Venezuela Minta Raja Charles Kembalikan 31 Ton Emas yang Ditahan Inggris
Pemerintah Venezuela secara resmi mengajukan permohonan kepada Raja Charles III agar Inggris melepaskan 31 ton emas batangan milik bank sentral Venezuela y
Pemerintah Venezuela secara resmi mengajukan permohonan kepada Raja Charles III agar Inggris melepaskan 31 ton emas batangan milik bank sentral Venezuela yang telah dibekukan di Bank of England (BOE) sejak 2019. Permintaan ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk membiayai rekonstruksi pasca-gempa bumi dahsyat yang melanda wilayah utara negara itu awal bulan ini. Aset senilai hampir $1,95 miliar tersebut menjadi perebutan panjang antara pemerintahan Nicolás Maduro dan oposisi yang sebelumnya diakui Inggris, dan kini krisis kemanusiaan akibat bencana alam menambah urgensi penyelesaian sengketa.
Latar Belakang Sengketa Emas di Bank of England
- 2018–2019: Inggris dan puluhan negara lain mengakui Juan Guaidó sebagai presiden sementara Venezuela, menolak legitimasi hasil pemilu Nicolás Maduro.
- 2019: Bank of England membekukan akses Venezuela terhadap cadangan emas seberat 31 ton yang disimpan di brankasnya, setelah menerima petunjuk dari pemerintah Inggris yang kala itu mengakui Guaidó.
- 2020–2023: Pengadilan Inggris bergulir dalam sengketa kepemilikan. Pengadilan Tinggi sempat memutuskan bahwa pemerintah Inggris secara sah mengakui Guaidó, namun keputusan itu dibatalkan oleh Court of Appeal pada 2022, yang menyatakan perlu klarifikasi lebih lanjut soal siapa pemegang kedaulatan Venezuela yang diakui London.
- 2024: Mahkamah Agung Inggris mengembalikan kasus ke pengadilan niaga untuk peninjauan fakta. Sementara itu, posisi politik Inggris mulai melunak seiring meredanya krisis politik Venezuela dan tidak lagi ada pengakuan tunggal terhadap Guaidó, tapi aset tetap dibekukan.
Kronologi Gempa dan Permohonan Resmi kepada Raja Charles
- 1 April 2025: Gempa berkekuatan 7,2 magnitudo mengguncang pesisir utara Venezuela, menewaskan lebih dari 1.200 orang dan meluluhlantakkan infrastruktur di negara bagian Vargas, Aragua, dan Miranda.
- 3 April: Palang Merah Venezuela menyatakan kebutuhan dana darurat mencapai $800 juta untuk penanganan korban dan rehabilitasi awal.
- 7 April: Presiden Nicolás Maduro dalam pidato nasional mengumumkan akan mengajukan permohonan langsung kepada Raja Charles III, menyebut bahwa “rakyat Venezuela tidak bisa menunggu proses hukum yang lambat sementara ribuan warga kehilangan tempat tinggal.”
- 10 April: Surat resmi bertanggal 9 April 2025 dikirim melalui Kedutaan Besar Venezuela di London, memohon raja—sebagai simbol konstitusional—untuk mendorong pembebasan emas tersebut atas dasar kemanusiaan.
- 12 April: Istana Buckingham mengonfirmasi penerimaan surat namun tidak memberikan komentar, menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan kewenangan pemerintah Britania Raya dan lembaga hukum.
Respon Pemerintah Inggris dan Jalan ke Depan
- Kementerian Luar Negeri Inggris menyatakan “bersimpati atas penderitaan rakyat Venezuela” namun tetap menunggu proses pengadilan yang sedang berjalan. Juru bicara menambahkan bahwa pencairan aset harus sesuai dengan putusan pengadilan niaga yang dijadwalkan memberikan keputusan pada September 2025.
- Oposisi Venezuela yang pernah diwakili Guaidó dan kini terpecah kehilangan pengaruh, sehingga jalur diplomatik Maduro ke negara-negara Eropa semakin terbuka. Spanyol dan Prancis dilaporkan mendukung pencairan dana kemanusiaan dari emas yang dibekukan.
- Bank of England tidak dapat bertindak tanpa instruksi hukum yang jelas. Dilema muncul: emas tersebut merupakan aset negara yang sah, tetapi kepemilikan politiknya masih dipersengketakan. Akan tetapi, pakar hukum menilai bencana alam bisa menjadi “perubahan keadaan material” yang dipertimbangkan hakim untuk mempercepat putusan sela.
- Venezuela mengancam akan membawa kasus ini ke Pengadilan Internasional jika tidak ada kemajuan, sembari tetap berharap lobi kemanusiaan ke Raja Charles mampu memecah kebuntuan politik di Westminster.
Hingga kini, 31 ton emas tersebut tetap diam di ruang baja bawah tanah Bank of England. Sementara itu, tim penyelamat di Venezuela terus bekerja di tengah reruntuhan, dan pemerintah kian terdesak oleh krisis fiskal untuk segera memulihkan wilayah terdampak. Apakah solidaritas kemanusiaan mampu menembus kebuntuan birokrasi dan politik internasional? Jawabannya akan sangat menentukan wajah rekonstruksi Venezuela dalam beberapa bulan mendatang.
Comments (0)