Vietnam Gerebek Sindikat Taruhan Piala Dunia, Transaksinya Rp 2,3 Triliun
Kepolisian Vietnam berhasil menggulung dua sindikat judi daring berskala masif yang beroperasi selama perhelatan Piala Dunia 2026. Dalam operasi besar yang diumumkan pada Selasa (7/7/2026), sebanyak
Kepolisian Vietnam berhasil menggulung dua sindikat judi daring berskala masif yang beroperasi selama perhelatan Piala Dunia 2026. Dalam operasi besar yang diumumkan pada Selasa (7/7/2026), sebanyak 85 tersangka diringkus. Total perputaran uang dari kedua jaringan tersebut ditaksir mencapai US$133 juta, atau setara dengan Rp2,3 triliun (kurs Rp17.300 per dolar AS), menjadikannya salah satu kasus perjudian terbesar yang pernah diungkap di negara itu.
Menurut laporan yang diterima Terdepan.id, pengungkapan ini menandai eskalasi baru dalam perang melawan judi ilegal di Vietnam. Meskipun pemerintah komunis melarang keras seluruh bentuk perjudian daring bagi warganya, praktik tersebut tetap marak—terutama saat ajang olahraga internasional seperti Piala Dunia memicu lonjakan permintaan. Pihak berwenang terpaksa melakukan razia rutin untuk membendung sindikat yang semakin lihai menyamarkan kegiatan mereka di balik infrastruktur digital lintas batas.
Operasi Besar di Dua Kota Utama
Penangkapan dilakukan serentak di Hanoi dan Ho Chi Minh City, dua pusat ekonomi yang menjadi basis utama para pelaku. Satuan siber dan intelijen kepolisian Vietnam telah menyelidiki jaringan ini selama berbulan-bulan sebelum akhirnya melakukan penggerebekan. Barang bukti yang diamankan meliputi ratusan perangkat elektronik, dokumen keuangan, serta sejumlah besar uang tunai dalam berbagai mata uang.
"Kami telah menangkap 85 individu yang diduga sebagai bandar, operator, dan penggerak utama dua jaringan judi terbesar yang pernah kami ungkap. Nilai transaksinya sangat fantastis, mencapai puluhan juta dolar hanya dalam hitungan pekan. Ini menjadi bukti bahwa penegakan hukum harus semakin keras dan cerdas," ujar seorang perwira senior kepolisian Vietnam yang identitasnya tidak disebutkan, saat dikonfirmasi oleh Terdepan.id.
Modus operandi sindikat ini tergolong canggih. Mereka merekrut agen-agen lokal yang bertugas mencari pemain dan mengelola taruhan melalui aplikasi pesan instan terenkripsi. Server dan pusat kendali ditempatkan di luar negeri, sementara transaksi keuangan dilakukan dengan memanfaatkan mata uang kripto dan dompet elektronik anonim untuk menghindari pelacakan otoritas. Cara ini membuat penyelidikan berjalan rumit dan membutuhkan kerja sama lintas lembaga, termasuk satuan pemberantasan pencucian uang.
Di Vietnam, hanya kasino tertentu yang diizinkan beroperasi dan itu pun terbatas bagi warga asing. Namun, pesatnya penetrasi internet dan layanan mobile memberi celah bagi bandar untuk mengakses segmen pasar domestik yang besar. Pemerintah setempat telah berulang kali memperingatkan bahwa judi daring bukan hanya merusak tatanan sosial, tetapi juga menjadi saluran empuk bagi pencucian uang dan pendanaan kejahatan lainnya. Operasi terbaru ini menjadi bagian dari kampanye nasional yang digencarkan sejak awal 2026 untuk memberantas kejahatan siber, sekaligus mengirimkan pesan tegas bahwa tidak ada ruang aman bagi para pelaku.
Comments (0)