BARANTIN — Gandeng 101 Eksportir Jabar Perluas Akses Pasar Global
KOTA BANDUNG, RADARBANDUNG.ID — Di balik target ekspor nasional yang agresif, Badan Karantina Indonesia (Barantin) menghela napas teknologi: pelayanan kara
KOTA BANDUNG, RADARBANDUNG.ID — Di balik target ekspor nasional yang agresif, Badan Karantina Indonesia (Barantin) menghela napas teknologi: pelayanan karantina kini makin cepat, transparan, akuntabel, dan bebas pungutan liar. Seperti mesin ganda yang baru disetel ulang, Barantin mengajak 101 perusahaan eksportir Jawa Barat dalam sarasehan untuk menyelaraskan ritme birokrasi dengan kebutuhan pasar global.
Rabu Pagi di Kantor Karantina Jabar: Dialog Dua Arah Dimulai
Masih lekat dengan antusiasme pasca-libur, Rabu (8/7/2026), Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, membuka Sarasehan Bersama Eksportir Jawa Barat di Kantor Karantina Jawa Barat. Bukan sekadar seremoni, forum ini dirancang sebagai wadah dialog—pemerintah sebagai enabler, pelaku usaha sebagai mesin penggerak. Dalam lanskap yang terintegrasi, Karding membawa kabar bahwa Barantin bertransformasi: bukan lagi gerbang yang memperlambat, melainkan akselerator yang menjembatani produk Indonesia ke mancanegara.
- Kehadiran: 101 perusahaan eksportir dari berbagai sektor hadir secara langsung, menandakan betapa akselerasi ekspor menjadi napas bersama.
- Pernyataan sikap: “Barantin tidak akan menjadi penghambat. Kami hadir memberikan pendampingan, asistensi, dan pelayanan maksimal agar produk Indonesia semakin mudah diterima di pasar internasional,” ujar Karding, menegaskan pergeseran paradigma lembaga.
- Masukan dunia usaha: Para eksportir diberikan panggung untuk menyampaikan hambatan teknis dan kendala di lapangan, yang langsung ditampung untuk perbaikan layanan.
Empat Pilar Barantin: Dari Biosecurity hingga Market Access
Di atas panggung, Karding memaparkan cetak biru yang cukup ambisius. Seperti sistem operasi yang membutuhkan empat kernel utama, Barantin menjalankan empat pilar untuk mengokohkan posisi Indonesia di rantai pasok global:
- Memperkuat biosecurity nasional — menjaga batas hayati agar komoditas keluar-masuk tetap aman dari ancaman hama dan penyakit.
- Menjaga ketahanan pangan (food security) — memastikan kualitas dan keamanan produk pangan sesuai standar internasional.
- Memperlancar fasilitasi perdagangan (trade facilitation) — memangkas birokrasi dan waktu tunggu melalui protokol yang lebih sederhana tanpa mengorbankan kepatuhan.
- Memperluas akses pasar (market access) — membuka peluang baru dengan memastikan produk Indonesia memenuhi persyaratan negara tujuan ekspor.
Karding mengibaratkan keempat pilar ini sebagai satu paket fondasi agar komoditas Indonesia tak hanya lolos karantina, tetapi juga kompetitif di tengah standar global yang terus mengetat. Strategi ini selaras dengan Asta Cita Presiden, khususnya agenda hilirisasi sumber daya alam dan peningkatan nilai tambah produk nasional.
Upgrade Sistem: Layanan Digital untuk Akselerasi Ekspor
Barantin tak hanya berbicara soal biosecurity; lembaga ini sedang melakukan transformasi fundamental pada arsitektur pelayanannya. Jika dulu karantina identik dengan antrean panjang dan tumpukan dokumen, kini ia bergerak ke arah layanan berbasis digital. Dalam narasi Karding, ada tiga karakter kunci yang disasar: kecepatan, transparansi, dan bebas pungli. Analoginya sederhana: seperti pita lebar (bandwidth) yang diperlebar, aliran komoditas ekspor diharapkan melaju tanpa hambatan, namun tetap dalam koridor pengawasan yang ketat.
“Lebih dari itu, Barantin juga berperan sebagai instrumen ekonomi yang mendukung percepatan pertumbuhan ekspor nasional melalui pelayanan yang adaptif terhadap kebutuhan dunia usaha,” tambah Karding. Kalimat ini menjadi penanda bahwa fungsi Barantin telah bergeser dari sekadar watchdog lalu lintas komoditas menjadi mitra pertumbuhan ekonomi.
Masa Depan: Kolaborasi dan Pemenuhan Standar Internasional
Melalui sarasehan ini, Barantin sedang membangun siklus umpan balik (feedback loop) yang vital. Dengan menyerap aspirasi dari 101 eksportir, institusi ini dapat merancang kebijakan yang lebih kontekstual—tidak lagi berbasis asumsi, tetapi berbasis data dan pengalaman lapangan. Kolaborasi semacam ini diyakini mampu mempercepat laju ekspor nasional sekaligus menjaga kepatuhan terhadap protokol keamanan hayati. Reformasi layanan yang sedang dipercepat, termasuk di ranah digital, adalah kunci untuk membawa produk Indonesia menembus lebih banyak negara tujuan.
Dengan demikian, Barantin tak hanya ingin menjadi lembaga karantina, melainkan jembatan digital dan birokratis yang menghubungkan potensi lokal dengan permintaan global.
Comments (0)