Bertahan 17 Tahun, Usaha Tempe Bambang Kini Renovasi Rumah dan Pasok Program Makan Bergizi

Suara gergaji dan pukulan palu menyambut siapa pun yang datang ke kediaman Bambang Setiawan di kawasan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi. Sejumlah pekerja tampak sibuk membenahi bagian depan rumah y

Jul 08, 2026 - 18:39
0 0
Bertahan 17 Tahun, Usaha Tempe Bambang Kini Renovasi Rumah dan Pasok Program Makan Bergizi

Suara gergaji dan pukulan palu menyambut siapa pun yang datang ke kediaman Bambang Setiawan di kawasan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi. Sejumlah pekerja tampak sibuk membenahi bagian depan rumah yang tengah menjalani renovasi besar-besaran. Pemandangan itu menjadi penanda hasil kerja keras Bambang selama hampir dua dekade terakhir. Usaha tempe warisan ayahnya yang semula sederhana kini telah menjadi sumber kehidupan yang terus bertumbuh, bahkan mampu membiayai perbaikan tempat tinggal sekaligus berkontribusi pada program pemerintah.

Bambang mengambil alih bisnis keluarga ini pada 2009, namun kisahnya tidak dimulai dari posisi atas. Jauh sebelum memegang kendali, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai pekerja di dapur produksi yang sama, membersihkan kedelai, mengaduk ragi, dan membungkus tempe satu per satu. “Saya enggak langsung jadi bos. Dulu saya angkut karung, nyuci, sampai tahu rasanya diomeli pelanggan. Dari situ saya belajar bahwa usaha ini harus dijalani dengan hati,” ujarnya saat ditemui di sela pemantauan renovasi.

Kalau enggak pernah jadi pekerja, kita enggak akan ngerti susahnya di bawah. Sekarang saya bisa mengelola karena pernah merasakan semuanya sendiri.

Strategi Bambang sederhana namun konsisten: ia mempertahankan cita rasa tempe buatan asli warisan sang ayah sambil terus memperluas jangkauan. Dari awalnya hanya memasok ke beberapa warung sekitar Cikarang, kini daftar pelanggannya mencakup kantin sekolah, katering, hingga mitra program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh pemerintah. Keterlibatan dalam program tersebut menjadi lompatan signifikan, mendorong volume produksi naik hingga dua kali lipat dalam setahun terakhir. Untuk memenuhi kebutuhan itu, Bambang merekrut lima pekerja tetap dari warga sekitar dan mengganti tungku kayu dengan peralatan stainless steel bersertifikasi layak higiene.

Perjalanannya tidak selalu mulus. Saat krisis ekonomi melanda dan harga kedelai impor melonjak pada 2013, ia nyaris menutup usaha. Bambang menceritakan bahwa ia pernah hanya mampu membeli setengah kuintal kedelai dan harus meracik formula pengganti untuk sementara waktu. “Waktu itu berat sekali. Tapi saya ingat pesan bapak, tempe ini bukan sekadar dagangan, tapi cara kami bertahan hidup,” kenangnya. Pelan-pelan ia menyisihkan pendapatan untuk kembali membeli bahan baku penuh dan mencari pemasok lokal agar tidak sepenuhnya bergantung pada impor.

Kini, hasil jerih payah itu terlihat jelas. Renovasi rumah yang dimulai awal tahun ini mencakup perluasan teras, perbaikan atap, dan penambahan ruang penyimpanan kedelai yang lebih modern. Tetangga dan pelanggan setia turut mengapresiasi, karena Bambang dikenal tidak pernah menaikkan harga secara tiba-tiba meski biaya produksi berfluktuasi. “Dia selalu bilang, yang penting pelanggan senang dan anak-anak dapat makanan bergizi,” ujar Yanti, salah satu pemilik warung yang sudah 15 tahun mengambil tempe dari Bambang.

Dengan kapasitas produksi yang kini mencapai 200 kilogram kedelai per hari, Bambang berencana memperluas distribusi ke kota-kota sekitar seperti Karawang dan Purwakarta. Ia juga tengah mengurus sertifikasi halal dan izin edar agar produknya bisa masuk ke ritel modern. Semua langkah itu tetap dijalani dengan prinsip yang sama seperti ketika ia masih menjadi pekerja di dapur ayahnya: menjaga mutu, tidak mengeluh, dan berbagi rezeki dengan sesama. Laporan ini disusun oleh tim Terdepan.id di Cikarang Selatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter Fintech. Reporter fintech dan pembayaran digital.

Comments (0)

User