Alarm Bahaya Mengintai Argentina di Perempat Final Piala Dunia 2026
New Jersey, Amerika Serikat — Langit malam di MetLife Stadium memantulkan kilau lampu stadion yang menyilaukan, namun sorot wajah Lionel Messi justru mered
New Jersey, Amerika Serikat — Langit malam di MetLife Stadium memantulkan kilau lampu stadion yang menyilaukan, namun sorot wajah Lionel Messi justru meredup dalam kelelahan. Argentina memang berhasil melaju ke perempat final Piala Dunia 2026, tetapi perjalanan juara bertahan itu jauh dari kata mulus. Setelah menang dramatis lewat adu penalti melawan Kroasia di babak 16 besar, La Albiceleste justru meninggalkan lebih banyak tanda tanya daripada keyakinan.
Di ruang ganti yang pengap, para pemain Argentina merayakan kemenangan dengan nada yang aneh—campuran antara lega dan was-was. Tidak ada tarian liar seperti di Qatar empat tahun lalu. Tidak ada teriakan euforia yang memekakkan telinga. Hanya tatapan kosong dan tubuh-tubuh yang ambruk ke bangku, seolah baru saja selamat dari badai yang hampir menenggelamkan mereka.
"Ini bukan Argentina yang kita kenal," gumam seorang jurnalis Argentina di tribune pers, sambil mengetik cepat di laptopnya. Dan ia benar.
Perjalanan Tersendat Sang Juara Bertahan
Jika ada kata yang paling tepat menggambarkan langkah Argentina sepanjang turnamen ini, itu adalah tersendat. Sejak fase grup, skuad asuhan Lionel Scaloni sudah menunjukkan kerapuhan yang tak biasa. Mereka memang keluar sebagai juara Grup H, tetapi hasil imbang 1-1 melawan Mesir dan kemenangan tipis 2-1 atas Korea Selatan menyisakan lebih banyak kritik daripada pujian. Baru di laga ketiga melawan Selandia Baru, Argentina tampil meyakinkan dengan kemenangan 4-0. Namun euforia itu semu. Selandia Baru bukanlah barometer sesungguhnya, dan para pengamat sepak bola dunia sudah mulai mencium aroma bahaya. Fakta kunci: Argentina hanya mencatatkan satu clean sheet sepanjang fase grup—itu pun melawan tim terlemah di grup. Dalam tiga laga lainnya (termasuk babak 16 besar), gawang Emiliano Martínez selalu kebobolan lebih dulu sebelum tim bangkit.Lini Tengah yang Kehilangan Jiwa
Absennya Rodrigo De Paul akibat akumulasi kartu kuning di perempat final nanti menjadi pukulan telak. Gelandang Atlético Madrid itu adalah jantung sekaligus paru-paru permainan Argentina. Tanpa dirinya, lini tengah kehilangan agresivitas, kehilangan transisi cepat, dan yang paling mengkhawatirkan—kehilangan pengawal setia Messi. "Rodrigo bukan sekadar pemain, dia adalah perpanjangan kaki Messi di lapangan," ujar Scaloni dalam konferensi pers pasca-pertandingan. Ia menambahkan dengan nada cemas, "Kami harus menemukan solusi, dan waktu kami sangat sempit." Pilihan pengganti terbatas. Guido Rodríguez terlalu defensif, sementara Exequiel Palacios masih belum konsisten. Alternatif muda seperti Facundo Buonanotte masih terlalu hijau untuk panggung sebesar ini. Dilema ini membuat banyak pihak mempertanyakan kedalaman skuad Argentina.Messi dan Beban yang Tak Lagi Ringan
Di usianya yang ke-39, Messi masih menjadi talisman utama. Namun ritme permainannya mulai menunjukkan celah. Melawan Kroasia, ia memang mencetak gol penyama kedudukan lewat tendangan bebas magis di menit ke-78—sebuah momen yang mengingatkan dunia mengapa ia dianggap dewa sepak bola. Namun di sepanjang 120 menit pertandingan, La Pulga lebih banyak berjalan kaki. Statistik mencatat, Messi hanya melakukan 17 sprint sepanjang laga—jumlah terendahnya dalam sejarah partisipasi Piala Dunia. Ia juga kehilangan penguasaan bola sebanyak 11 kali, terbanyak di antara semua pemain Argentina."Dia manusia, bukan mesin. Tapi ketika Messi berjalan, Argentina ikut berjalan. Itu realitas yang tidak bisa dihindari,"Beban semakin berat karena ekspektasi 47 juta rakyat Argentina tetap setinggi langit Andes. Mereka ingin La Tercera, trofi ketiga setelah 1978 dan 2022. Mereka ingin Messi menutup karier internasionalnya dengan keabadian sempurna. Dan harapan itu kini terasa seperti albatros yang menggantung di leher setiap pemain.
— Jorge Valdano, legenda sepak bola Argentina, dalam kolomnya di El País.
Comments (0)