Trauma Bullying Toilet Sekolah, Siswa SMP Semarang Hampir 3 Bulan Tak Berani Kembali

Semarang – Sebuah kasus kekerasan di lingkungan pendidikan kembali mencuat di Kota Semarang, Jawa Tengah. Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) diduga menjadi korban perundungan (bullying) y

Jul 07, 2026 - 23:47
0 0
Trauma Bullying Toilet Sekolah, Siswa SMP Semarang Hampir 3 Bulan Tak Berani Kembali

Semarang – Sebuah kasus kekerasan di lingkungan pendidikan kembali mencuat di Kota Semarang, Jawa Tengah. Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) diduga menjadi korban perundungan (bullying) yang dilakukan oleh kakak kelasnya. Tak hanya mendapat tindak kekerasan, korban juga disekap di dalam toilet sekolah, meninggalkan luka psikologis mendalam hingga membuatnya enggan kembali ke bangku pendidikan selama hampir tiga bulan.

Berdasarkan laporan yang diterima Terdepan.id, aksi perundungan tersebut terjadi di lingkungan sekolah dan melibatkan penyekapan serta penganiayaan terhadap korban. Ibu korban yang tidak disebutkan namanya, mengungkapkan kepedihan mendalam saat menceritakan kondisi buah hatinya. Tangisnya pecah saat menemui awak media di kantor Gubernur Jawa Tengah pada Kamis (25/6/2026).

"Kalau berangkat sekolah, anak saya sejak 3 April yang sudah ketahuan itu sudah nggak sekolah. Sementara saya pengin anak saya kembali sekolah karena kan hampir 3 bulan sekolah," ujar ibu korban sembari terisak.

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa pelik situasi yang dihadapi keluarga korban. Kejadian yang telah diketahui sejak awal April itu memaksa sang anak untuk berhenti bersekolah. Trauma akibat disekap dan dianiaya di tempat yang semestinya aman menjadikan sekolah sebagai ruang yang menakutkan. Kondisi ini membuat sang ibu frustrasi—ia ingin anaknya kembali mendapatkan hak pendidikan, namun di sisi lain luka batin anak belum pulih.

Keterangan yang dihimpun Terdepan.id menyebutkan bahwa korban merupakan siswa SMP yang menjadi sasaran aksi senioritas brutal. Toilet yang seharusnya menjadi fasilitas privat berubah menjadi lokasi penyekapan dan penganiayaan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan setempat mengenai langkah penanganan kasus. Kehadiran ibu korban di kantor Gubernur Jateng diduga sebagai upaya mencari keadilan dan mendesak agar kasus ini mendapat perhatian serius dari pemangku kebijakan.

Fenomena bullying di sekolah terus menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Kasus di Semarang ini menambah daftar panjang insiden yang tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga menghancurkan semangat belajar para korban. Hampir tiga bulan tanpa pendidikan formal merupakan kerugian besar bagi perkembangan akademik dan sosial korban. Terdepan.id akan terus memantau perkembangan kasus ini dan mendorong transparansi dari pihak berwenang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Editor Ekonomi Digital. Editor transformasi digital dan ekonomi digital.

Comments (0)

User