NewJeans Hadapi Gugatan Hak Cipta Lagu Eta di Amerika Serikat

Seperti layaknya sepotong kode yang diduga di-copy-paste tanpa lisensi, grup K-pop NewJeans kembali tersandung isu plagiarisme—kali ini di ranah hukum Ame

Jul 09, 2026 - 10:19
0 0
NewJeans Hadapi Gugatan Hak Cipta Lagu Eta di Amerika Serikat

Seperti layaknya sepotong kode yang diduga di-copy-paste tanpa lisensi, grup K-pop NewJeans kembali tersandung isu plagiarisme—kali ini di ranah hukum Amerika Serikat. Pada 23 Maret 2025, sebuah gugatan resmi diajukan di pengadilan federal California, menuduh lagu hit mereka "ETA" melanggar hak cipta karya musik lain. Tuduhan ini menyoroti kemiripan signifikan pada bagian hook melodi dan struktur beat, yang dalam dunia produksi musik modern dapat dianalogikan sebagai “binary identical”—mirip seperti dua file audio dengan sidik jari spektral yang bertabrakan. Penggugat, seorang produser independen asal Atlanta, mengklaim bahwa elemen inti dari lagunya yang dirilis pada 2022 telah dijiplak tanpa izin, dan meminta kompensasi finansial serta kredit penulisan.

Gugatan ini bukan sekadar drama industri hiburan biasa; ia menjadi sinyal bagi ekosistem produksi K-pop yang kian bergantung pada collaborative sampling lintas batas. Dalam proses kreatif modern, tim produser global sering bekerja secara terdesentralisasi menggunakan platform berbagi sample seperti Splice, di mana satu loop drum atau melodi bisa digunakan ribuan produser. Kasus "ETA" menunjukkan bahwa sistem lisensi aset suara yang terotomatisasi sekalipun belum sepenuhnya kedap konflik, persis seperti open-source code repository yang lalai menambahkan file LICENSE.md. Jika terbukti bersalah, potensi kerugian finansial bisa mencapai USD 5 juta, belum termasuk dampak pada eksklusivitas katalog streaming NewJeans di platform global.

Membedah Risiko Hukum di Era Produksi Lintas Batas

Dari kacamata forensik audio, kemiripan dua lagu diukur melalui analisis spektrogram dan pola melodi yang termediasi oleh algoritma Content ID—sistem sidik jari digital yang digunakan YouTube dan Spotify. “Kalau kita bicara soal algoritma, ini mirip seperti mengecek hash dua file: jika hash-nya identik, maka pelanggaran sulit dibantah,” ujar Prof. Kim Dohyun, pakar hukum kekayaan intelektual digital dari Universitas Yonsei. Kasus ini membuka lagi perdebatan: kapan sebuah “inspirasi” berubah menjadi replikasi ilegal? Di sinilah transparansi rantai kredit produksi menjadi krusial—sebuah chain-of-title yang bisa diaudit secara digital, layaknya audit trail dalam blockchain.

Bagi agensi K-pop, gugatan ini mempertegas perlunya investasi di sistem manajemen aset kreatif yang lebih rigid. Saat ini, banyak label besar telah menerapkan prosedur clearance sampling berbasis metadata, namun masih ada celah ketika komposer tidak mendaftarkan karya mereka ke database global seperti ASCAP atau KOMCA secara tepat waktu. Dalam konteks NewJeans, yang dikenal sebagai ikon tren global, setiap lagu adalah aset high-value yang risiko hukumnya setara dengan pelanggaran paten di Silicon Valley.

Perbandingan Kasus Plagiarisme K-Pop Signifikan

Kasus Tahun Tuduhan Resolusi
NewJeans – ETA vs. Lagu Indie AS 2025 Hook melodi dan beat identik Proses hukum berjalan
BTS – Blood Sweat & Tears vs. Party Monster (Miley Cyrus) 2018 Kemiripan melodi pre-chorus Tidak ada gugatan; klarifikasi produksi
BLACKPINK – Kill This Love vs. Lagu Iklan 2019 Elemen beat drum dan brass Selesai di luar pengadilan
Sunmi – Pporappippam vs. City Pop Jepang 2020 Intro synth-wave identik Kredit ditambahkan setelah pengakuan

Data di atas menunjukkan bahwa hanya 1 dari 4 kasus yang berujung di meja hijau, sementara mayoritas diselesaikan dengan penambahan kredit atau lisensi senyap. Namun, ketika gugatan diformalkan di AS—negara dengan yurisprudensi ketat terhadap “substantial similarity”—peluang keputusan yang memberatkan menjadi lebih nyata. “Label K-pop kini harus memperlakukan setiap single seperti rilis software: siapkan dependency license-nya sebelum go live global,” kata Park Jaehyun, konsultan hak cipta yang pernah menangani kasus sampling untuk HYBE.

Ke depan, kita mungkin akan melihat integrasi AI-driven clearance tools yang bisa memindai database hak cipta secara real-time sebelum sebuah track masuk proses mastering akhir. Ini bukan hanya tentang menyelamatkan royalti, tetapi juga menjaga integritas artistik di tengah percepatan produksi konten yang masif. NewJeans sendiri, dengan fanbase global yang solid, mungkin akan tetap melaju, namun gugatan "ETA" menjadi wake-up call: di world wide web, tidak ada yang benar-benar lupa mengecek sumber.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User