Setiap pagi, matahari terbit di atas Nusantara membawa energi yang nyaris tak terbatas. Namun pertanyaannya bukan hanya soal cahaya, melainkan bagaimana mengubahnya menjadi listrik yang murah, andal, dan dinikmati seluruh rakyat. Di sinilah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memegang peran kunci. Melalui penguatan ekosistem riset sel surya, lembaga riset pemerintah ini menopang ambisi besar Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW). Jika tercapai, dampaknya langsung terasa: tagihan listrik lebih ringan, lapangan kerja baru, dan ketahanan energi yang tak lagi menggantungkan nasib pada impor bahan bakar fosil.
Ibarat pertanian, sel surya adalah bibitnya, sedangkan PLTS adalah ladangnya. Bibit unggul menentukan seberapa besar hasil panen, begitu pula sel surya menentukan seberapa banyak sinar matahari yang bisa diubah menjadi listrik. Semakin efisien selnya, semakin sedikit lahan dan modul yang dibutuhkan, dan semakin murah biaya listrik yang dihasilkan. Karena itulah riset di tingkat sel menjadi tulang punggung seluruh industri surya nasional, bukan sekadar urusan laboratorium.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Proyek
Penguatan ekosistem riset yang dilakukan BRIN bukan proyek jangka pendek. Ekosistem berarti seluruh rantai yang saling terhubung: peneliti yang kompeten, laboratorium berstandar internasional, peralatan karakterisasi canggih, hingga kerja sama dengan perguruan tinggi dan industri. Tanpa ekosistem yang utuh, hasil penelitian hanya berhenti di jurnal ilmiah dan tidak pernah menjadi produk yang bisa dipasang di atap rumah warga.
Di dalam ekosistem itu, berbagai material dan teknologi dikembangkan. Sel surya silikon, material yang paling banyak digunakan di dunia saat ini, terus dioptimalkan. Pada saat yang sama, material generasi baru seperti perovskite, jenis kristal yang dikenal lebih murah dan fleksibel, diteliti sebagai kandidat pengganti atau pelengkap silikon. Di laboratorium global, efisiensi sel perovskite telah melewati 26 persen, sementara teknologi tandem yang menggabungkan silikon dan perovskite sempat mencatat rekor di atas 33 persen — angka yang beberapa tahun lalu dianggap mustahil. Indonesia tidak perlu mengejar rekor dunia, tetapi kehadiran riset lokal memastikan teknologi yang dipakai di dalam negeri sesuai dengan kondisi iklim tropis dan bisa diproduksi secara mandiri.
Mengapa Angka 100 GW Begitu Penting?
Angka 100 GW tidak muncul dari ruang hampa. Indonesia memiliki potensi energi surya yang melimpah: lebih dari 3.000 GW secara teoretis, dan sekitar 207 GW yang layak dimanfaatkan secara teknis menurut data yang kerap dikutip Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Artinya, target 100 GW baru sekitar separuh dari potensi teknis tersebut — besar, tetapi realistis jika riset dan industri berjalan beriringan.
Target ini juga selaras dengan komitmen iklim Indonesia menuju net zero emission (NZE), kondisi di mana emisi gas rumah kaca yang dilepas seimbang dengan yang diserap, yang ditargetkan tercapai pada 2060. Sebelumnya, pemerintah menetapkan bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 — angka yang masih jauh dari tercapai. PLTS diyakini menjadi salah satu pengungkit tercepat karena teknologinya modular: bisa dibangun dalam skala kecil di atap rumah hingga skala raksasa di lahan terbuka. Untuk konteks, 1 GW setara 1.000 megawatt (MW), cukup untuk melayani kebutuhan listrik ratusan ribu rumah tangga.
Kemandirian listrik nasional juga menjadi taruhannya. Setiap modul surya yang bisa dirancang, diuji, dan diproduksi di dalam negeri berarti devisa yang tidak lagi keluar untuk impor, sekaligus industri dalam negeri yang menyerap tenaga kerja. Di sinilah hubungan riset dan kemandirian menjadi nyata: penguasaan teknologi hulu menentukan seberapa besar nilai tambah yang dinikmati di hilir.
Tantangan yang Masih Mengadang
Jalan menuju 100 GW tidak mulus. Tantangan pertama adalah sifat alami energi surya yang intermiten — tergantung cuaca dan waktu, matahari tidak selalu bersinar. Karena itu, penyimpanan energi (baterai) dan jaringan transmisi yang cerdas menjadi syarat mutlak. Tanpa keduanya, lonjakan listrik surya pada siang hari bisa justru membebani sistem kelistrikan.
Tantangan kedua adalah kesenjangan biaya. Meski harga modul surya global turun drastis dalam satu dekade terakhir, produk dalam negeri masih sulit bersaing dengan produk impor yang lebih murah karena skala ekonomi. Riset BRIN diharapkan menjawab dengan inovasi yang menekan biaya produksi dan meningkatkan umur pakai sel surya, sehingga daya saingnya naik. Terakhir, perlu sumber daya manusia (SDM) yang memadai: teknisi, periset, dan perancang sistem yang jumlahnya masih terbatas dibandingkan kebutuhan industri yang tumbuh cepat.
Penguatan ekosistem riset sel surya oleh BRIN adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak instan, tetapi justru menentukan apakah Indonesia akan menjadi negara pemakai teknologi atau pencipta teknologi. Dengan sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun, modal terbesar sebenarnya sudah tersedia sejak lama. Kini tinggal bagaimana riset, industri, dan kebijakan berjalan seirama untuk mengubahnya menjadi listrik yang mencerahkan seluruh negeri.
Comments (0)