Emiten Afiliasi Kaesang Pangarep, PMMP, Terjerat Utang Menggunung ke Sejumlah Bank

Masalah keuangan serius tengah membayangi PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), emiten yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Terdepan.id, perusahaan peng

Jul 08, 2026 - 06:02
0 1
Emiten Afiliasi Kaesang Pangarep, PMMP, Terjerat Utang Menggunung ke Sejumlah Bank

Masalah keuangan serius tengah membayangi PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), emiten yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Terdepan.id, perusahaan pengolahan udang beku ini saat ini bergelut dengan tumpukan utang jangka pendek maupun fasilitas pinjaman dari berbagai pihak, dengan porsi terbesar berasal dari perbankan nasional.

Kondisi ini menjadi sorotan tajam setelah rincian kewajiban perusahaan terkuak. Tercatat, setidaknya empat institusi keuangan besar menjadi kreditur utama PMMP dengan nilai outstanding yang tidak sedikit, seluruhnya didenominasi dalam dolar Amerika Serikat.

Posisi pertama ditempati oleh PT Bank Permata Tbk. PMMP memiliki utang kepada bank swasta ini dengan jumlah paling besar, yakni mencapai US$ 53,12 juta. Jika dikonversi ke mata uang rupiah dengan kurs Rp 17.948 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp 953,39 miliar. Tidak hanya itu, Bank Permata juga memberikan fasilitas tambahan berupa pinjaman senilai Rp 5,49 miliar, yang semakin menambah beban kewajiban emiten bersandi saham PMMP ini.

Menyusul di urutan kedua, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga menjadi penagih utama dengan catatan outstanding sebesar US$ 40,29 juta, atau ekuivalen dengan Rp 723,04 miliar dalam denominasi rupiah. Angka ini menegaskan bahwa BCA memiliki eksposur kredit yang signifikan terhadap perusahaan yang berafiliasi dengan putra Presiden ketujuh RI tersebut.

Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI) yang merupakan lembaga khusus pemerintah di bidang pembiayaan perdagangan internasional, turut mencatatkan utang dari PMMP. Nilainya mencapai US$ 30,71 juta, atau setara dengan Rp 551,15 miliar. Keterlibatan LPEI sebagai kreditur menunjukkan bahwa masalah likuiditas perusahaan ini sudah menjangkau lembaga yang memiliki misi strategis dalam mendorong ekspor nasional.

PT Bank SMBC Indonesia Tbk, bank hasil transformasi dari eks PT Bank BTPN Tbk yang kini dimiliki mayoritas oleh Sumitomo Mitsui Banking Corporation, juga tidak luput dari daftar kreditur. PMMP tercatat memiliki kewajiban sebesar US$ 22,80 juta kepada bank ini, atau bila dirupiahkan setara dengan Rp 409,12 miliar.

Apabila seluruh utang dalam denominasi dolar AS ini ditotal—meliputi empat institusi keuangan utama tersebut—maka PMMP harus menanggung beban kewajiban lebih dari US$ 146 juta, atau lebih dari Rp 2,6 triliun. Angka ini belum termasuk fasilitas tambahan dari Bank Permata dalam mata uang rupiah. Skala utang sebesar ini memunculkan pertanyaan serius mengenai kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya di tengah tekanan likuiditas yang tengah dihadapi.

Kondisi tersebut diperburuk oleh volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang masih berlangsung. Dengan sebagian besar utang dalam mata uang asing, pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada pembesaran liabilitas dalam laporan keuangan perusahaan berbasis rupiah, yang pada akhirnya dapat menggerus ekuitas dan kinerja fundamental perusahaan.

Terpisah, pengamat pasar modal menilai bahwa situasi ini menjadi pukulan bagi kredibilitas perusahaan, mengingat keterkaitan nama Kaesang Pangarep dengan PMMP sebagai salah satu pemangku kepentingan. Publik menanti langkah strategis manajemen dalam merestrukurisasi utang dan mengembalikan kepercayaan investor serta kreditur.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PMMP belum memberikan pernyataan resmi terkait totalitas kewajiban dan strategi penyelesaian utang yang tengah membelit perusahaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
grace-winata

Editor Investasi. Editor panduan investasi dan produk finansial.

Comments (0)

User