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. Anjloknya harga ini dipicu oleh tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sekaligus membuka blokade di Selat Hormuz. Dengan terbukanya jalur vital tersebut, Iran bisa kembali mengalirkan minyaknya ke pasar internasional, menambah pasokan yang selama ini tertahan akibat konflik bersenjata.

Latar Belakang: Dari Perang ke Perdamaian

Ketegangan AS-Iran memuncak pada akhir Februari ketika serangan militer meletus, membuat Selat Hormuz—jalur pelayaran yang dilewati sekitar seperlima perdagangan minyak global—ditutup. Sebelum perang, harga minyak acuan Brent ditutup di US$72,48 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$67,02 per barel. Konflik langsung melambungkan harga karena pasokan Iran yang signifikan tersendat.

Namun, babak baru dimulai dengan adanya perundingan damai. Data yang dihimpun Terdepan.id menunjukkan bahwa begitu kesepakatan diumumkan dan jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz pulih, sentimen pasar berubah drastis. Para pedagang dan investor kini memperhitungkan kembali masuknya sekitar 1,5 hingga 2 juta barel per hari minyak Iran ke pasar, yang selama ini absen atau terbatas melalui jalur gelap.

Detail Penurunan Harga

Minyak mentah Brent, acuan global, merosot US$4,21 atau 5,1% ke posisi US$78,96 per barel. Sementara WTI, patokan AS, terpangkas lebih tajam, turun US$4,70 atau 5,8% menjadi US$76,05 per barel. Penutupan ini menjadikan Brent berada di titik terendah sejak 2 Maret, sedangkan WTI tercatat sebagai level paling rendah sejak 4 Maret. Tekanan jual terjadi hampir tanpa jeda sepanjang sesi, menandakan bahwa pelaku pasar menilai kesepakatan ini sebagai katalis bullish bagi ketersediaan pasokan, yang tentu membebani harga.

“Dengan terbukanya Selat Hormuz dan normalisasi ekspor Iran, premi risiko geopolitik yang sempat membengkak hingga belasan dolar per barel langsung menguap. Harga kini justru mencari keseimbangan yang lebih rendah karena kekhawatiran berubah dari kelangkaan menjadi potensi kelebihan pasokan,” ujar seorang analis energi yang diwawancarai Terdepan.id.

Dampak bagi Pasar dan Konsumen

Penurunan tajam ini memberikan sinyal positif bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, karena berpotensi menekan harga bahan bakar di tingkat konsumen serta mengurangi beban subsidi energi. Namun di sisi lain, negara-negara pengekspor dan perusahaan migas harus bersiap menghadapi revisi pendapatan. Beberapa analis bahkan memperkirakan Brent berpeluang menguji level US$70 per barel dalam beberapa pekan mendatang bila ekspor Iran benar-benar kembali normal tanpa hambatan berarti.

Walau harga sudah merosot, jika dibandingkan dengan posisi sebelum perang (Brent US$72,48 dan WTI US$67,02), saat ini levelnya masih lebih tinggi. Artinya, masih ada ruang koreksi lebih lanjut bila tidak ada gangguan baru di Timur Tengah atau faktor permintaan global yang mengejutkan. Pasar akan mencermati realisasi ekspor Iran serta konsistensi gencatan senjata sebagai penentu arah harga selanjutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter Fintech. Reporter fintech dan pembayaran digital.

Comments (0)

User