Toyota Jepang — Resmi Bentuk Perusahaan Taksi Terbang Listrik
Pertarungan di angkasa kian memanas. Jika selama ini perhatian publik tersedot oleh pameran prototipe mobil terbang dari Tiongkok, kini raksasa otomotif Je
Pertarungan di angkasa kian memanas. Jika selama ini perhatian publik tersedot oleh pameran prototipe mobil terbang dari Tiongkok, kini raksasa otomotif Jepang mengambil langkah konkret yang lebih senyap tapi berdampak sistemik. Toyota Motor Corporation tidak sekadar unjuk konsep, melainkan sedang membangun fondasi rantai pasok massal untuk armada taksi udara bertenaga listrik.
Ibarat menyusun orkestra sebelum konser besar, Toyota memulai dari partitur paling mendasar: pabrikasi. Pada akhir Juni 2026, perusahaan itu mengumumkan berdirinya entitas bisnis baru bernama Joby Toyota Aero Manufacturing Preparation Company, sebuah perusahaan patungan yang berkedudukan di California, Amerika Serikat, bersama mitra strategisnya, Joby Aviation. Ini bukan sekadar perjanjian kolaborasi biasa, melainkan bentuk nyata peralihan dari fase riset menuju industrialisasi.
Joby Aviation sendiri merupakan pionir pesawat electric vertical take-off and landing (eVTOL) — kendaraan yang bisa lepas landas dan mendarat vertikal seperti helikopter, namun senyap dan bebas emisi. Berbeda dengan mobil terbang hibrida yang mengusung sayap lipat, eVTOL dirancang murni untuk mobilitas udara perkotaan jarak pendek-menengah. Sederhananya, bayangkan sebuah drone raksasa yang cukup aman mengangkut manusia.
Fase Awal: Kemitraan dan Suntikan Dana Segar
Hubungan Toyota dan Joby bukan cerita baru. Sejak 2018, Toyota telah memantau perkembangan Joby, dan pada 2020 menjadi investor utama dengan total suntikan dana mencapai sekitar USD 400 juta. Dari angka itu, investasi langsung ke Joby sekitar USD 394 juta, menjadikan Toyota pemegang saham eksternal terbesar. Dana itulah yang kini menjadi bensin untuk mempercepat sertifikasi tipe (type certification) pesawat eVTOL Joby di bawah otoritas penerbangan Amerika (FAA).
- 2018 – 2019: Toyota mulai menjajaki kerja sama dengan Joby Aviation untuk mempelajari teknologi eVTOL.
- Januari 2020: Toyota memimpin putaran pendanaan Seri C Joby senilai USD 590 juta, menyuntikkan dana besar dan mengirimkan insinyur Toyota untuk membantu proses manufaktur.
- 2021 – 2025: Joby menyelesaikan ribuan jam uji terbang, termasuk mendemonstrasikan kemampuan terbang sejauh 248 km dalam sekali pengisian baterai menggunakan prototipe pra-produksi.
- Juni 2026: Toyota dan Joby secara resmi mendirikan perusahaan patungan Joby Toyota Aero Manufacturing Preparation Company di California.
Pengumuman Juni 2026: Pabrikasi Skala Raksasa Bersiap
Perusahaan patungan baru ini memiliki tugas spesifik: mempersiapkan seluruh lini produksi komersial besar-besaran. Ini mencakup perencanaan tata letak pabrik, rantai pasok material ringan seperti komposit serat karbon, hingga pelatihan tenaga kerja. Dengan pengalaman Toyota dalam Toyota Production System — metodologi efisiensi legendaris yang meminimalkan limbah dan memaksimalkan presisi — mereka bertekad menjadikan pembuatan eVTOL seefisien produksi mobil massal.
Jika dianalogikan, Toyota selama ini adalah ahli bedah jalur perakitan, sementara Joby adalah dokter spesialis desain aeronautika. Keduanya merancang "rumah sakit terbang" pertama di dunia untuk memproduksi eVTOL dengan target awal ribuan unit per tahun. Ini akan langsung menghantam dominasi narasi pabrikan China yang masih berkutat pada demonstrasi singkat atau pesanan terbatas.
Mengapa eVTOL, Bukan Mobil Terbang Konvensional?
Banyak pihak menyamaratakan istilah mobil terbang, namun eVTOL memiliki arsitektur berbeda. Mobil terbang umumnya mengambil basis kendaraan darat dengan tambahan sayap dan baling-baling lipat. eVTOL, di sisi lain, adalah pesawat murni yang menggunakan multi-rotor dan motor listrik untuk lepas landas vertikal. Keunggulannya meliputi:
- Kebisingan rendah: Saat lepas landas, Joby S4 hanya menghasilkan 65 desibel (A) pada ketinggian 500 meter, setara suara percakapan normal.
- Emisi nol: Operasional sepenuhnya menggunakan baterai lithium-ion modular yang dirancang cepat isi ulang.
- Keamanan berlapis: Mesin ganda, sistem cadangan, dan parasut balistik pada beberapa desain siap diintegrasikan.
Untuk pasar Indonesia, wacana taksi terbang sebetulnya bukan cuma mimpi. Sebelum pandemi, EHang asal Tiongkok pernah sukses mendemonstrasikan penerbangan otonom EHang 216 di Bali. Namun adopsi massal masih terhambat oleh regulasi, infrastruktur vertiport, dan yang terutama: skala produksi ekonomis. Di sinilah taktik Toyota akan diuji — dapatkah raksasa Jepang ini mengulangi keajaiban efisiensi yang dulu mendisrupsi industri otomotif global ke langit?
Kini mata dunia tertuju ke California. Entitas baru Joby Toyota itu kemungkinan akan mulai mengoperasikan pabrik percontohan dalam dua tahun ke depan, sejalan dengan harapan Joby memulai layanan komersial terbatas pada 2028. Dengan modal pengalaman dan kapasitas finansial Toyota, era mobilitas udara inklusif bisa tiba lebih cepat dari jadwal.
Comments (0)