JATINEGARA — Sepi Pembeli, Pedagang Batu Akik Gulung Tikar

Lorong-lorong yang dulu semerbak oleh gemerlap batu bacan, kalimaya, dan safir kini hanya dihiasi debu dan kardus-kardus bertumpuk. Di pusat perdagangan ba

Jul 09, 2026 - 02:10
0 0

Lorong-lorong yang dulu semerbak oleh gemerlap batu bacan, kalimaya, dan safir kini hanya dihiasi debu dan kardus-kardus bertumpuk. Di pusat perdagangan batu akik Jatinegara yang pernah dijuluki surga batu mulia, suara tawar-menawar yang riuh kini berubah menjadi gema langkah kaki segelintir pengunjung yang sekadar lewat. Jika lima tahun silam setiap jengkal kios di Jalan Raya Bekasi Timur ini dipadati pemburu batu, hari ini sebagian besar etalase kosong, tertutup rapat dengan coretan “dijual” atau “kontrakan murah”. Lebih dari 60% pedagang batu akik di sentra Jatinegara telah memutuskan gulung tikar dalam dua tahun terakhir.

Dari Demam Batu ke Senyap yang Menyengat

Memori kolektif publik tentu belum lupa dengan fenomena demam batu akik yang melanda Indonesia pada 2014-2015. Kala itu, nyaris setiap pejabat, artis, hingga tukang ojek bangga melingkarkan cincin batu bergambar serat di jari mereka. Jatinegara menjadi pusat gravitasi transaksi; omset harian satu kios bisa menembus Rp50 juta, dengan volume transaksi pasar secara keseluruhan diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah per bulan. “Dulu kami sampai kewalahan melayani pembeli. Batu apa pun asal bagus warna dan inklusinya, dalam hitungan jam laku,” kata Pak Solihin, 53 tahun, yang telah berjualan batu akik di Jatinegara sejak 2013.

Namun, musim berubah. Sejak 2018 geliat pasar terus menurun, dan pandemi 2020 mempercepat keruntuhan yang sudah di depan mata. Hari ini, Pak Solihin adalah satu dari sedikit penyintas. Ia masih membuka lapaknya, tetapi mengakui bahwa pendapatan sekarang hanya cukup untuk menutup uang makan, bukan lagi untuk menambah stok batu baru.

Apa yang Meredupkan Kilau?

Banyak faktor membunuh pasar batu akik secara perlahan. Pertama, tren mode bergeser. Anak muda urban kini lebih memilih perhiasan minimalis berbahan emas putih atau aksesori digital seperti NFT wearables. Batu akik, yang identik dengan kesan tradisional dan “khas bapak-bapak”, kehilangan pijakan di kalangan konsumen milenial dan Gen Z. Kedua, oversupply. Saat demam batu memuncak, tambang-tambang rakyat dari Aceh, Garut, hingga Banten memompa pasokan dalam jumlah besar. Ketika permintaan turun, harga anjlok drastis – batu bacan ukuran standar yang dulu bisa dijual Rp2 juta kini hanya dihargai Rp200 ribu, itupun jika ada yang berminat.

Ketiga, maraknya batu sintetis dan penipuan. Banyak konsumen kapok setelah merasa tertipu membeli batu alam palsu dengan harga selangit. Kepercayaan terhadap pedagang pun tergerus. Keempat, tekanan ekonomi makro. Daya beli masyarakat yang tergerus inflasi membuat batu akik – yang bersifat barang sekunder – menjadi prioritas yang mudah dipangkas dari daftar belanja rumah tangga.

Kisah Pedagang yang Tumbang

Ibu Ratih, 45 tahun, dulu memiliki tiga kios sekaligus di lantai dasar pusat perbelanjaan batu. Kini ia hanya menyisakan sebuah lemari kecil di rumah kontrakannya, sisa stok yang tak laku.

“Saya sudah coba jual online di marketplace, ikut bazar, tapi tetap saja sepi. Akhirnya saya tutup kios tahun lalu. Barang yang ada saya jual eceran ke teman-teman dengan harga murah. Modal ratusan juta yang saya tanam di batu, hanya kembali tak sampai 20 persen.”

Ratih bercerita dengan nada lirih, matanya menerawangi tumpukan batu cincin yang sudah dilapisi abu. Ia bukan kasus tunggal. Asosiasi Pedagang Batu Akik Jatinegara mencatat dari sekitar 800 anggota pada 2015, kini yang aktif tak lebih dari 70 orang. Sebagian besar beralih profesi menjadi sopir taksi online, buruh harian, atau kembali ke kampung halaman.

Nasib Rantai Pasok dan Kios-Kios Melompong

Kelesuan ini tidak hanya memukul pedagang, tetapi juga para perajin, pemotong batu, hingga pemilik gedung. Harga sewa kios yang dulu bisa mencapai Rp100 juta per tahun untuk posisi strategis kini jatuh ke kisaran Rp25 juta, itu pun banyak yang kosong. Beberapa pemilik gedung mengalihfungsikan lantai dagang menjadi gudang atau ruang kantor kecil-kecilan. Para perajin asah batu di sekitar Ciracas dan Cipayung juga mengurangi karyawan. “Dulu saya punya 10 pemoles batu, sekarang saya kerjakan sendiri dibantu istri,” ujar Pak Joko, perajin yang memasok ke Jatinegara.

Akankah Kilau Itu Kembali?

Masih ada benih harapan. Sejumlah pedagang yang bertahan mencoba merambah ceruk pasar kolektor kelas atas yang mencari batu langka dan bernilai investasi tinggi, seperti safir ungu, ruby bintang, atau zamrud Kolombia. Mereka membidik pembeli luar negeri lewat pameran internasional dan jejaring daring. Namun, bagi mantan pedagang akik kelas menengah, jalan untuk bangkit amat terjal. Batu yang dulu adalah simbol gengsi, kini menjadi fosil nostalgia.

Pasar batu akik Jatinegera butuh rebranding total, barangkali dengan menggandeng desainer perhiasan kontemporer agar batu-batu Nusantara bisa kembali bersinar di kalangan milenial. Hingga saat itu tiba, lorong-lorong pasar akan terus menyimpan kisah kilau yang meredup.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User