Sampit — Kebakaran Lahan 3 Hektare Ancam Bandara Haji Asan
SAMPIT — Senja di lingkar utara kota seharusnya menghadirkan langit jingga yang tenang, bukan dinding kelabu yang menyesakkan. Namun, sejak Selasa sore, wa
Petugas pemadam dari Manggala Agni, BPBD Kotawaringin Timur, dan relawan desa berjibaku sejak pukul 15.30 WIB. Mereka harus bertarung melawan angin tenggara yang konsisten membawa bara dan asap tepat ke arah runway. “Kami sudah mengerahkan tiga unit tangki dan dua helikopter patroli, tapi medan gambut tipis di sini membuat api mudah merambat vertikal ke akar-akaran,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, saat meninjau lokasi. Hingga malam hari, area yang berhasil dipadamkan baru 60 persen, sementara sisanya masih menyisakan titik panas yang berpotensi kembali membesar jika angin berubah arah. Citra satelit MODIS dan VIIRS yang dipantau BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan memperlihatkan sebaran hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada koordinat 2°30’ LS dan 112°57’ BT, persis di samping kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP) bandara.
Api di Lahan Gambut, Bukan Sekadar Pembukaan Lahan
Berdasarkan hasil investigasi awal tim terpadu, kebakaran kali ini diduga kuat bukan berasal dari praktik tebang-bakar musiman. Lahan tiga hektare itu merupakan tanah terlantar yang ditumbuhi pakis dan rumput gelagah, dengan lapisan gambut dangkal kurang dari 50 sentimeter. Namun, justru gambut dangkal itulah yang menjadi duri dalam daging. Saat permukaan mengering akibat kemarau panjang yang melanda Kalimantan Tengah sejak awal Agustus, bara api sekecil apa pun bisa merembet ke lapisan bawah dan membentuk api bawah tanah yang sulit dijangkau air. “Kami kehabisan stok foam khusus untuk pembasahan gambut, jadi terpaksa mengandalkan penyekatan manual dengan cangkul dan pompa air bertekanan rendah,” jelas komandan regu pemadam di lokasi. Situasi ini diperparah oleh ketiadaan sekat kanal di sekitar lahan, sehingga air tanah gambut terus menyusut dan meninggalkan rongga-rongga kering yang menjadi jalur api.
“Kalau api sudah masuk ke gambut, kami tidak bisa sekadar menyiram permukaan. Harus injeksi air ke kedalaman 30–40 cm. Sementara peralatan kami belum semua mendukung teknik itu.”
— Komandan Regu Pemadam, Pos Manggala Agni Sampit
Bandara dalam Kepungan: Jarak Pandang dan Keselamatan Penerbangan
Bandara Haji Asan melayani rata-rata 16 pergerakan pesawat per hari, mayoritas penerbangan perintis dan komersial ke Surabaya, Jakarta, serta Balikpapan. Begitu kepulan asap memasuki jalur glide path, otoritas bandara langsung berkoordinasi dengan AirNav Indonesia untuk mengeluarkan Notice to Airmen (NOTAM) sementara. Jarak pandang minimum untuk pendaratan visual di Bandara Haji Asan adalah 1.600 meter. Pada pukul 17.00 WIB, visibility drop menyentuh angka 1.800 meter, hanya berselisih tipis dari ambang batas. Pesawat Wings Air yang dijadwalkan mendarat pukul 17.25 terpaksa holding di atas Selat Makassar selama 22 menit sebelum akhirnya diberi izin mendarat dengan bantuan panduan instrumen. Teknologi Instrument Landing System (ILS) memang masih berfungsi normal, tetapi pilot tetap perlu konfirmasi visual pada ketinggian keputusan 200 kaki.
Jika kebakaran meluas dan asap bertahan hingga pagi, bukan tidak mungkin jadwal penerbangan pagi dibatalkan atau dialihkan ke Palangkaraya. Hal ini akan memukul mobilitas pekerja tambang, pejabat daerah, dan distribusi logistik vaksin hewan yang dijadwalkan masuk melalui kargo bandara. Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Haji Asan, dalam keterangannya, menegaskan bahwa timnya sudah menyiapkan prosedur low visibility operation dan akan terus memonitor data AQMS (Air Quality Monitoring System) yang dipasang di perimeter bandara. Alat itu mencatat lonjakan PM 2.5 dari normal 45 µg/m³ menjadi 218 µg/m³ dalam dua jam, masuk kategori sangat tidak sehat.
Teknologi dan Kolaborasi: Pantauan Drone hingga Modifikasi Cuaca
Di tengah rumitnya medan, BPBD Kotawaringin Timur dibantu oleh tim GIS dari Universitas Palangka Raya menerbangkan drone thermal untuk memetakan titik api yang tersembunyi di bawah kanopi. Hasil pemindaian menunjukkan adanya 11 titik panas residual yang belum terpadamkan. Data ini langsung diunggah ke dasbor Sipongi milik Kementerian LHK dan dijadikan acuan penempatan personel. Sementara itu, BMKG bersiap melakukan operasi modifikasi cuaca penyemaian garam di sekitar Kotim jika potensi awan konvektif muncul dalam 24 jam ke depan. “Kami butuh hujan buatan untuk membasahi lahan gambut yang sudah telanjur retak-retak ini,” ujar prakirawan BMKG setempat.
Meski begitu, warga di Kelurahan Ketapang dan sekitarnya tetap waspada. Beberapa di antaranya sudah menyiapkan masker N95 dan karung basah untuk menutup celah jendela. Pemerintah daerah mengimbau agar anak-anak dan lansia mengurangi aktivitas luar ruangan. Jika api belum bisa dijinakkan dalam dua hari, rencana evakuasi terbatas akan disusun untuk permukiman paling dekat dengan sumber asap. Api tiga hektare ini mungkin terlihat kecil di peta, tetapi letaknya yang strategis dan karakter gambutnya yang rapuh membuatnya menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan dan kesehatan publik.
Comments (0)