JAKARTA — Alarm dini kembali berbunyi dari sektor lingkungan hidup. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyampaikan peringatan keras bahwa fenomena iklim El Nino yang melanda Indonesia tahun ini diprediksi lebih dahsyat dibandingkan kejadian serupa pada 2015. Pernyataan tersebut langsung menuai perhatian luas, sebab 2015 adalah tahun yang meninggalkan luka mendalam: kebakaran hutan yang nyaris tak terkendali, kabut asap yang menyelimuti sejumlah kota, serta kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai ratusan triliun rupiah.
Mengapa kabar ini penting bagi masyarakat awam? Karena El Nino bukan sekadar istilah cuaca yang hanya dipahami para ahli. Fenomena ini menentukan apakah petani bisa panen, apakah air sumur tetap terisi, apakah udara yang kita hirup bebas dari asap, dan apakah harga bahan pangan di pasar tetap terjangkau. Ketika pemerintah menyebut skala tahun ini melampaui 2015, artinya seluruh lapisan masyarakat perlu bersiap sejak dini.
Apa Sebenarnya El Nino?
Secara sederhana, El Nino adalah fenomena memanasnya suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Nama ini berasal dari bahasa Spanyol yang berarti anak laki-laki, merujuk pada bayi Yesus, karena fenomena ini kerap muncul mendekati perayaan Natal. Ibarat seperti sebuah pancuran raksasa: dalam kondisi normal, angin pasat (angin yang bertiup dari timur ke barat) mendorong massa air hangat menuju perairan Indonesia, sehingga wilayah kita menerima banyak uap air dan hujan. Saat El Nino terjadi, angin itu melemah, air hangat justru terjebak di Pasifik timur, dan Indonesia kehilangan pasokan uap air—akibatnya musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering dari kebiasaan.
Kekuatan El Nino diukur melalui anomali suhu permukaan laut, yakni selisih suhu dari nilai normal di wilayah pemantauan Samudra Pasifik. Semakin besar anomali tersebut, semakin kuat fenomena yang terjadi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara berkala memantau indikator ini untuk menerbitkan peringatan dini kepada publik, termasuk prediksi musim kemarau di berbagai daerah.
Mengapa Perbandingan dengan 2015 Begitu Penting?
El Nino 2015-2016 tercatat sebagai salah satu yang terkuat sejak pencatatan modern dimulai pada 1950-an, sejajar dengan peristiwa besar 1982-1983 dan 1997-1998. Pada 2015, kekeringan panjang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam skala masif, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Berbagai kajian menyebut lebih dari 2 juta hektare lahan terbakar; kabut asapnya bahkan menyebar hingga ke negara tetangga, memaksa ribuan sekolah ditutup dan ratusan ribu orang menderita gangguan pernapasan.
Kini, Menhut Raja Juli Antoni menegaskan bahwa kekuatan El Nino 2026 diprediksi melampaui catatan 2015. Jika prediksi itu akurat, dampaknya berpotensi lebih luas pula: jumlah titik panas (hotspot) yang lebih banyak, area terbakar yang lebih besar, serta musim kemarau yang lebih panjang di sejumlah wilayah. Pemerintah pun menyiapkan langkah antisipasi sejak dini, karena proyeksi semacam ini bersifat dinamis dan bisa berubah seiring perkembangan data terbaru dari lautan dan atmosfer.
Dampak Nyata bagi Hutan, Pangan, dan Kesehatan
Bagi sektor kehutanan, El Nino kuat berarti risiko karhutla meningkat drastis. Hutan gambut yang kering menjadi amunisi utama api: sekali terbakar, api dapat bertahan berminggu-minggu di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan. Bagi pertanian, kekeringan panjang berpotensi menunda masa tanam, menurunkan produksi padi, dan pada akhirnya menekan pasokan pangan nasional. Bagi kesehatan, kabut asap membawa partikel halus PM2.5—polutan berukuran sangat kecil yang mampu menembus paru-paru—sehingga kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) biasanya melonjak di musim kebakaran.
Belajar dari pengalaman 2015, kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan ditaksir mencapai ratusan triliun rupiah, mencakup biaya pemadaman, kerugian hasil hutan, gangguan transportasi udara, hingga menurunnya kunjungan wisatawan. Angka sebesar itulah yang membuat peringatan kali ini tidak boleh dianggap remeh oleh siapa pun.
Langkah Antisipasi: dari Teknologi hingga Peran Masyarakat
Pemerintah tidak tinggal diam. Sejumlah langkah mitigasi telah disiapkan, antara lain penguatan sistem peringatan dini, pemetaan wilayah rawan kebakaran, patroli terpadu, serta teknologi modifikasi cuaca (TMC)—teknik menaburkan garam halus ke awan agar hujan turun lebih cepat di area yang membutuhkan. Upaya ini ibarat memadamkan kompor sebelum apinya membesar: jauh lebih murah dan efektif dibandingkan memadamkan kebakaran yang sudah meluas.
Namun teknologi saja tidak cukup. Peran masyarakat sangat menentukan: tidak membuka lahan dengan cara membakar, melaporkan titik api sejak dini, menghemat air selama musim kemarau, serta memantau informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait. Dengan kolaborasi antara pemerintah, ilmuwan, dan warga, dampak El Nino 2026 yang diprediksi lebih kuat dari 2015 setidaknya dapat ditekan seminimal mungkin.
Pesan yang ingin disampaikan jelas: semakin cepat semua pihak bersiap, semakin kecil pula risiko yang harus ditanggung. El Nino memang fenomena alam yang sulit dicegah, tetapi kerugian akibat kelalaian sepenuhnya bisa dihindari.
Comments (0)