Dilanda Gelombang Panas, Kenapa Orang Jerman Tetap Ogah Pasang AC?

JAKARTA - Di tengah gelombang panas yang kian sering melanda Eropa, pemandangan di Jerman masih didominasi kipas angin dan jendela terbuka lebar, alih-alih kompresor pendingin udara yang menderu. S

Jul 07, 2026 - 23:25
0 0
Dilanda Gelombang Panas, Kenapa Orang Jerman Tetap Ogah Pasang AC?

JAKARTA - Di tengah gelombang panas yang kian sering melanda Eropa, pemandangan di Jerman masih didominasi kipas angin dan jendela terbuka lebar, alih-alih kompresor pendingin udara yang menderu. Sebuah kontras tajam terlihat jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, Australia, atau bahkan kota-kota besar di Indonesia, di mana semburan udara dingin dari AC seakan menjadi penyelamat di kala terik. Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 90% rumah tangga di AS telah dilengkapi sistem pendingin, sementara di Jerman angkanya hanya berkisar 6% saja. Mengapa negara dengan iklim yang semakin panas ini tetap "ogah" memasang AC?

Warisan Budaya: "Lüften" dan Ketakutan akan Angin Buatan

Mentalitas masyarakat Jerman memainkan peran sentral. Di sana, mengalirkan udara segar secara alami atau lüften bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari filosofi hidup. Bahkan saat suhu mencapai 30 derajat Celsius, banyak warga Jerman yang masih melakukan Stoßlüften—membuka jendela lebar-lebar selama beberapa menit di pagi dan malam hari, lalu menutup rapat tirai dan jendela sepanjang siang. Mereka memercayai bahwa sirkulasi alami lebih baik untuk kesehatan. Angin buatan dari AC kerap dianggap sebagai biang masuk angin, nyeri otot, hingga gangguan pernapasan. Konsep Zugluft atau "angin siluman" sangat dihindari, sebuah kepercayaan turun-temurun yang tertanam kuat dalam benak mereka. Akibatnya, membeli unit pendingin mekanis sering kali dianggap sebagai tindakan yang berlebihan, bahkan lemah.

Arsitektur Tempaan Iklim Dingin

Jerman dan sebagian besar negara Eropa Utara membangun rumah dengan filosofi memerangkap panas, bukan membuangnya. Dinding bata tebal, insulasi berlapis, jendela kaca ganda, dan rolladen (penutup jendela dari logam) dirancang untuk menghadapi musim dingin yang panjang. Paradoksnya, desain ini justru sangat efektif menghalau panas musim panas. Saat tirai logam diturunkan penuh sepanjang siang, interior rumah bisa tetap sejuk tanpa bantuan listrik. Selain itu, banyak bangunan tua yang dilindungi cagar budaya di Jerman tidak mengizinkan pemasangan unit AC eksternal karena dianggap merusak estetika fasad. Regulasi ketat seperti ini ikut membatasi adopsi pendingin udara, terutama di perkotaan yang dipenuhi gedung apartemen bersejarah. Tanpa perubahan struktural yang rumit, mustahil memasang sistem pendingin sentral di blok-blok perumahan tersebut.

Pertimbangan Ekonomi dan Suara Lingkungan

Harga listrik di Jerman termasuk yang termahal di Eropa, dan pemakaian AC akan menjadi beban signifikan bagi tagihan bulanan. Di sisi lain, kesadaran lingkungan yang tinggi turut menghambat penetrasi AC. Sebagai pelopor energi hijau, masyarakat Jerman sangat peka terhadap jejak karbon. Mereka memandang unit pendingin udara sebagai konsumen energi raksasa yang hanya akan memperparah krisis iklim—sebuah ironi yang ditolak keras. Data dari Badan Lingkungan Hidup Jerman menegaskan bahwa pendingin di bangunan menyumbang emisi gas rumah kaca yang signifikan, sehingga banyak warga memilih solusi pasif seperti penyejuk udara berbasis penguapan atau pendinginan geotermal skala kecil yang lebih ramah lingkungan, meskipun kurang instan.

"Kami tidak ingin melawan panas dengan cara yang justru memicu pemanasan global. Membuka jendela di kedua sisi rumah, menikmati angin lintas, lalu berteduh di bawah pohon rindang—itu lebih masuk akal bagi kami," ujar Klara, seorang warga Berlin, kepada laporan Terdepan.id saat ditanya mengenai sengatan suhu yang mencapai 35 derajat di kota itu pekan lalu.

Adaptasi di Tengah Perubahan Iklim

Meski demikian, gelombang panas yang memecahkan rekor dalam beberapa tahun terakhir mulai mengikis resistensi tersebut. Pemerintah Jerman kini mengkaji revisi undang-undang hak penyewa untuk memperbolehkan pemasangan unit pendingin portabel—selama efisien dan tidak bising. Penjualan AC pun perlahan menunjukkan tren meningkat, meski masih jauh dari angka negara tetangga seperti Spanyol atau Italia. Akan tetapi, prinsip kehati-hatian tetap dipegang teguh. Para perencana kota di Jerman kini berfokus pada solusi jangka panjang: memperbanyak ruang hijau, menciptakan koridor angin, dan menerapkan atap serta fasad dingin. Mereka ingin membuktikan bahwa bertahan di tengah terik tidak harus selalu bergantung pada guyuran freon, melainkan pada kearifan desain dan adaptasi perilaku yang telah diwariskan lintas generasi. Tantangannya kini adalah menyeimbangkan tradisi dengan tuntutan suhu bumi yang tak lagi sama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Bisnis. Editor isu korporasi, M&A, dan sektor riil.

Comments (0)

User