Rupiah Lesu, BI Sebut Masih Lebih Baik dari Mata Uang Rusia-Thailand
Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tergolong lebih baik jika dibandingkan dengan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya.
Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tergolong lebih baik jika dibandingkan dengan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya. Dalam pemaparan data terkini, BI menyoroti bahwa depresiasi yang dialami rupiah tidak sedalam guncangan yang menimpa mata uang Rusia, Thailand, Filipina, hingga India.
Penilaian tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso. Ia merinci pergerakan mata uang sejak keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17 Juni lalu sebagai titik awal tekanan. Menurut Ramdan, meskipun FOMC memutuskan untuk menahan suku bunga acuan, pasar justru menangkap sinyal hawkish yang kuat dari para pejabat The Fed.
Dampak Sinyal Hawkish The Fed
Sinyal hawkish tersebut secara langsung mendorong penguatan indeks dolar (DXY) hingga mencapai level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Kondisi ini otomatis menjadi tekanan eksternal yang signifikan bagi mata uang global, khususnya di kelompok pasar berkembang. Ramdan menjelaskan bahwa momentum tersebut menjadi pemicu utama gelombang pelemahan yang terjadi dalam rentang waktu 17 Juni hingga 6 Juli 2026.
Berdasarkan data yang dihimpun melalui Bloomberg dalam periode tersebut, terlihat ketimpangan yang cukup kontras antar mata uang. Ramdan memaparkan bahwa di tengah gempuran penguatan dolar AS, Rusia menjadi negara dengan performa mata uang terburuk.
"Jadi, kalau kita ambil posisi dari FOMC itu tanggal 17 Juni ya sampai dengan terakhir tanggal 6 Juli. Jadi, 17 Juni sampai dengan 6 Juli itu, kalau kita lihat berdasarkan data di Bloomberg adalah mata uang Rusia paling melemah dibandingkan emerging market. Jadi, Rusia melemah 5,5 persen ya," ujar Ramdan saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026).
Perbandingan dengan Rupiah
Dengan depresiasi yang mencapai 5,5 persen, mata uang Rusia mencatatkan rekor sebagai yang paling lemah di antara negara berkembang. Sementara itu, Thailand juga tidak luput dari tekanan, mencatatkan pelemahan yang cukup tajam menyusul dinamika ekonomi domestiknya. Di sisi lain, posisi rupiah masih berada dalam level yang lebih manageable. BI menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia yang terjaga turut menjadi bantalan peredam di tengah ketidakpastian global.
Meskipun rupiah mengalami pelemahan, persentase depresiasinya jauh lebih rendah dibandingkan Rusia. Data ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan eksternal menerpa secara merata, ketahanan eksternal Indonesia masih relatif kuat. Selain Rusia dan Thailand, India dan Filipina juga mencatatkan pergerakan yang kurang menguntungkan, memperkuat argumen BI bahwa situasi rupiah masih cukup baik.
Analisis dari bank sentral ini menjadi sinyal positif bahwa kebijakan stabilisasi yang dijalankan selama ini mampu meredam volatilitas berlebihan. BI terus memonitor dinamika global pasca pertemuan FOMC demi memastikan stabilitas rupiah tetap terjaga di tengah tekanan yang belum sepenuhnya mereda. Hingga saat ini, pergerakan rupiah masih berada pada tren yang lebih sehat dibandingkan mata uang negara-negara yang disebutkan, terutama Rusia dan Thailand.
Laporan ini dirangkum oleh tim redaksi Terdepan.id dari pemaparan resmi Bank Indonesia di Kompleks Parlemen. Komitmen BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah badai dolar AS menjadi kunci utama kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional ke depannya.
Comments (0)