Prabowo – PM Modi Resmikan Konservasi Candi Prambanan Hingga 2036

Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi melakukan peletakan batu pertama proyek konservasi terpadu Candi Prambanan di kompleks ta

Jul 08, 2026 - 19:53
0 0

Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi melakukan peletakan batu pertama proyek konservasi terpadu Candi Prambanan di kompleks taman wisata candi, Rabu (8/7/2026). Kedua pemimpin menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara Archaeological Survey of India (ASI) dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X. Proyek ambisius ini dirancang sebagai inisiatif pelestarian warisan dunia berbasis teknologi tinggi yang akan berlangsung selama 10 tahun — dari 2026 hingga 2036 — dan menjadi kerja sama kebudayaan terbesar India di Asia Tenggara dalam satu dekade terakhir.

Ringkasan Proyek: Anggaran awal mencapai US$ 45 juta (sekitar Rp 720 miliar) dengan skema pembiayaan bersama. India mengirimkan 18 ahli konservasi senior, sementara Indonesia menyediakan 120 tenaga teknis lokal. Cakupan: pemetaan digital seluruh 224 candi, stabilisasi struktur, konservasi relief Ramayana, dan pembangunan pusat interpretasi interaktif.

Membedah Arsitektur Proyek: Lebih dari Sekadar Tambal Batu

Proyek ini memadukan metode konservasi tradisional dan teknologi mutakhir. Tahap pertama (2026–2028) fokus pada pemindaian LiDAR hybrid — kombinasi airborne laser scanning dan fotogrametri close-range — untuk menciptakan “kembaran digital” seluruh kompleks. Data resolusi sub-milimeter tersebut akan menjadi dasar diagnosis kerusakan, mulai dari retakan mikro akibat pelapukan batu andesit hingga pergeseran fondasi yang selama ini tersembunyi. Fase berikutnya (2029–2032) menerapkan teknologi nano-kapur yang dikembangkan Indian Institute of Technology Madras untuk mengonsolidasi relief yang rapuh tanpa mengubah warna asli patung. Teknologi ini sudah diujicobakan di kuil Ta Prohm, Kamboja, dan menunjukkan kemampuan menyatu ke pori batu sambil membiarkan material ‘bernapas’. Bila sukses, Prambanan akan menjadi situs pertama di Indonesia yang mengadopsi perawatan nanoteknologi pada warisan epigrafi Hindu-Buddha. Tahap akhir (2033–2036) akan membangun pusat interpretasi yang memanfaatkan realitas berimbuh (augmented reality). Pengunjung cukup mengarahkan tablet yang disediakan ke candi utama untuk melihat rekonstruksi digital bagaimana relief Ramayana diukir abad ke-9, lengkap dengan narasi interaktif dalam lima bahasa. Proyek menargetkan sertifikasi ulang UNESCO dengan pendekatan preventive conservation berbasis data pemantauan sensor getaran dan kelembapan yang dipasang permanen.

Komparasi Proyek India di Asia Tenggara: Prambanan Paling Ambisius

India memiliki tradisi panjang diplomasi kebudayaan berbasis konservasi. Untuk memahami posisi proyek Prambanan, mari kita bandingkan dengan inisiatif serupa:

Situs Negara Periode Anggaran (US$) Teknologi Kunci Fokus Utama
Ta Prohm Kamboja 2004–2016 12 juta Anastylosis (bongkar-pasang batu asli) Stabilisasi struktur yang terlilit akar pohon
Wat Phou Laos 2007–2027 8,5 juta Pemetaan GIS dan dokumentasi fotogrametri Konservasi teras batu dan drainase kuno
Candi Prambanan Indonesia 2026–2036 45 juta LiDAR, nanokapur, AR, IoT Digitalisasi lengkap & pusat interpretasi interaktif

Data di atas menegaskan lompatan skala: anggaran Prambanan hampir 4 kali lipat proyek India sebelumnya di kawasan. “Ini adalah proyek warisan budaya terbesar yang pernah kami tangani di luar negeri, baik dari sisi pendanaan maupun kompleksitas teknologi,” kata Dr. Rajat Sharma, Direktur Proyek Internasional ASI yang ditemui di sela acara.

Lebih dari Batu: Dampak Strategis Hubungan Bilateral

Pemilihan Candi Prambanan tidak lepas dari kalkulasi diplomasi budaya. Di India, 78% dari total 1,2 miliar wisatawan domestik tahunan melakukan perjalanan religi. Dengan Prambanan sebagai kompleks Hindu terbesar di Indonesia, proyek ini diproyeksikan menarik 300.000 wisatawan India baru per tahun mulai 2036 (data proyeksi Kementerian Pariwisata). Kedua negara juga sepakat menjadikan proyek sebagai katalis program “Ramayana Trail” yang menghubungkan situs-situs epik di India, Kamboja, Laos, dan Indonesia. “Proyek ini bukan sekadar restorasi fisik, melainkan pemulihan narasi peradaban bersama di era digital. Kita sedang menciptakan jembatan antara abad ke-9 dan ke-21 melalui teknologi yang transparan dan kolaboratif,” ujar Prof. Sari Kusumawati, arkeolog Universitas Gadjah Mada yang terlibat dalam tim penasihat ilmiah proyek. Teknologi pemantauan berbasis Internet of Things yang akan dipasang juga membuka pintu untuk model pelestarian berbasis data (data-driven conservation). Sensor akan mengirim data real-time ke pusat kendali di Yogyakarta dan Delhi, memungkinkan deteksi dini kerusakan akibat gempa atau perubahan iklim — sebuah lompatan dari metode konvensional yang mengandalkan inspeksi visual berkala. Target penyelesaian 2036 juga diselaraskan dengan tonggak 100 tahun kemerdekaan Indonesia sekaligus visi jangka panjang India sebagai mitra pembangunan Global South. Kedua pemimpin menegaskan bahwa kolaborasi semacam ini akan direplikasi untuk situs-situs lain, termasuk kawasan Muaro Jambi dan Candi Muara Takus di Sumatra.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User