Jakarta — Sebuah potret visual yang tenteram kini menghiasi jutaan layar di seluruh dunia. Gambar seorang muslimah mengenakan hijab lembut, tangan menengadah ke langit, dan ekspresi khusyuk memanjatkan doa—itulah ilustrasi yang dibagikan fotografer SERHAT TUĞ di platform Pexels. Lebih dari sekadar foto stok biasa, gambar ini mencerminkan gelombang besar permintaan konten visual Islami yang sedang melanda internet. Data agregat dari berbagai platform stok foto menunjukkan bahwa kategori "Islamic illustration" mencatatkan lonjakan pencarian rata‑rata 87% dalam dua tahun terakhir, menjadikannya salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat di industri visual digital.
Platform seperti Pexels dan Unsplash, yang dikenal menyediakan gambar bebas royalti, kini menjadi etalase utama konten-konten semacam ini. Foto muslimah berdoa karya SERHAT TUĞ telah diunduh lebih dari 50.000 kali hanya dalam enam bulan pertama. Angka ini bukan sekadar statistik; ia mewakili pergeseran selera visual global yang semakin inklusif dan menghargai representasi spiritualitas dari beragam tradisi.
Analisis Pertumbuhan Visual Islami di Platform Digital
Fenomena ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Setidaknya tiga faktor saling bertautan mendorong pertumbuhan tersebut. Pertama, meningkatnya jumlah konten kreator dan pelaku bisnis Muslim yang membutuhkan aset visual otentik untuk media sosial, aplikasi, dan situs web. Kedua, permintaan media arus utama akan narasi yang lebih inklusif pasca-pandemi—sebuah era di mana spiritualitas menjadi sandaran kolektif. Ketiga, musim Ramadan dan Hari Raya Idulfitri menciptakan lonjakan permintaan musiman yang signifikan; pada periode tersebut, unduhan ilustrasi bertema doa bisa melonjak hingga tiga kali lipat.
| Kategori Ilustrasi Islami | Kenaikan Pencarian (2023-2024) | Platform Dominan |
| Muslimah berdoa | 112% | Pexels, Unsplash |
| Masjid & arsitektur Islam | 45% | Shutterstock |
| Kaligrafi Arab | 63% | Adobe Stock |
| Keluarga Muslim | 78% | Freepik |
| Pemandangan Ramadan | 94% | Vecteezy |
Dari tabel di atas terlihat bahwa sub‑kategori "muslimah berdoa" memimpin dengan kenaikan paling tajam. Hal ini ditegaskan oleh data internal Pexels yang mencatat kata kunci "praying muslim woman" masuk dalam 10 besar istilah pencarian terpopuler di kuartal pertama 2025.
"Ilustrasi muslimah yang berdoa merepresentasikan ketenangan dan spiritualitas yang universal. Visual ini lolos dari sekat budaya karena fokus pada gestur doa—sebuah bahasa tubuh yang dipahami hampir semua manusia. Itu sebabnya permintaan tidak hanya datang dari kalangan Muslim, tetapi juga dari perusahaan global yang ingin menyampaikan pesan perdamaian dan refleksi diri," ujar Dr. Aisyah Nur, pakar komunikasi visual Islami dari Universitas Indonesia.
Di balik angka, ada dampak ekonomi yang tidak kecil. Kontributor di platform mikro‑stok melaporkan bahwa ilustrasi Islami—terutama yang menampilkan perempuan berhijab dengan palet warna pastel—mampu menghasilkan pendapatan rata‑rata
35% lebih tinggi per unduhan dibanding ilustrasi generik. Seorang ilustrator lepas asal Bandung, Rahma Fitri, mengungkapkan bahwa portofolio bertema muslimah doa yang ia unggah ke Shutterstock telah menghasilkan pendapatan pasif sebesar
Rp 12 juta dalam setahun terakhir, sebuah angka yang sebelumnya tidak pernah ia capai dengan tema ilustrasi lain.
Inklusivitas visual semacam ini juga memicu efek domino: semakin banyak platform yang memperbarui metadata dan tagar agar konten semacam ini mudah ditemukan, yang pada gilirannya memperluas jangkauan pasar. Adobe Stock, misalnya, baru‑baru ini meluncurkan kurasi khusus "Faith & Spirituality" yang memuat ribuan aset Islami. Langkah ini diambil setelah mereka mencatat peningkatan pencarian konten keagamaan sebesar
56% year-on-year.
Dari sisi teknologi, kecerdasan buatan generatif turut memainkan peran. Tool AI seperti DALL‑E dan Midjourney kini digunakan oleh banyak desainer untuk menciptakan ilustrasi muslimah berdoa dengan gaya yang bervariasi—dari realis hingga semi‑abstrak. Namun, justru permintaan terhadap foto manusia asli (seperti karya SERHAT TUĞ) tetap stabil, karena audiens menganggapnya lebih otentik dan hangat. Perpaduan antara konten buatan AI dan karya fotografer manusia ini menciptakan ekosistem visual Islami yang kaya, menawarkan pilihan bagi penerbit dari skala kecil hingga korporasi besar.
Ke depan, tren ini diprediksi akan terus menanjak. Organisasi seperti Muslim Tech Association mencatat bahwa industri halal dan gaya hidup Islami global diperkirakan tumbuh menjadi
USD 3,2 triliun pada 2028. Visual yang mendukung narasi ini—termasuk ilustrasi doa—akan menjadi komoditas yang semakin bernilai.
Comments (0)