Dari Jeruji ke Pelukan Hidayah: Perjalanan Tobat Rahmat di Nusakambangan
Cilacap - Di balik tembok tinggi dan stigma kelam Pulau Nusakambangan, secercah kisah penuh haru datang dari seorang warga binaan pemasyarakatan (WBP). Rahmat Hidayat, pria berusia 32 tahun yang teng
Cilacap - Di balik tembok tinggi dan stigma kelam Pulau Nusakambangan, secercah kisah penuh haru datang dari seorang warga binaan pemasyarakatan (WBP). Rahmat Hidayat, pria berusia 32 tahun yang tengah menjalani masa pidana, membagikan pengalaman spiritualnya yang mendalam selama bekerja di program ketahanan pangan tambak udang di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Jawa Tengah. Ia mengaku bahwa keputusan pemindahannya ke pulau yang dikenal sebagai benteng para narapidana kelas berat itu justru menjadi pintu gerbang datangnya hidayah.
Rahmat, seorang ayah dari dua orang anak, harus mendekam di balik jeruji besi sejak 2,5 tahun lalu akibat terjerat kasus penyalahgunaan narkotika. Berdasarkan laporan yang dihimpun Terdepan.id, perjalanan hidupnya berubah drastis ketika ia dipindahkan dari Lapas Bentiring, Bengkulu, menuju Lapas Nusakambangan. Meski alat pemantau masih terpasang di kakinya, semangat Rahmat tidak surut untuk menjalani hari-hari yang lebih bermakna.
Takjub dan Takut yang Berubah Jadi Cinta
Dalam sesi perbincangan bersama tim Terdepan.id, Rahmat mengenang betul perasaan campur aduk saat pertama kali tapak kakinya menyentuh tanah Nusakambangan. Rasa takut dan gentar menyelimuti hatinya, mengingat reputasi pulau tersebut sebagai tempat penghukuman dengan disiplin tinggi. Namun, kegelisahan itu perlahan sirna tergantikan oleh ketenangan batin yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Dulu waktu awal dipindahin ke sini, saya takut. Pulau ini kan dikenal angker dan aturannya keras. Tapi ternyata di sini saya malah dapat banyak pelajaran hidup. Teman-teman di sini mengajari saya mengaji, tadarus Al-Quran setiap hari. Saya yang tadinya buta huruf hijaiyah, sekarang perlahan sudah mulai lancar membaca," ujar Rahmat dengan mata berbinar.
Program pembinaan yang dijalaninya tidak terbatas pada pendalaman spiritual. Setiap harinya, Rahmat turut serta dalam kegiatan kemandirian dengan mengelola tambak udang sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional. Ia mengaku kegiatan bekerja di tambak udang menjadi terapi tersendiri yang mengasah kesabaran dan rasa syukurnya kepada kehidupan.
"Kalau di luar dulu, hidup saya gelap. Di Nusakambangan justru saya menemukan cahaya. Bekerja di tambak udang ini mengingatkan saya pada rezeki yang halal. Ingin rasanya nanti kalau sudah bebas, saya bisa buka usaha tambak sendiri dan hidup lebih baik bersama anak-anak saya," tambahnya.
Kisah Rahmat menjadi bukti bahwa sistem pemasyarakatan yang humanis mampu mengubah mindset para pelaku kejahatan. Petugas Lapas Nusakambangan terus berupaya memastikan bahwa setiap WBP tidak hanya sekadar menjalani hukuman, tetapi benar-benar siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang bertobat dan produktif. Momen di Nusakambangan bukanlah akhir dari segalanya bagi Rahmat, melainkan awal kelahiran kembali sebagai manusia yang lebih dekat pada nilai-nilai ilahi.
Comments (0)