Bos Baru Bank Sentral AS Tahan Suku Bunga

TERDEPAN.ID, Jakarta – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, secara mengejutkan mempertahankan suku bunga acuannya dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru. Ke

Jul 08, 2026 - 00:47
0 0
Bos Baru Bank Sentral AS Tahan Suku Bunga

TERDEPAN.ID, Jakarta – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, secara mengejutkan mempertahankan suku bunga acuannya dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru. Keputusan ini sekaligus menjadi yang pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, yang belum lama ini resmi menjabat sebagai orang nomor satu di institusi moneter paling berpengaruh di dunia itu.

Menurut laporan yang dipantau Terdepan.id dari berbagai sumber internasional, Kamis (18/6/2026), FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pinjaman dalam kisaran 3,5% hingga 3,75%. Kebijakan tersebut langsung menghapus ekspektasi pasar yang sebelumnya optimistis akan adanya pemotongan suku bunga pada tahun ini. Bahkan, sejumlah pejabat The Fed mengisyaratkan bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga justru semakin terbuka ke depan.

Keputusan Pertama Warsh yang Mengejutkan

Kevin Warsh, yang ditunjuk langsung oleh Presiden Donald Trump untuk memimpin The Fed, dikenal sebagai figur konservatif dengan pandangan hawkish terhadap inflasi. Rapat FOMC kali ini menjadi ujian pertama bagi Warsh untuk menunjukkan arah kebijakan moneter AS di tengah dinamika ekonomi global yang masih diselimuti ketidakpastian. Sebelumnya, mayoritas analis dan pelaku pasar memperkirakan akan ada sinyal pelonggaran suku bunga sejalan dengan meredanya inflasi pasca-krisis.

Namun, hasil rapat justru menunjukkan sebaliknya. Para pejabat The Fed tampak bersikeras menjaga sikap ketat untuk memastikan inflasi benar-benar kembali ke target 2% secara berkelanjutan. “Komite menilai bahwa tekanan inflasi masih memerlukan kewaspadaan tinggi,” demikian petikan pernyataan resmi FOMC yang dikutip Terdepan.id.

“Kita belum bisa menyatakan kemenangan atas inflasi. Pasar tenaga kerja yang kuat dan potensi gejolak harga energi memaksa kami untuk bersabar dan tidak terburu-buru menurunkan suku bunga,” ujar Warsh dalam konferensi pers usai rapat.

Dampak Global dan Domestik

Keputusan ini langsung memicu pelemahan nilai tukar di sejumlah mata uang emerging market, termasuk rupiah. Diperkirakan, bank sentral di negara-negara berkembang harus kembali menimbang kebijakan moneter mereka untuk menjaga stabilitas arus modal. Di sisi lain, pasar saham AS justru merespons positif dengan kenaikan tipis karena investor menilai The Fed masih mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan inflasi.

Para analis juga menyoroti bahwa sinyal kenaikan suku bunga ke depan dapat mendorong penguatan dolar AS yang lebih lama, sehingga memperberat beban pinjaman luar negeri dalam denominasi dolar. Bagi Indonesia, kondisi ini menuntut koordinasi fiskal dan moneter yang semakin solid guna meredam dampak rambatan global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Editor Ekonomi Digital. Editor transformasi digital dan ekonomi digital.

Comments (0)

User