Dolar AS Kian Menekan, Rupiah Terombang-ambing di Ambang Rp 18.000
Jakarta - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan signifikan pada awal pekan ini. Berdasarkan pantauan Terdepan.id, dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan dominasinya dan semakin
Jakarta - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan signifikan pada awal pekan ini. Berdasarkan pantauan Terdepan.id, dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan dominasinya dan semakin mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.
Data yang dihimpun dari terminal Bloomberg pada Senin (6/7/2026) pukul 10.16 WIB menunjukkan, kurs dolar AS terpantau menguat 30 poin atau setara 0,17% ke posisi Rp 17.993. Angka ini hanya berjarak 7 poin dari batas kritis Rp 18.000 yang menjadi kekhawatiran pelaku pasar. Penguatan mata uang Paman Sam ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi dan sentimen risk-off yang mendorong investor beralih ke aset safe haven.
Posisi rupiah yang terus merosot dalam beberapa sesi perdagangan terakhir dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve, yang masih agresif dalam meredam inflasi membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tetap menarik. Aliran modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, turut memperparah pelemahan nilai tukar rupiah.
"Tekanan terhadap rupiah hari ini mencerminkan kehati-hatian investor menanti rilis data tenaga kerja AS yang dapat mempengaruhi arah kebijakan moneter The Fed ke depannya," ujar analis pasar keuangan yang dihubungi Terdepan.id.
Sementara itu, dari dalam negeri, pelaku pasar sedang mencermati perkembangan transaksi berjalan dan laju inflasi domestik. Meskipun Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menerapkan kebijakan triple intervention untuk menjaga stabilitas rupiah, tekanan terhadap mata uang Garuda ini belum sepenuhnya mereda.
Mendekatinya nilai tukar rupiah ke level Rp 18.000 per dolar AS menjadi sinyal waspada bagi otoritas moneter, karena dapat berdampak langsung pada harga barang impor, terutama bahan baku dan energi, yang pada akhirnya berpotensi memicu tekanan inflasi lanjutan di dalam negeri. Para pengamat memperkirakan, volatilitas tinggi masih akan berlanjut setidaknya hingga ada kepastian yang lebih jelas terkait suku bunga global dan kondisi makroekonomi Indonesia.
Comments (0)