Dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di New Delhi, Presiden Republik Indonesia Prabowo
Demokrasi di Persimpangan Jalan Presiden Prabowo mengawali pidatonya dengan menekankan bahwa demokrasi bukanlah sekadar prosedur elektoral, melainkan sebu
Demokrasi di Persimpangan Jalan
Presiden Prabowo mengawali pidatonya dengan menekankan bahwa demokrasi bukanlah sekadar prosedur elektoral, melainkan sebuah ekosistem yang membutuhkan perawatan konstan. Beliau mengidentifikasi tiga ancaman utama yang sedang dihadapi oleh sistem demokrasi di berbagai belahan dunia:
- Disinformasi digital yang mampu memanipulasi persepsi publik secara masif dalam hitungan jam, menciptakan realitas paralel yang mengaburkan kebenaran faktual.
- Polarisasi politik yang semakin tajam, di mana perbedaan pendapat tidak lagi dipandang sebagai dinamika sehat, melainkan sebagai permusuhan eksistensial yang harus dimusnahkan.
- Melemahnya kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi, diperparah oleh persepsi bahwa sistem hanya menguntungkan segelintir elite tanpa memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat.
"Demokrasi tidak bisa berjalan dengan autopilot," tegas Presiden Prabowo. Beliau menganalogikan demokrasi sebagai sebuah mesin presisi tinggi yang memerlukan kalibrasi berkelanjutan—abaikan perawatannya, dan seluruh sistem akan mengalami malfungsi yang dapat berakibat fatal bagi stabilitas nasional.
Upaya Pelemahan Sistematis
Salah satu poin paling kritis yang disampaikan Prabowo adalah mengenai adanya upaya sistematis dari pihak-pihak tertentu untuk melemahkan fondasi demokrasi. Menurutnya, aktor-aktor ini tidak selalu tampil dalam wajah otoritarianisme klasik, melainkan kerap menyusup melalui celah-celah demokrasi itu sendiri—menggunakan kebebasan berekspresi untuk menyebarkan kebencian, atau memanfaatkan transparansi untuk menyebarkan kebohongan yang terstruktur.
"Mereka yang ingin melemahkan demokrasi jarang datang dengan tank dan seragam militer. Mereka datang dengan algoritma, dengan narasi yang dirancang sedemikian rupa, dan sering kali mengenakan topeng sebagai pembela demokrasi itu sendiri," ujar Prabowo di hadapan forum.
Kolaborasi Indonesia-India sebagai Model
Prabowo menekankan bahwa baik Indonesia maupun India, sebagai dua demokrasi terbesar di dunia berdasarkan populasi, memiliki tanggung jawab historis untuk membuktikan bahwa demokrasi mampu menjadi kendaraan efektif bagi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan. Kedua negara, dengan keragaman etnis, agama, dan bahasa yang luar biasa, menjadi laboratorium hidup tentang bagaimana demokrasi dapat mengelola kompleksitas tanpa kehilangan stabilitas.
Dalam konteks ini, kerja sama bilateral Indonesia-India di bidang teknologi tata kelola pemerintahan, literasi digital, dan pengamanan integritas pemilu menjadi semakin relevan. Kedua pemimpin sepakat untuk memperdalam kolaborasi dalam menghadapi tantangan demokrasi di era digital.
Pertemuan ini menegaskan bahwa di tengah skeptisisme global terhadap efektivitas demokrasi, Indonesia dan India memilih untuk tidak mundur ke model otoritarianisme, melainkan berinvestasi memperkuat mekanisme demokrasi dari dalam.
Comments (0)