SAMARINDA — Mahasiswa Asal Berau Ditemukan Meninggal di Kamar Indekos

Warga di kawasan Folder Air Hitam, tepatnya di Jalan A.W. Sjahranie, Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu, digegerkan dengan penemuan jenazah seora

Jul 08, 2026 - 08:37
0 1
SAMARINDA — Mahasiswa Asal Berau Ditemukan Meninggal di Kamar Indekos

Warga di kawasan Folder Air Hitam, tepatnya di Jalan A.W. Sjahranie, Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu, digegerkan dengan penemuan jenazah seorang mahasiswa di dalam kamar indekos pada Jumat siang (21/3/2025). Penemuan ini memicu kerumunan warga yang penasaran dan prihatin, mengingat korban sudah beberapa hari tidak terlihat beraktivitas di luar kamar.

Kronologi Penemuan

Kejadian berawal sekitar pukul 14.00 WITA, ketika para penghuni indekos dan tetangga sekitar mulai mencium aroma busuk yang menyengat dari salah satu unit kamar. Bau yang semakin menguat membuat sejumlah warga curiga, terlebih pintu kamar tersebut dalam kondisi terkunci rapat dan tidak ada respons saat diketuk.

Ketua RT setempat, yang enggan disebutkan namanya, kemudian dihubungi. Setelah berkoordinasi dengan pemilik indekos, pintu kamar terpaksa dibuka dengan bantuan warga. Betapa terkejutnya mereka saat mendapati sesosok pria muda terbujur kaku di dalam kamar tanpa tanda kehidupan.

"Kami mencium bau tidak sedap sejak pagi, tapi dikira itu bau sampah atau bangkai tikus. Setelah makin siang, bau itu makin kuat dan mengganggu, baru kami sadari sumbernya dari kamar. Saya langsung lapor ke Pak RT," ujar salah seorang saksi.

Identitas Korban dan Kondisi di Lokasi

Korban diketahui bernama Fajar Aditya (22), seorang mahasiswa Universitas Mulawarman yang berasal dari Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sejak awal bulan Maret 2025, Fajar memang tinggal sendiri di kamar indekos tersebut. Berdasarkan keterangan rekan kuliahnya, korban sudah tiga hari tidak hadir di kampus dan tidak merespons pesan singkat.

Dari pemeriksaan awal di tempat kejadian perkara (TKP), tim Inafis Polresta Samarinda tidak menemukan tanda‑tanda kekerasan atau penganiayaan pada tubuh korban. Posisi jenazah masih terbaring di atas kasur, dan kamar dalam keadaan rapi. Beberapa obat‑obatan bebas dan ponsel korban turut diamankan sebagai barang bukti. Kuat dugaan korban sudah meninggal dunia setidaknya dua hari sebelum ditemukan, mengingat kondisi tubuh yang sudah mulai membusuk.

Korban segera dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie untuk menjalani visum et repertum dan autopsi guna memastikan penyebab kematian. Pihak kepolisian juga telah menghubungi keluarga korban di Berau yang langsung bertolak ke Samarinda begitu menerima kabar duka.

Respons Warga dan Pihak Berwenang

Penemuan mendadak ini sontak menciptakan kepanikan dan kesedihan di kalangan warga Folder Air Hitam. Lingkungan yang biasanya tenang berubah menjadi pusat perhatian, dengan puluhan warga berkerumun di depan indekos sampai polisi memasang garis batas untuk sterilisasi lokasi.

Kapolsek Samarinda Ulu, AKP Hendri Sitorus, melalui keterangan tertulis menyampaikan bahwa pihaknya masih mendalami kronologi dan motif di balik kematian mahasiswa tersebut. Meskipun hingga kini belum ada indikasi tindak kriminal, semua kemungkinan tetap diselidiki, termasuk dugaan sakit mendadak, overdosis obat, dan potensi lain yang lebih kompleks.

"Kita masih menunggu hasil autopsi dari rumah sakit. Dari olah TKP, tidak ditemukan barang berharga yang hilang dan pintu kamar terkunci dari dalam. Semua skenario masih kita buka, tapi untuk saat ini belum ada yang mengarah ke tindak pidana," jelas AKP Hendri.

Poin Penting Kasus

  • Penemuan jenazah terjadi pada Jumat petang di salah satu indekos di Folder Air Hitam, Samarinda Ulu.
  • Korban adalah mahasiswa asal Berau yang sudah tiga hari tidak masuk kuliah.
  • Aroma busuk dari kamar terkunci menjadi awal mula warga curiga dan melapor kepada Ketua RT.
  • Hasil awal olah TKP tidak menunjukkan tanda kekerasan; kematian diduga terjadi setidaknya 48 jam sebelum ditemukan.
  • Jenazah telah dievakuasi ke RSUD A.W. Sjahranie untuk autopsi, sementara keluarga korban segera menuju Samarinda.

Peristiwa ini menjadi tamparan bagi komunitas mahasiswa di Samarinda untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan tidak mengabaikan sosialisasi antarpenghuni indekos. Banyak rekan korban yang menyesali keterlambatan dalam mengecek kondisi Fajar yang mendadak tidak aktif berkomunikasi. Pihak Universitas Mulawarman pun berencana memberikan dukungan psikologis bagi teman‑teman dekat korban dan membantu proses pemulangan jenazah ke kampung halaman.

Hingga berita ini diturunkan, polisi masih menunggu hasil autopsi yang akan menjadi kunci penentuan arah penyelidikan. Masyarakat diimbau untuk tidak berspekulasi dan segera melaporkan apabila memiliki informasi yang dapat membantu proses hukum. Kasus ini sekaligus mengingatkan pentingnya check‑in berkala terhadap orang‑orang yang tinggal sendiri, terutama mahasiswa perantau yang rentan menghadapi tekanan fisik dan mental tanpa pendamping keluarga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User