Sahabat Kenang Dokter Icha sebagai Pribadi Rajin dan Ramah yang Menebar Kebaikan

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Apabila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan pemikiran untuk bunuh diri

Jul 08, 2026 - 18:39
0 0
Sahabat Kenang Dokter Icha sebagai Pribadi Rajin dan Ramah yang Menebar Kebaikan

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Apabila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda kepada pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, atau klinik kesehatan mental terdekat.

Kepergian dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang akrab disapa Icha, menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya. Dokter muda berusia 27 tahun itu ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung, diduga kuat akibat depresi yang dipicu oleh intimidasi dari dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Timor Tenggara Utara (TTU).

Salah satu sahabat terdekat almarhumah, dr. Pito Jella, mengenang sosok Icha sebagai pribadi yang luar biasa rajin dan selalu ramah kepada siapa pun tanpa memandang latar belakang. Kenangan itu ia bagikan dalam suasana haru saat dihubungi awak media pada Senin (29/6/2026).

"Kami sudah bersahabat selama sepuluh tahun. Sejak awal masuk kuliah, dia selalu menjadi orang yang paling rajin di antara kami. Bukan hanya dalam urusan akademik, tapi juga dalam membangun relasi dengan sesama. Dia ramah ke semua orang, tidak pernah membeda-bedakan," ujar Pito mengenang.

Persahabatan mereka bermula pada tahun 2016, saat keduanya diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana (Undana) di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sepuluh tahun kebersamaan itu telah membentuk ikatan yang begitu erat di antara mereka. Pito menyaksikan langsung bagaimana Icha tumbuh menjadi sosok dokter yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki empati dan kepedulian tinggi terhadap sesama.

Menurut penuturan Pito, tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya bahwa sahabat yang ia kenal begitu ceria dan penyayang itu menyimpan beban psikologis seberat itu. "Dia selalu terlihat tegar dan ceria di hadapan kami. Mungkin itu sebabnya kami semua sangat terpukul," tambahnya.

Kasus yang menimpa dr. Icha ini menyoroti betapa seriusnya dampak intimidasi dan tekanan psikologis terhadap kesehatan mental seseorang, terlepas dari profesi atau latar belakang pendidikannya. Para tenaga kesehatan pun tidak luput dari kerentanan terhadap gangguan kesehatan mental, terutama ketika menghadapi situasi di luar kapasitas dan kendali mereka.

Kabar duka ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat luas tentang pentingnya membangun sistem dukungan yang kuat dan akses terhadap layanan kesehatan mental yang memadai. Lingkungan sekitar memiliki peran vital dalam mengenali tanda-tanda awal seseorang yang mungkin sedang berjuang melawan depresi atau tekanan psikologis berat.

Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga dan sahabat masih berusaha mengikhlaskan kepergian dr. Icha. Mereka berharap agar kasus yang menimpa sang dokter dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, dan mendorong penegakan keadilan atas dugaan intimidasi yang menjadi pemicu tragedi ini. Tim Terdepan.id terus memantau perkembangan kasus ini dan akan menyampaikan informasi terbaru kepada pembaca.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter Startup. Reporter startup dan ekosistem pendanaan.

Comments (0)

User