Pengungsi Rohingya Bertahan dalam Guyuran Hujan di Cox's Bazar

Cox's Bazar, Bangladesh — Ribuan warga Rohingya berjalan menembus guyuran hujan di kamp pengungsian Kutupalong, Cox's Bazar, pada Selasa (7/7/2026). Cuplik

Jul 12, 2026 - 08:49
0 0
Pengungsi Rohingya Bertahan dalam Guyuran Hujan di Cox's Bazar

Cox's Bazar, Bangladesh — Ribuan warga Rohingya berjalan menembus guyuran hujan di kamp pengungsian Kutupalong, Cox's Bazar, pada Selasa (7/7/2026). Cuplikan gambar yang dirilis Associated Press memperlihatkan para pengungsi, termasuk anak-anak dan lansia, melangkah di jalanan becek tanpa alas kaki yang memadai. Ini adalah pemandangan tahunan yang kian mengkhawatirkan: awal musim monsun membawa derita berlapis bagi hampir satu juta manusia yang terjebak di kamp terbesar dunia itu.

Bayang-bayang Bencana di Musim Hujan

Cox's Bazar, yang terletak di pesisir tenggara Bangladesh, setiap tahun dilanda hujan lebat antara Juni hingga Oktober. Tahun ini, Badai Siklon Remal yang menerjang pada Mei telah merusak lebih dari 10.000 tempat penampungan darurat, membuat ribuan keluarga benar-benar terpapar cuaca ekstrem. Genangan air meningkatkan risiko wabah diare, kolera, dan demam berdarah. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kasus diare akut di kamp melonjak 47% pada Juni 2026 dibanding bulan sebelumnya, dengan lebih dari 3.200 pasien dirawat di fasilitas kesehatan yang kelebihan kapasitas.

"Kondisi ini adalah resep sempurna untuk krisis kesehatan masyarakat. Air kotor, sanitasi buruk, dan kepadatan penduduk membuat penyakit menular menyebar seperti api," ujar Dr. Ayesha Khan, Koordinator Medis Médecins Sans Frontières di Cox's Bazar, saat diwawancarai melalui sambungan telepon. "Kami melihat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut pada anak di bawah lima tahun. Mereka tidur di lantai tanah yang basah, tanpa selimut kering."

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mencatat bahwa 87% dari 960.000 pengungsi Rohingya di Cox's Bazar bergantung sepenuhnya pada bantuan pangan. Rencana tanggap darurat monsun senilai $124 juta yang diajukan PBB baru terpenuhi 32%, memotong distribusi bahan makanan dan layanan kesehatan. Kekurangan dana membuat program perbaikan tanggul dan drainase tertunda, memperbesar ancaman tanah longsor di area perbukitan kamp.

Jalan Licin Menuju Ketidakpastian

Di tengah keterbatasan, para pengungsi berusaha menjalani hari-hari mereka. Foto AP yang menggambarkan warga berjalan di tengah hujan bukan sekadar pemandangan biasa; ia merefleksikan ketangguhan yang dipaksakan. Namun, di balik gambar itu tersimpan ketakutan akan relokasi paksa. Pemerintah Bangladesh kembali menggaungkan wacana pemindahan sebagian pengungsi ke Pulau Bhasan Char—sebuah delta terpencil yang rawan banjir—yang menuai kritik tajam dari organisasi hak asasi manusia. Human Rights Watch menyebut pulau itu "tidak layak huni" dan pemindahan sebagai bentuk "penahanan terselubung".

Angka penting: Hingga Juli 2026, sekitar 32.000 pengungsi telah dipindahkan ke Bhasan Char sejak 2020, sementara 600.000 lainnya terancam menyusul tanpa jaminan keselamatan. Sementara itu, di Cox's Bazar, ruang hidup rata-rata per orang hanya 8,9 meter persegi—jauh di bawah standar minimum Sphere 45 meter persegi. Hujan lebat mempersempit ruang itu lebih lagi, memicu konflik antarwarga atas sumber daya yang semakin langka.

Kondisi Kamp Rohingya Cox's Bazar per Juli 2026
IndikatorDataTren vs 2025
Populasi pengungsi960.000 jiwa+1,2%
Kasus diare akut/bulan3.200+47%
Tempat penampungan rusak (siklon)10.000+Data baru
Pendanaan kemanusiaan terpenuhi32%-15%

Situasi ini memaksa banyak keluarga mengambil risiko: anak-anak terpaksa ikut bekerja serabutan di luar kamp untuk membeli kebutuhan pokok, sementara perempuan menghadapi ancaman kekerasan berbasis gender yang meningkat sepanjang musim hujan. Data dari sektor perlindungan anak Cox's Bazar mencatat 1.450 kasus pekerja anak yang terdokumentasi pada Juni 2026, naik 22% dari periode yang sama tahun lalu.

Diplomasi internasional pun tampak mandek. Myanmar terus menolak bertanggung jawab atas pemulangan sukarela dan aman. Sementara itu, krisis politik di Bangladesh pasca-pemilu memperumit alokasi bantuan. Bagi para pengungsi yang berjalan di bawah hujan di Cox's Bazar, setiap tetes air adalah pengingat bahwa tanah air mereka masih sejauh mimpi.

[SOCIAL_TWEET]: Di bawah guyuran hujan muson, hampir satu juta pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar bertahan hidup dengan tempat tinggal rusak dan wabah mengintai. Pendanaan darurat hanya terpenuhi 32%. Dunia tak boleh menutup mata. #RohingyaCrisis #CoxsBazar #HumanitarianAid[SOCIAL_TG]: 🌧️ Hujan lebat landa kamp Rohingya di Cox's Bazar. Ribuan tempat tinggal rusak, penyakit merebak, bantuan kemanusiaan kian menipis. Krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai. Baca laporan lengkapnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User