Bandung — Proyek Transportasi Massal Dimulai 10 Juli, JPO Dibongkar demi Akses Koridor

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung mengonfirmasi bahwa babak baru modernisasi transportasi publik akan dimulai. Mereka memastikan bahwa pembangunan fi

Jul 09, 2026 - 09:20
0 1

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung mengonfirmasi bahwa babak baru modernisasi transportasi publik akan dimulai. Mereka memastikan bahwa pembangunan fisik jalur Bus Rapid Transit (BRT) akan resmi dimulai pada 10 Juli 2026. Proyek ambisius ini bukan sekadar menuang aspal, melainkan sebuah lompatan besar dalam mengintegrasikan mobilitas perkotaan melalui pembangunan koridor khusus, halte futuristik, serta separator jalan yang akan membentang di arteri utama kota.

Membedah Strategi di Balik Pembongkaran Infrastruktur Lama

Langkah awal yang kini tengah berlangsung mungkin terlihat kontra-intuitif bagi sebagian warga: pembongkaran Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di salah satu titik koridor. Kepala Dishub Kota Bandung, Rasdian Setiadi, menjelaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari kalkulasi teknis yang presisi. Sama seperti kita perlu mengosongkan garasi sebelum memarkir mobil baru, area tersebut harus steril untuk memberikan ruang manuver bagi alat-alat berat dan kendaraan operasional raksasa selama fase konstruksi.

“Rencananya tanggal 10 Juli mulai pembangunan fisik. Kemarin yang baru kita bongkar JPO karena memang diperlukan ruang untuk manuver kendaraan operasional,” ujar Rasdian, Rabu (8/7/2026).

Keputusan ini menandai pergeseran paradigma dari infrastruktur pejalan kaki vertikal menuju integrasi horizontal yang lebih masif. Ke depannya, akses penyeberangan akan didesain ulang agar lebih selaras dengan titik pemberhentian BRT, menciptakan ekosistem transit yang seamless.

Cetak Biru Koridor Sepanjang 21 Kilometer

Proyek ini bukan sekadar membangun satu lajur lurus. Dishub merancang jalur "on koridor" sepanjang 21 kilometer yang akan menjadi tulang punggung transportasi baru Bandung. Rute ini dirancang untuk menembus jantung kota melalui rangkaian jalan vital berikut:

  • Rajawali dan Rawa Jeri
  • Jalan Sudirman hingga Jalan Otto Iskandardinata
  • Jembatan Toha, Jawi Sartika, dan Asia Afrika
  • Naripan, ABC, dan Ahmad Yani
  • Melingkar ke kawasan Kiara Condong dan kembali ke Ahmad Yani

Untuk mendukung operasional, pemerintah tidak hanya membangun halte di koridor utama. Mereka juga menyiapkan "halte off koridor" sebagai titik pengumpan, dengan total puluhan unit yang saat ini masih dalam pendataan final. Sebagai pusat kendali, Depo Leuwipanjang dan Depo Cicaheum akan menjadi garasi raksasa bagi armada, sementara end station sementara di Antapani akan menjadi titik simpul awal sirkulasi penumpang.

Mobilitas Terintegrasi untuk Masa Depan Bandung

Rasdian menegaskan bahwa seluruh pekerjaan infrastruktur ini ditargetkan rampung sepanjang tahun 2026. Pendekatan yang digunakan adalah akselerasi bertahap untuk memastikan tidak ada komponen yang mangkrak sebelum layanan dioperasikan. Jika diibaratkan merakit komputer performa tinggi, semua komponen mulai dari motherboard (koridor), casing (halte), hingga kabel data (rute feeder) harus terpasang sempurna agar sistem dapat di-boot tanpa gangguan.

“Kehadiran sistem transportasi massal juga diharapkan mampu mengurangi kemacetan sekaligus meningkatkan mobilitas warga di berbagai kawasan Kota Bandung,” katanya.

Visi besar dari Pemkot Bandung adalah menghadirkan alternatif transportasi publik yang lebih dari sekadar nyaman dan aman. Sistem BRT ini diharapkan menjadi solusi cerdas yang mengintegrasikan berbagai kawasan, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, dan secara signifikan mengurai simpul kemacetan yang selama ini menjadi momok warga kota.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User