UMKM Makanan hingga Madu Lokal Didorong Masuk Pasar Dunia

Sebanyak 10 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terpilih untuk mendapatkan pendampingan intensif pengembangan usaha dan akses pasar internasional melalui Program Pertapreneur Aggregator (PAG) 202

Jul 08, 2026 - 06:24
0 0
UMKM Makanan hingga Madu Lokal Didorong Masuk Pasar Dunia

Sebanyak 10 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terpilih untuk mendapatkan pendampingan intensif pengembangan usaha dan akses pasar internasional melalui Program Pertapreneur Aggregator (PAG) 2025-2026. Mereka merupakan hasil seleksi ketat dari 100 UMKM terbaik yang sebelumnya berhasil menembus tahap nasional UMK Academy 2025, sebuah ajang tahunan yang tahun ini diikuti 730 peserta dari seluruh Indonesia.

Pertapreneur Aggregator bukan sekadar program pendampingan biasa. Inisiatif ini dirancang untuk melahirkan agregator, yaitu pelaku usaha yang mampu menjadi penggerak ekosistem UMKM di daerahnya. Peran mereka tidak hanya membuka akses pasar yang lebih luas, tetapi juga membangun kolaborasi strategis dan memberdayakan UMKM lain di sekitar mereka. Dengan konsep ini, program berharap dampak yang dihasilkan bersifat berlipat ganda, tidak hanya berhenti pada satu unit usaha.

Proses seleksi yang dijalani para peserta terbilang panjang dan komprehensif. Diawali dengan screening administrasi, mereka kemudian menjalani wawancara mendalam (deep dive interview), mengikuti bootcamp pembekalan, menerima mentoring langsung dari para ahli, hingga menjalani akselerasi bisnis. Tidak berhenti di situ, tim penilai juga melakukan visitasi lapangan untuk melihat langsung kondisi usaha, serta memonitor pencapaian Objective Key Results (OKR) setiap peserta. Puncaknya, seluruh tahapan itu bermuara pada upaya membuka akses pasar global bagi produk-produk yang dinilai paling siap bersaing.

Dari seluruh rangkaian proses tersebut, terpilihlah 10 UMKM dengan skor penilaian tertinggi dari sisi kapasitas bisnis, dampak sosial-ekonomi, dan potensi pengembangan usaha. Produk yang diusung pun beragam, tetapi dua sektor yang menonjol dan didorong untuk menembus pasar ekspor adalah makanan olahan dan madu lokal. Produk makanan seperti keripik, sambal, atau camilan tradisional dengan kemasan modern menjadi salah satu andalan, sementara madu asli dari berbagai daerah seperti hutan Sumbawa, Kalimantan, dan Sumatera juga dianggap memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional berkat keaslian dan kualitasnya.

“Kami mendampingi UMKM untuk menjadi agregator yang mampu membuka mata rantai pasar, bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk pelaku usaha lain. Madu lokal misalnya, potensinya luar biasa jika dikemas dengan standar ekspor,” ujar salah satu perwakilan penyelenggara program dalam keterangannya kepada Terdepan.id.

Program PAG diharapkan mampu menjawab tantangan klasik yang dihadapi UMKM Indonesia selama ini, yaitu keterbatasan akses ke pasar global akibat minimnya pengetahuan tentang regulasi ekspor, standar mutu internasional, serta strategi pemasaran digital lintas negara. Melalui pendampingan berkelanjutan hingga tahun 2026, kesepuluh UMKM ini akan dibekali kemampuan untuk membangun jejaring distribusi, meningkatkan kapasitas produksi yang berorientasi ekspor, dan menciptakan merek yang kompetitif di kancah global.

Dengan terpilihnya 10 agregator baru ini, diharapkan muncul simpul-simpul ekonomi baru di berbagai daerah yang mampu mengerek produk lokal naik kelas dan menembus pasar dunia, sejalan dengan semangat program untuk memperkuat fondasi UMKM Indonesia sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Bisnis. Editor isu korporasi, M&A, dan sektor riil.

Comments (0)

User