Bos Damri Ungkap Keprihatinan: 416 Bus Perintis di Daerah Terpencil Berusia di Atas 7 Tahun
Laporan Terdepan.id, Jakarta - Direktur Utama Perum Damri, Setia Milatia Moemi, menyampaikan kegelisahannya terkait kondisi angkutan perintis yang melayani rute-rute terpencil di Indonesia. Dalam pap
Laporan Terdepan.id, Jakarta - Direktur Utama Perum Damri, Setia Milatia Moemi, menyampaikan kegelisahannya terkait kondisi angkutan perintis yang melayani rute-rute terpencil di Indonesia. Dalam paparannya di hadapan anggota DPR, ia menyoroti permasalahan serius yang mengancam keselamatan dan kenyamanan penumpang: usia operasional armada yang sudah sangat tua.
Setia mengungkapkan, saat ini terdapat 416 unit bus perintis yang telah beroperasi lebih dari tujuh tahun. Jumlah tersebut mencakup sebagian besar armada yang ditempatkan di wilayah-wilayah sulit dijangkau. Menurutnya, usia kendaraan yang sudah melampaui batas ideal ini menimbulkan kekhawatiran mendalam, terutama dari sisi keamanan dan efisiensi operasional. “Bus-bus ini sebenarnya sudah tidak produktif lagi,” ujarnya, menekankan bahwa kondisi ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut nyawa manusia.
Risiko Keselamatan Mengintai
Armada yang berusia uzur tersebut dinilai berisiko tinggi mengalami kerusakan mendadak, terutama pada sistem pengereman, kemudi, dan rangka kendaraan. Lokasi operasional yang terpencil dengan medan berat semakin memperburuk tekanan pada mesin dan komponen lainnya. Kerusakan di tengah perjalanan, di area dengan akses bengkel terbatas, bisa berakibat fatal bagi penumpang maupun awak bus.
Menyadari bahaya ini, manajemen Damri selama ini melakukan berbagai upaya modifikasi dan perawatan ekstra agar bus-bus tersebut tetap dapat beroperasi dengan tingkat keamanan yang memadai. Setia menjelaskan, tim teknis kerap melakukan retrofit pada bagian-bagian vital, seperti penggantian sistem kelistrikan, perbaikan sasis, hingga penyesuaian desain kabin untuk meningkatkan kenyamanan. Namun, ia menegaskan bahwa langkah-langkah ini hanyalah solusi sementara yang tidak bisa terus diandalkan.
Panggilan untuk Regenerasi Armada
Dalam kesempatan tersebut, Bos Damri secara terbuka meminta dukungan DPR untuk mempercepat proses regenerasi armada perintis. Idealnya, bus-bus di rute terpencil perlu diganti secara berkala untuk menjaga standar layanan dan keselamatan. “Kami berharap ada kebijakan dan alokasi anggaran yang lebih responsif agar transportasi perintis tidak menjadi transportasi yang membahayakan,” tandas Setia.
Ia menambahkan, investasi pada bus baru bukan sekadar pembelian unit, melainkan bagian dari komitmen negara untuk menghubungkan wilayah tertinggal. Tanpa peremajaan, layanan publik ini terancam kian terpuruk dan gagal memenuhi fungsinya sebagai urat nadi mobilitas masyarakat di pelosok.
Dengan pengungkapan ini, sorotan kini tertuju pada respons pemerintah dan parlemen terhadap kondisi darurat armada perintis yang selama ini menjadi tulang punggung konektivitas di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).
Comments (0)