Prabowo Kenang Pernah Tolak Impor Beras, Langsung Temui Aburizal Bakrie

Presiden Prabowo Subianto membagikan kisah lama tentang perjuangannya membela kepentingan petani Indonesia. Dalam sebuah acara di Gorontalo, Rabu (24/6/2026), Prabowo bercerita pernah secara langsung

Jul 08, 2026 - 19:20
0 1
Prabowo Kenang Pernah Tolak Impor Beras, Langsung Temui Aburizal Bakrie

Presiden Prabowo Subianto membagikan kisah lama tentang perjuangannya membela kepentingan petani Indonesia. Dalam sebuah acara di Gorontalo, Rabu (24/6/2026), Prabowo bercerita pernah secara langsung menemui Aburizal Bakrie yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Perekonomian pada periode 2004-2005. Misi pertemuan tersebut tegas: menyampaikan penolakan terhadap rencana impor beras yang akan dilakukan pemerintah.

Saat kejadian itu berlangsung, Prabowo tengah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Posisi tersebut memberinya tanggung jawab moral untuk menjadi suara bagi para petani di seluruh pelosok negeri. Kedatangannya menghadap sang menteri bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah bentuk advokasi langsung terhadap kebijakan yang dinilai akan merugikan petani lokal.

"Saya pernah menghadap Aburizal Bakrie, minta beras tak diimpor,"

Kenangan itu disampaikan Prabowo di hadapan ribuan peserta Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII. Momentum ini menjadi panggung reflektif bagi sang presiden untuk menegaskan kembali komitmennya terhadap sektor pertanian Indonesia.

Kegigihan di Balik Empat Kali Kekalahan

Dalam pidatonya, Prabowo juga mengungkap alasan di balik kegigihannya mengikuti kontestasi pemilihan presiden meski telah menelan kekalahan sebanyak empat kali. Ia menilai, arah pembangunan ekonomi Indonesia pada masa itu telah menyimpang dari prinsip keberpihakan terhadap rakyat kecil. Menurutnya, pengaruh paham ekonomi neoliberal begitu kuat mewarnai kebijakan pemerintah kala itu.

"Empat kali kalah, yang terakhir menang. Kenapa saya masih terus, karena saya melihat arah pembangunan arah ekonomi kita waktu itu di arah yang keliru, waktu itu yang dianut adalah paham neoliberal,"

Pernyataan ini semakin menegaskan konsistensi pandangan Prabowo terhadap isu kedaulatan pangan dan keberpihakan ekonomi. Baginya, kekalahan elektoral bukanlah alasan untuk berhenti menyuarakan keyakinan. Justru dari sanalah muncul dorongan kuat untuk terus maju hingga akhirnya berhasil memenangkan pemilihan presiden.

Isu impor beras sendiri telah menjadi persoalan klasik dan sensitif di Indonesia. Setiap kali wacana impor mencuat, kekhawatiran terhadap nasib petani lokal dan stabilitas harga gabah di tingkat produsen selalu menjadi pertimbangan utama. Langkah Prabowo menemui Aburizal Bakrie di masa lalu menggambarkan betapa peliknya dinamika kebijakan pangan di tanah air.

Kisah yang dibagikan di hadapan para petani dan nelayan ini memiliki resonansi kuat. Penas XVII menjadi saksi bagaimana seorang presiden membawa pesan masa lalu ke masa kini, mengingatkan bahwa kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil harus terus diperjuangkan. Cerita singkat dari masa jabatan HKTI itu kini menjadi bagian dari narasi kepemimpinan yang menekankan pentingnya kedaulatan pangan nasional.

Laporan ini dirangkum oleh tim redaksi Terdepan.id dari rangkaian acara Penas Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Editor Ekonomi Digital. Editor transformasi digital dan ekonomi digital.

Comments (0)

User