Trump Kecam Serangan Iran ke Kapal Singapura di Selat Hormuz: Pelanggaran Bodoh!
Washington D.C. — Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kecaman keras menyusul serangan drone Iran yang menghantam kapal berbendera Singapura di perairan strategis Selat Hormuz. Insiden
Washington D.C. — Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kecaman keras menyusul serangan drone Iran yang menghantam kapal berbendera Singapura di perairan strategis Selat Hormuz. Insiden yang terjadi pada hari Jumat (26/6) waktu setempat itu memicu kembali ketegangan di jalur perdagangan minyak terpenting dunia, hanya beberapa hari setelah gencatan senjata yang rapuh berhasil dinegosiasikan.
Dalam unggahan di akun Truth Social miliknya, Trump menyebut aksi Iran tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima. Ia menilai serangan itu sebagai bentuk pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan damai yang telah disepakati bersama. “Salah satu drone menghantam telak dek atas sebuah kapal kargo besar yang sangat mahal, sementara tiga drone lainnya ditembak jatuh,” tulis Trump dengan nada geram, seperti dikonfirmasi laporan Terdepan.id, Sabtu (27/6/2026).
"Ini adalah pelanggaran bodoh terhadap perjanjian gencatan senjata. Mereka pikir kami tidak akan bereaksi? Kami akan bertindak sangat tegas," tegas Trump dalam unggahan selanjutnya.
Kronologi dan Dampak Serangan
Menurut laporan awal yang dihimpun Terdepan.id dari sumber keamanan maritim, kapal kargo berbendera Singapura tersebut tengah melintas dari arah Teluk Persia menuju perairan internasional ketika diserang secara tiba-tiba oleh sejumlah drone tak dikenal. Diduga kuat drone tersebut diluncurkan dari wilayah kekuasaan Iran. Serangan ini mengakibatkan kerusakan cukup parah di dek atas, namun beruntung tidak menimbulkan korban jiwa maupun tumpahan minyak yang berarti.
Komandan Armada ke-5 Angkatan Laut AS yang bermarkas di Bahrain langsung mengerahkan kapal perang terdekat untuk memberikan bantuan teknis. Awak kapal yang berjumlah 23 orang, sebagian besar warga negara Filipina dan India, berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Insiden ini menjadi pukulan telak bagi upaya internasional yang baru saja berhasil membuka kembali Selat Hormuz. Data sementara yang diperoleh Terdepan.id menunjukkan, sejak jalur pelayaran itu kembali difungsikan, sebanyak 115 kapal telah melintas dengan aman. Lebih dari 2.500 pelaut sempat dievakuasi dalam proses pembersihan ranjau dan pengamanan rute maritim pasca-konflik. Serangan kali ini berpotensi menghentikan sementara seluruh operasional pelayaran di selat tersebut.
Selat Hormuz dan Ketegangan yang Belum Usai
Selat Hormuz dikenal sebagai titik sempit yang sangat vital, dilewati sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak dunia setiap harinya. Setiap gangguan kecil dapat memicu lonjakan harga energi global yang langsung dirasakan di negara-negara konsumen, termasuk Indonesia. Gencatan senjata yang disepakati pekan lalu sejatinya memberi napas lega bagi industri pelayaran dan pasar minyak global yang sudah terhimpit inflasi.
Pemerintah Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negerinya membantah terlibat langsung dan menyebut insiden itu sebagai “kecelakaan teknis” yang sedang diselidiki. Namun sejumlah analis pertahanan yang dihubungi Terdepan.id meragukan pernyataan tersebut mengingat pola serangan drone yang terkoordinasi mirip dengan taktik Garda Revolusi Iran.
Di samping kecaman dari Washington, Perdana Menteri Singapura juga telah menyampaikan protes resmi melalui saluran diplomatik. Singapura menuntut investigasi transparan dan meminta jaminan keamanan bagi kapal-kapal niaga berbendera negara tersebut yang rutin melintasi Selat Hormuz.
Terlepas dari bantahan Teheran, Donald Trump melalui unggahan akhirnya menegaskan bahwa militer AS telah menaikkan status siaga di kawasan. “Kami tidak akan mentolerir provokasi sekecil apa pun. Ini bukan permainan, ini keamanan global,” tulisnya. Situasi di Selat Hormuz kini memasuki fase paling genting pasca-gencatan senjata dan dunia kembali menahan napas menunggu respons resmi dari Dewan Keamanan PBB.
Comments (0)