Terkuak! Ini Raksasa Otomotif Jepang yang Mau Cabut dari RI, tapi Bisa Dicegah
Jakarta - Upaya mempertahankan investasi sektor otomotif di Tanah Air membuahkan hasil positif. Dua perusahaan komponen otomotif raksasa asal Jepang yang sebelumnya dikabarkan akan merelokasi sebag
Jakarta - Upaya mempertahankan investasi sektor otomotif di Tanah Air membuahkan hasil positif. Dua perusahaan komponen otomotif raksasa asal Jepang yang sebelumnya dikabarkan akan merelokasi sebagian besar produksinya ke Vietnam, akhirnya membatalkan rencana besar-besaran tersebut. Kepastian ini terungkap setelah terjalin komunikasi intensif antara pihak manajemen dan perwakilan pekerja.
Informasi ini disampaikan oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang juga menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal. Dalam keterangannya, ia mengidentifikasi dua entitas bisnis yang dimaksud adalah PT JAI yang berlokasi di Pasuruan dan PT SAI di Mojokerto. Keduanya merupakan bagian dari Grup Yazaki, sebuah perusahaan global terkemuka yang memasok sistem kelistrikan dan komponen kendaraan bagi berbagai merek otomotif dunia.
Berdasarkan laporan yang dihimpun Terdepan.id, awalnya manajemen kedua pabrik tersebut memiliki rencana ambisius untuk memindahkan sekitar 50 persen lini produksi mereka ke Vietnam. Langkah efisiensi dan penyesuaian rantai pasok global itu dinilai akan berdampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal di Jawa Timur. Namun, sebelum rencana itu benar-benar dieksekusi, dialog tripartit antara serikat pekerja dan manajemen perusahaan berhasil menemukan titik temu.
"Yang rencananya besar-besaran, hanya 50% enggak jadi. Hanya 3 sampai 5 line saja, line produksi yang dipindahkan ke Vietnam," ujar Said Iqbal dalam konferensi pers yang secara daring, Minggu (28/6/2026).
Dengan demikian, skala relokasi berhasil ditekan secara drastis. Dari yang semula mengancam separuh kapasitas produksi, kini hanya tiga hingga lima lini produksi spesifik yang jadi dialihkan. Keberhasilan ini disebut sebagai buah dari dialog sosial yang konstruktif, di mana suara pekerja didengar dan manajemen mempertimbangkan kembali dampak sosial-ekonominya terhadap ekosistem industri dalam negeri.
Langkah ini menjadi sinyal positif di tengah tantangan global yang kerap menggoda perusahaan multinasional untuk merelokasi basis produksinya ke negara dengan biaya operasional yang lebih rendah. Tertahannya rencana eksodus besar-besaran dari Grup Yazaki menunjukkan bahwa kebijakan ketenagakerjaan yang kolaboratif mampu menjadi tameng efektif dalam menjaga iklim investasi dan melindungi lapangan kerja strategis di Indonesia.
Comments (0)