BRI Sukses Tekan Biaya Dana Lewat Strategi Penguatan CASA
JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan pencapaian signifikan dalam transformasi struktur pendanaan sepanjang tahun terakhir. Fokus ag
Fondasi Strategi: Mengapa BRI Fokus pada CASA
Transformasi pendanaan BRI bukanlah langkah instan. Sejak beberapa tahun terakhir, manajemen secara sadar mengalihkan fokus dari instrumen dana mahal seperti deposito berjangka menuju penghimpunan dana transaksional melalui rekening giro dan tabungan. Dana jenis ini memiliki karakteristik sticky—cenderung bertahan lama dan sensitivitasnya rendah terhadap fluktuasi suku bunga. Dengan kata lain, semakin besar porsi CASA, semakin rendah rata-rata bunga yang harus dibayarkan bank kepada nasabah, sehingga cost of fund (CoF) dapat ditekan drastis.
Strategi ini diperkuat oleh pengembangan ekosistem digital yang masif. Aplikasi perbankan BRImo, platform korporasi QLola by BRI, Business Merchant, hingga jaringan QRIS BRI menjadi pengumpul dana transaksional yang bekerja selama 24 jam. Setiap transaksi yang melewati kanal-kanal ini berpotensi mengendap sebagai saldo CASA, menciptakan putaran dana murah yang terus menggelinding.
Kronologi Transformasi Pendanaan BRI
- Triwulan I 2025 — Baseline Sebelum Transformasi Masif
Pada periode ini, cost of fund BRI tercatat sebesar 2,98%, dengan rasio CASA terhadap total DPK berada di level 65,77%. Angka ini sudah cukup baik secara industri, namun manajemen melihat potensi penghematan yang lebih besar melalui optimalisasi kanal digital dan repositioning produk simpanan. - Sepanjang 2025 — Akselerasi Digital & Repricing Produk
BRI mempercepat migrasi nasabah ke platform digital BRImo, memperluas akuisisi pengguna baru melalui QRIS dan Business Merchant, serta melakukan repricing selektif terhadap produk deposito. QLola by BRI dioptimalkan untuk menjaring dana kelolaan institusi dan perusahaan dengan pola transaksional tinggi. Secara paralel, Danantara melalui BPI memberikan arahan penguatan fundamental BUMN perbankan. - Triwulan I 2026 — Hasil Konkret Mulai Terlihat
Transformasi berbuah manis. Cost of fund BRI anjlok ke 2,33%—turun 65 basis poin secara tahunan. Rasio CASA melesat menjadi 68,07% dari total DPK yang mencapai Rp1.555,1 triliun (tumbuh 9,4% YoY). Secara nominal, CASA BRI kini menyentuh Rp1.058,6 triliun. Penurunan CoF ini berarti BRI menghemat ratusan miliar rupiah dalam beban bunga yang sebelumnya harus dibayarkan kepada pemilik dana mahal. - Dampak ke Profitabilitas & Pertumbuhan Aset
Efisiensi pendanaan langsung menopang kinerja bottom line. Laba bersih konsolidasian BRI pada Triwulan I 2026 melonjak 13,7% YoY menjadi Rp15,5 triliun. Total aset BRI Group tumbuh 7,2% YoY menjadi Rp2.250 triliun, sementara kredit dan pembiayaan naik 13,7% menjadi Rp1.562 triliun. Pertumbuhan kredit ini sejalan dengan penurunan CoF—dana murah yang berhasil dihimpun memungkinkan BRI menyalurkan kredit dengan suku bunga kompetitif tanpa mengorbankan margin.
Supervisi Danantara dan Agenda Penciptaan Nilai
Keberhasilan BRI menekan biaya dana tidak terlepas dari arahan strategis Danantara yang mendorong BUMN perbankan untuk memperkuat fundamental dan menciptakan nilai jangka panjang. Melalui BPI Danantara Indonesia, perseroan mendapatkan supervisi dalam mengelola struktur pendanaan secara lebih disiplin dan terukur. Perbaikan CoF ini menjadi bukti bahwa transformasi yang dijalankan berhasil menyeimbangkan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi operasional, dan pengelolaan risiko di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Pernyataan Manajemen
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa penguatan CASA merupakan pilar utama program transformasi yang tengah dijalankan. “Peningkatan CASA memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya dana dan kualitas struktur pendanaan Perseroan. Adapun tingginya volume transaksi terjadi pada berbagai kanal digital seperti BRImo, QLola by BRI, Business Merchant, dan QRIS BRI. Dengan fondasi yang semakin kuat, BRI dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, profitabilitas, dan pengelolaan risiko,” ujar Hery.
Prospek ke Depan
Dengan struktur pendanaan yang kian sehat, BRI memiliki ruang manuver lebih luas untuk ekspansi kredit di segmen UMKM—sektor inti yang menjadi DNA bisnis bank ini. Penurunan CoF juga membentengi profitabilitas dari potensi tekanan suku bunga global yang masih fluktuatif. Jika tren ini berlanjut, BRI berpeluang menjaga margin bunga bersih di level optimal tanpa mengorbankan daya saing suku bunga kreditnya.
Comments (0)