Investasi Hijau Senilai Rp 6,29 Triliun Siap Perkuat Posisi Indonesia di Rantai Pasok Baterai Global

Jakarta, Terdepan.id — Geliat hilirisasi industri nikel nasional kian tak terbendung. Kali ini, sebuah gebrakan strategis datang dari perusahaan teknologi pemrosesan material baterai asal Australia

Jul 08, 2026 - 06:03
0 0
Investasi Hijau Senilai Rp 6,29 Triliun Siap Perkuat Posisi Indonesia di Rantai Pasok Baterai Global

Jakarta, Terdepan.id — Geliat hilirisasi industri nikel nasional kian tak terbendung. Kali ini, sebuah gebrakan strategis datang dari perusahaan teknologi pemrosesan material baterai asal Australia, Pure Battery Technologies (PBT), yang memantapkan rencana investasinya untuk membangun fasilitas produksi precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia. Nilai investasi fantastis yang digelontorkan mencapai Rp 6,29 triliun, menandai babak baru dalam ambisi Indonesia menjadi raja baterai kendaraan listrik dunia.

Langkah ini terungkap dalam pertemuan tingkat tinggi antara Pemerintah Indonesia dan jajaran direksi PBT. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu, secara langsung memimpin pertemuan tersebut bersama Chairman Pure Battery Technologies, Stephen Wilmot, di kantor Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Sydney, Australia. Turut hadir dalam diskusi krusial itu Direktur IIPC Sydney, Leidy Surianingrat.

Fasilitas pCAM ini digadang-gadang menjadi "missing piece" dalam teka-teki rantai pasok baterai dalam negeri. Selama ini, Indonesia memang kuat di sektor hulu dengan tambang nikel melimpah dan mulai serius di hilir dengan pembangunan pabrik smelter. Namun, proses antara (midstream) berupa produksi precursor—bahan baku utama katoda baterai—masih menjadi celah yang perlu ditutup.

"Investasi ini sangat fundamental untuk melengkapi rantai nilai hilirisasi nikel kita, tepatnya pada tahap midstream. Ini bukan sekadar membangun pabrik, ini tentang mengunci posisi Indonesia sebagai pemasok utama komponen baterai kendaraan listrik berteknologi tinggi di mata dunia," ujar Todotua Pasaribu dalam keterangannya yang dikutip Terdepan.id.

Yang membuat investasi ini kian istimewa adalah teknologi pemrosesan yang dibawa PBT. Perusahaan Australia itu dikenal dengan pendekatan ramah lingkungan yang mampu menekan emisi karbon dan limbah berbahaya secara signifikan dalam proses produksi material baterai. Bagi Indonesia yang tengah getol menyuarakan industri hijau berkelanjutan, kehadiran PBT ibarat menjawab dua kebutuhan sekaligus: nilai tambah ekonomi dan komitmen dekarbonisasi.

Dengan nilai proyek yang menyentuh angka puluhan triliun rupiah, pembangunan pabrik pCAM ini diproyeksikan tidak hanya menciptakan ribuan lapangan kerja berketerampilan tinggi, tetapi juga mendongkrak ekspor produk bernilai tambah. Alih-alih hanya menjual bijih mentah, Indonesia akan mengekspor material siap pakai yang menjadi jantung performa baterai mobil listrik, mulai dari Tesla hingga BYD.

Pertemuan di Sydney ini menjadi sinyal kuat bahwa upaya "diplomasi nikel" pemerintah membuahkan hasil manis. Kolaborasi dengan PBT diyakini akan mempercepat terwujudnya integrasi vertikal industri baterai nasional, mulai dari tambang, smelter, precursor, hingga sel baterai, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai mitra strategis dalam transisi energi global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter Startup. Reporter startup dan ekosistem pendanaan.

Comments (0)

User