Waduk Guangxi Jebol, 39 Warga Desa Gantang Meninggal
Desa Gantang, Provinsi Guangxi, Cina, kini menjadi lautan lumpur setelah sebuah waduk di wilayah ini jebol pada Kamis dini hari, 9 Juli 2026, menewaskan se
Desa Gantang, Provinsi Guangxi, Cina, kini menjadi lautan lumpur setelah sebuah waduk di wilayah ini jebol pada Kamis dini hari, 9 Juli 2026, menewaskan sedikitnya 39 orang. Air bah bercampur lumpur setinggi tiga meter menerjang permukiman warga saat sebagian besar penduduk masih terlelap. Tragedi ini meninggalkan duka mendalam dan kerugian material yang belum bisa ditaksir.
Kronologi Kejadian
Berdasarkan keterangan otoritas setempat, waduk tersebut mengalami keretakan pada struktur tanggul sekitar pukul 02.30 waktu setempat. Hujan deras yang mengguyur kawasan Guangxi selama sepekan terakhir menyebabkan volume air waduk melampaui kapasitas maksimal. Sekitar pukul 03.00, bagian tanggul utama ambruk, melepaskan lebih dari 1,2 juta meter kubik air dan lumpur ke arah pemukiman di bawahnya.
- 02.30 WIB: Petugas dam menelepon darurat melaporkan retakan.
- 02.45 WIB: Sistem peringatan dini berbunyi, namun banyak warga tidak mendengar karena masih tidur.
- 03.00 WIB: Tanggul jebol, air menghantam Desa Gantang dalam hitungan menit.
- 03.30 WIB: Tim SAR pertama tiba, menyisir reruntuhan rumah yang sebagian besar terbuat dari bata tanah.
Dampak Bencana
39 orang tewas dan 12 lainnya masih dinyatakan hilang per Jumat malam. Sebanyak 87 warga mengalami luka-luka, 15 di antaranya kritis. Lebih dari 200 rumah hancur total atau rusak berat. Lumpur tebal setinggi satu hingga dua meter menutupi jalan, ladang, dan fasilitas umum, mempersulit akses bantuan.
Kesaksian Warga
"Saya mendengar suara gemuruh seperti gempa, lalu air datang begitu cepat. Saya dan keluarga langsung lari ke bukit tanpa membawa apa-apa. Semua ternak dan rumah saya hilang," tutur Zhang Wei (45), warga yang selamat, dengan mata sembab saat diwawancarai di posko pengungsian.
Liu Xia, seorang ibu dua anak, menangis saat menceritakan bagaimana ia kehilangan suaminya yang tertimbun lumpur. "Dia mendorong anak-anak keluar jendela, lalu rumah ambruk. Jenazahnya baru ditemukan tadi pagi," katanya. Banyak warga mengaku trauma dan menolak kembali ke desa yang kini berubah menjadi kubangan lumpur hitam.
Respon Pemerintah dan Bantuan
Pemerintah pusat di Beijing langsung mengirimkan tim bencana nasional ke lokasi. Menteri Manajemen Darurat Wang Xiang merilis anggaran darurat senilai 50 juta yuan (sekitar Rp109 miliar) untuk penanganan darurat, logistik, dan relokasi sementara. Tenda-tenda darurat, selimut, air bersih, dan makanan didistribusikan melalui jalur udara karena akses darat terputus.
Gubernur Guangxi menyatakan akan membentuk komisi investigasi independen untuk menyelidiki kemungkinan kelalaian dalam pengelolaan waduk yang dibangun tahun 1997 itu. "Kami akan memastikan ada pertanggungjawaban, termasuk mengaudit prosedur pemeliharaan dam," ujarnya.
Ancaman Banjir Susulan
Badan Meteorologi setempat memperingatkan potensi hujan lebat masih berlanjut hingga akhir pekan. Warga di tiga desa lain di sekitar daerah aliran sungai yang sama telah dievakuasi secara preventif. Ahli hidrologi menyebut kejadian ini sebagai salah satu kegagalan dam paling mematikan di Cina selatan dalam satu dekade terakhir.
Kini, ratusan relawan dan personel militer terus melakukan pencarian korban hilang di antara puing dan lumpur. Suasana Desa Gantang hanya diisi suara tangis keluarga korban dan deru alat berat yang mengeruk lumpur. Masyarakat berharap keadilan dan perbaikan infrastruktur agar tragedi serupa tidak terulang.
[SOCIAL_TWEET]: Tangis duka selimuti Desa Gantang, Guangxi, setelah waduk jebol dan merenggut 39 nyawa. Lumpur tebal masih menutupi puing rumah dan harapan warga. #BencanaGuangxi #WadukJebol #BreakingNews [SOCIAL_TG]: 🆘 Tragedi di Guangxi: Waduk jebol dini hari, 39 orang tewas, puluhan lainnya hilang. Warga Desa Gantang hanya bisa menangis di antara lumpur dan reruntuhan.
Comments (0)