PM Modi Umumkan Kerja Sama MBG dengan Indonesia di Depan Prabowo

Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi di Jakarta pada Senin (7/7/2026). Dalam pertemuan bilateral yan

Jul 08, 2026 - 20:21
0 0

Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi di Jakarta pada Senin (7/7/2026). Dalam pertemuan bilateral yang juga dihadiri Ketua DPR Puan Maharani itu, Modi secara mengejutkan mengangkat topik Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu pilar kolaborasi strategis kedua negara. Pernyataan ini disampaikan langsung di hadapan Prabowo, menandai babak baru diplomasi pangan dan gizi antara dua negara dengan populasi terbesar di Asia.

Modi tidak sekadar melontarkan pujian terhadap program andalan pemerintahan Prabowo. Ia mengungkapkan bahwa India dan Indonesia telah mencapai kesepakatan untuk "meningkatkan kerja sama secara signifikan" dalam implementasi MBG. Langkah ini mencakup transfer teknologi, pendanaan, hingga pendampingan teknis dari para ahli nutrisi India yang telah sukses menjalankan program serupa, Mid-Day Meal Scheme, selama lebih dari dua dekade. MBG sendiri menargetkan distribusi makanan bergizi kepada 82,9 juta anak sekolah dan ibu hamil di seluruh Indonesia pada 2027.

MBG Jadi Jembatan Diplomasi Dua Raksasa Asia

Pembahasan MBG dalam forum setinggi ini bukanlah kebetulan. Program ini telah menjadi magnet investasi asing sejak diluncurkan secara nasional pada Januari 2025. India melihat MBG sebagai entry point strategis untuk mempererat hubungan bilateral yang selama ini didominasi sektor pertahanan dan perdagangan komoditas. Dengan mengaitkan kerja sama pada isu gizi anak—yang emosional dan populis—Modi secara cerdik membangun narasi people-to-people partnership yang sulit ditolak.

Dari sisi Indonesia, dukungan India sangat krusial. Badan Gizi Nasional (BGN) menghadapi tantangan besar dalam scaling up distribusi, terutama di 3.200 pulau dengan infrastruktur logistik yang timpang. India, dengan pengalaman mengelola dapur raksasa Akshaya Patra yang memproduksi 2,1 juta porsi makanan per hari menggunakan teknologi otomatisasi, menawarkan solusi konkret yang telah teruji.

Dapur Sentral Otomatis: Solusi Tantangan Logistik Indonesia

Inti dari kerja sama ini terletak pada rencana pembangunan 15 dapur sentral terotomatisasi di lima provinsi prioritas: Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. Masing-masing dapur dirancang berkapasitas 100.000 porsi per hari, mengadopsi model gravity-fed kitchen dan teknologi steam cooking dari India yang dapat mempertahankan kandungan gizi makanan sekaligus memangkas biaya operasional hingga 23%.

AspekIndia (Mid-Day Meal)Indonesia (MBG)
Cakupan118 juta anak82,9 juta penerima (target 2027)
Anggaran per porsi₹7,12 (~Rp1.300)Rp15.000 (target efisiensi ke Rp12.000)
TeknologiDapur otomatis, delivery truck panasAdopsi bertahap, masih semi-manual
Sumber bahanPetani lokal wajib40% dari BUMDes, 60% pasar umum

"Ini bukan sekadar bantuan, melainkan co-creation," ujar Dr. Anita Kusuma, pengamat kebijakan pangan dari Universitas Indonesia. "India mengincar soft power diplomacy melalui piring makan anak-anak Indonesia. Jika berhasil, model ini akan diekspor ke 15 negara Global South lainnya dengan merek India-Indonesia."

Pertaruhan Politik dan Risiko Ketergantungan Teknologi

Kemitraan ini juga menyimpan potensi friksi di dalam negeri. Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJBI) telah menyuarakan kekhawatiran bahwa dominasi vendor India dalam proyek dapur sentral akan mematikan UMKM lokal yang selama ini menjadi tulang punggung rantai pasok MBG. Pemerintah, melalui BGN, berjanji menerapkan skema mandatory joint venture dengan kepemilikan lokal minimal 51% untuk setiap unit dapur yang dibangun.

Di panggung politik, langkah Modi juga dibaca sebagai upaya mengimbangi pengaruh Tiongkok yang telah lebih dulu masuk ke infrastruktur logistik MBG melalui kerja sama kereta api dan pelabuhan. Dengan menyasar aspek hilir yang langsung menyentuh rakyat, India memainkan kartu "kedekatan kultural" untuk merebut hati publik Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User