Washington D.C. — Trump Tolak Seruan Netanyahu, AS Lanjutkan Penjualan F-35 ke Turki

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menolak permintaan pribadi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang melobi agar Washington menghen

Jul 09, 2026 - 14:52
0 1
Washington D.C. — Trump Tolak Seruan Netanyahu, AS Lanjutkan Penjualan F-35 ke Turki

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menolak permintaan pribadi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang melobi agar Washington menghentikan rencana penjualan jet tempur siluman F-35 ke Turki. Keputusan ini menandai babak baru dalam dinamika aliansi strategis di kawasan Timur Tengah, sekaligus menguji soliditas hubungan AS-Israel yang selama ini menjadi pilar stabilitas regional. Netanyahu sebelumnya mengutarakan keberatan langsung kepada Trump, menekankan bahwa kehadiran F-35 di Turki berpotensi mengikis keunggulan militer kualitatif (Qualitative Military Edge / QME) Israel — sebuah keunggulan yang telah dijamin oleh undang-undang AS selama lebih dari satu dekade.

Konteks Historis: Dari Sanksi Hingga Rekonsiliasi Strategis

Hubungan pertahanan AS-Turki sempat membeku setelah Ankara membeli sistem rudal S-400 buatan Rusia pada 2017–2019. Keputusan itu memicu serangkaian sanksi dan pengusiran Turki dari program F-35 pada 2019, meskipun Turki sudah membayar sebagian biaya pengembangan dan memesan 100 unit F-35A. Berikut adalah kronologi singkat peristiwa yang membentuk lanskap geopolitik saat ini:

  1. 2017: Turki menandatangani kesepakatan pembelian sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia, memicu kekhawatiran di kalangan NATO tentang interoperabilitas dan keamanan data.
  2. Juli 2019: AS secara resmi menangguhkan keikutsertaan Turki dalam program F-35 dan membekukan pengiriman jet yang telah dijadwalkan, dengan alasan risiko integrasi S-400 dapat membocorkan data sensitif radar siluman ke Rusia.
  3. 2022–2024: Perang Rusia-Ukraina dan ketegangan di Laut Mediterania mendorong AS untuk mengevaluasi kembali hubungan dengan Turki, anggota NATO terbesar kedua dalam hal kekuatan militer. Diplomasi intensif menghasilkan pembicaraan tentang kemungkinan pengaktifan kembali keanggotaan F-35 Turki sebagai bagian dari strategi memperkuat sisi selatan aliansi.
  4. Januari 2025: Pemerintahan Trump membuka kembali jalur komunikasi resmi dengan Ankara mengenai penjualan F-35 dalam jumlah terbatas, sebagai bagian dari paket kerja sama strategis yang lebih luas termasuk kerja sama kontra-terorisme dan stabilitas Suriah pasca-Assad.

Lobi Pribadi Netanyahu: Argumentasi dan Strategi

Netanyahu, yang telah menjalin hubungan dekat dengan Trump sejak masa jabatan pertama Trump di Gedung Putih (2017–2021), menggunakan akses langsung tersebut untuk melancarkan lobi tingkat tinggi. Sumber diplomatik di Washington mengonfirmasi bahwa Netanyahu secara pribadi menyampaikan kekhawatiran mendalam Israel dalam pertemuan tertutup dengan Trump. Berikut adalah rincian kronologis dan substansi lobi tersebut:

  1. Februari 2025: Netanyahu bertemu Trump di Mar-a-Lago, Florida, dalam kunjungan yang awalnya dijadwalkan untuk membahas normalisasi Arab Saudi-Israel. Namun, agenda pembicaraan melebar hingga mencakup penjualan F-35 ke Turki.
  2. Argumen inti Netanyahu: Israel menekankan bahwa Turki, sebagai mitra Hamas dan pengkritik vokal operasi militer Israel, tidak dapat dipercaya memegang teknologi siluman paling sensitif milik AS. Jet F-35 akan mengubah kalkulus kekuatan udara secara dramatis — Turki akan memiliki lebih dari 100 F-35 yang secara teoritis mampu mendeteksi dan menargetkan pesawat tempur Israel, termasuk F-35I Adir Israel sendiri.
  3. Senjata diplomatik Israel: Netanyahu mengingatkan Trump bahwa Kongres AS telah lama menjamin QME Israel, termasuk melalui Undang-Undang Keamanan Kerja Sama Israel 2023 yang mewajibkan presiden untuk mensertifikasi bahwa setiap penjualan senjata besar ke kawasan tidak mengancam keunggulan Israel.
  4. Maret 2025: Menteri Pertahanan Israel dan Kepala Mossad ikut melakukan kunjungan tertutup ke Washington untuk memperkuat pesan Netanyahu, mengingatkan bahwa Turki di bawah Presiden Erdogan semakin memperkuat hubungan dengan Iran dan Rusia.

Keputusan Final Trump: Realpolitik dan Perhitungan Strategis

Meskipun mendapat tekanan kuat dari sekutu terdekatnya di Timur Tengah, Trump akhirnya memutuskan untuk melanjutkan rencana penjualan F-35 ke Turki. Keputusan ini diumumkan pada April 2025 melalui pernyataan resmi Departemen Luar Negeri yang menegaskan bahwa penjualan tersebut sejalan dengan kepentingan keamanan nasional AS. Berikut kronologi pengambilannya:

  1. Awal April 2025: Trump menginstruksikan Menteri Luar Negeri Marco Rubio untuk memproses penjualan kembali F-35 ke Turki, dengan syarat Turki harus memastikan bahwa S-400 tetap non-operasional dan disimpan di luar wilayah strategis yang dapat membahayakan interoperabilitas NATO.
  2. Pertengahan April 2025: Dalam percakapan telepon dengan Netanyahu, Trump mengkonfirmasi penolakan resmi atas permintaan Israel. Trump menekankan bahwa Turki adalah sekutu NATO yang penting dan bahwa AS tidak dapat terus-menerus mengabaikan permintaan perangkat keras canggih dari Ankara, terutama di tengah meningkatnya ancaman dari poros Iran-Rusia.
  3. Reaksi Israel: Pejabat tinggi Israel menyatakan "kekecewaan mendalam", meskipun tidak ada retorika publik yang konfrontatif. Seorang perwira senior IDF menyebut keputusan ini "pukulan terhadap postur pertahanan" Israel, namun menekankan bahwa kerja sama intelijen dan militer AS-Israel tetap tidak terganggu.
  4. Reaksi Turki: Ankara melalui Kementerian Pertahanan menyambut positif keputusan tersebut, menyebutnya sebagai "normalisasi hubungan pertahanan yang sempat tertunda", dan menegaskan komitmen Turki untuk mengintegrasikan F-35 ke dalam sistem komando NATO.

Keputusan Trump mencerminkan pergeseran prioritas di mana aliansi NATO dan keseimbangan kekuatan global mengalahkan kekhawatiran bilateral Israel. Bagi Washington, mempertahankan Turki dalam orbit militer Barat dinilai lebih krusial daripada memuaskan seluruh tuntutan keamanan Israel, meskipun kedua hubungan tetap menjadi pilar kebijakan luar negeri AS. Perkembangan ini akan terus dipantau, terutama menjelang pengiriman unit F-35 pertama yang diharapkan dimulai pada kuartal ketiga 2026.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User