Lahirnya Tatanan Dunia Baru, Berkah atau Petaka?

Brussels - Fondasi tatanan global yang dibangun pasca-Perang Dunia II kini berada di titik nadir. Serangkaian peristiwa geopolitik besar—invasi Rusia ke Ukraina, manuver agresif Amerika Serikat di

Jul 08, 2026 - 00:15
0 0
Lahirnya Tatanan Dunia Baru, Berkah atau Petaka?

Brussels - Fondasi tatanan global yang dibangun pasca-Perang Dunia II kini berada di titik nadir. Serangkaian peristiwa geopolitik besar—invasi Rusia ke Ukraina, manuver agresif Amerika Serikat di bawah komando Presiden Donald Trump, serta tuduhan genosida yang membebani Israel dalam konfliknya di Palestina—menjadi penanda jelas bahwa arsitektur perdamaian dan keamanan kolektif warisan 1945 sedang runtuh. Dunia menyaksikan transisi menuju konstelasi kekuasaan yang sama sekali baru, namun belum jelas apakah pergeseran ini akan membawa secercah harapan atau justru malapetaka berkepanjangan.

Kanselir Jerman Friedrich Merz menyuarakan kegelisahan mendalam Eropa dalam Konferensi Keamanan München pada Februari 2026 silam. Dengan nada muram, ia menyatakan bahwa tatanan yang ada, "meskipun tidak pernah sempurna bahkan pada masa terbaiknya, sudah tidak lagi ada dalam bentuk yang kita kenal." Pernyataan ini bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan pengakuan terbuka dari salah satu poros utama Uni Eropa bahwa institusi multilateral yang selama ini diandalkan—seperti PBB dan hukum internasional—kehilangan gigi dan relevansinya di tengah konflik-konflik kontemporer.

Perspektif Berbeda dari Asia

Namun, kegamangan yang melanda benua biru itu tidak sepenuhnya dirasakan di belahan bumi timur. Dalam perspektif sejumlah pemikir strategis Asia, yang terjadi saat ini bukanlah sebuah anomali, melainkan kenormalan sejarah. Mantan diplomat senior Singapura, Bilahari Kausikan, dalam sebuah diskusi di forum keamanan Asia Shangri-La Dialogue, menyampaikan pandangan yang lebih realis. kepada media kami, Kausikan menilai bahwa persaingan keras dan konflik terbuka adalah sifat mendasar dari hubungan internasional. Baginya, era stabilitas yang panjang justru merupakan pengecualian, bukan aturan main abadi.

Pandangan kontras antara Eropa dan Asia ini mencerminkan jurang pengalaman historis yang berbeda. Eropa, yang trauma akibat dua perang dunia, merindukan sistem berbasis aturan yang terprediksi. Sementara itu, banyak negara di Asia, yang tumbuh dalam dinamika Perang Dingin dan kebangkitan ekonomi yang kompetitif, lebih siap menerima logika kekuasaan sebagai realitas pahit yang harus dikelola, bukan dilawan. Bagi mereka, lahirnya tatanan dunia baru bukanlah petaka yang harus ditakuti, melainkan medan persaingan yang harus dimenangkan dengan adaptasi dan strategi jitu. Pertanyaan besarnya kini, akankah pergeseran ini melahirkan keseimbangan baru yang lebih adil, atau justru membuka kotak pandora konflik multipolar yang lebih brutal?

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Bisnis. Editor isu korporasi, M&A, dan sektor riil.

Comments (0)

User