Terminal LPG Tanjung Sekong Raih Sertifikasi Hijau Pertama di Dunia

Gas elpiji atau LPG (Liquefied Petroleum Gas/gas petroleum cair) hampir selalu hadir di dapur keluarga Indonesia, mulai dari tabung melon 3 kilogram hingga tabung biru 12 kilogram. Namun, sebelum samp...

Terminal LPG Tanjung Sekong Raih Sertifikasi Hijau Pertama di Dunia

Gas elpiji atau LPG (Liquefied Petroleum Gas/gas petroleum cair) hampir selalu hadir di dapur keluarga Indonesia, mulai dari tabung melon 3 kilogram hingga tabung biru 12 kilogram. Namun, sebelum sampai ke kompor Anda, gas itu singgah di terminal-terminal besar yang beroperasi nyaris tanpa henti, mengonsumsi listrik, dan berpotensi melepaskan emisi. Di sinilah kabar terbaru dari industri energi nasional menjadi penting: Terminal LPG Tanjung Sekong di Banten resmi mengantongi Green Terminal Label Certification dengan peringkat bintang dua, sekaligus tercatat sebagai terminal LPG pertama di dunia yang meraih label hijau tersebut.

Pencapaian ini menempatkan Indonesia di peta global keberlanjutan sektor hilir energi. Selama ini, sorotan dekarbonisasi lebih sering tertuju pada pembangkit listrik atau kendaraan bermotor, sementara infrastruktur distribusi seperti terminal penyimpanan jarang mendapat perhatian. Padahal, ibarat jantung dalam tubuh manusia, terminal adalah organ yang memompa pasokan energi ke seluruh penjuru. Membuat jantung itu lebih bersih berarti memperbaiki kesehatan seluruh sistem.

Apa Itu Green Terminal Label Certification?

Green Terminal Label Certification adalah skema sertifikasi yang menilai kinerja lingkungan sebuah terminal, mulai dari efisiensi energi, pengendalian emisi, pengelolaan limbah, konservasi air, hingga sistem manajemen lingkungan. Ibarat peringkat bintang pada hotel atau label hemat energi pada kulkas dan pendingin ruangan, semakin tinggi bintangnya, semakin baik pula tata kelola hijau fasilitas tersebut.

Peringkat bintang dua yang diraih Tanjung Sekong menunjukkan bahwa terminal ini telah memenuhi serangkaian kriteria keberlanjutan yang ketat dan terverifikasi secara independen. Status pertama di dunia menjadikannya semacam mercusuar, yakni standar yang bisa ditiru terminal lain, baik di dalam maupun luar negeri.

Teknologi dan Inovasi di Balik Layar

Untuk meraih label hijau, sebuah terminal tidak cukup hanya menanam pohon di halaman depan. Penilaian menyentuh aspek teknis yang dalam, antara lain implementasi sistem manajemen energi berbasis data, pemantauan emisi secara berkala, serta penggunaan peralatan dengan konsumsi daya yang lebih efisien. Inovasi pada sisi operasional juga berperan, misalnya optimalisasi jadwal pengisian dan penyaluran agar tidak ada energi yang terbuang percuma.

Pada industri migas modern, pendekatan semacam ini kerap dipadukan dengan teknologi digital. Platform pemantauan daring memungkinkan operator mendeteksi kebocoran kecil sekalipun sejak dini, sementara analitik data membantu menemukan pola pemakaian energi yang bisa dihemat. Ke depan, pemanfaatan machine learning (pembelajaran mesin) untuk perawatan prediktif diproyeksikan menjadi tren, karena mampu memangkas emisi sekaligus biaya operasional dalam satu langkah.

Terminal LPG Tanjung Sekong sendiri dikenal sebagai salah satu simpul distribusi elpiji terbesar di Indonesia. Lokasinya yang strategis di kawasan pesisir Banten menjadikannya gerbang pasokan bagi wilayah Jawa dan sekitarnya. Dengan skala sebesar itu, setiap persen efisiensi yang dicapai berdampak signifikan terhadap jejak karbon rantai pasok energi nasional.

Mengapa Ini Penting bagi Indonesia?

Pertama, capaian ini selaras dengan komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission alias emisi nol bersih pada 2060 atau lebih cepat, serta target penurunan emisi yang tercantum dalam NDC (Nationally Determined Contribution/kontribusi yang ditetapkan secara nasional). Sektor energi adalah penyumbang emisi terbesar, sehingga setiap inisiatif hijau di dalamnya punya bobot besar.

Kedua, sertifikasi ini memperkuat posisi Indonesia dalam percakapan global soal ESG (Environmental, Social, and Governance/lingkungan, sosial, dan tata kelola). Investor dan mitra dagang internasional kini semakin selektif memilih rekanan yang punya rekam jejak keberlanjutan. Label hijau kelas dunia menjadi bukti bahwa pengembangan infrastruktur energi nasional mampu memenuhi standar tersebut.

Ketiga, dan yang paling dekat dengan keseharian, masyarakat kini bisa mengetahui bahwa gas yang mereka pakai untuk memasak disalurkan melalui fasilitas yang dikelola dengan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Ini adalah bentuk disrupsi positif, yakni mengubah cara industri lama beroperasi tanpa mengorbankan pelayanan.

Langkah Selanjutnya: Replikasi dan Peningkatan

Capaian bintang dua ini bukanlah garis akhir. Penelitian dan pengembangan internal diharapkan terus berjalan agar peringkat terminal bisa ditingkatkan pada audit berikutnya, sekaligus membuka jalan bagi terminal dan depo lain di dalam ekosistem perusahaan untuk mengikuti jejak serupa.

Jika model ini berhasil direplikasi, dampaknya bisa berlipat ganda: rantai distribusi energi nasional yang lebih bersih, biaya operasional yang lebih efisien, dan citra industri yang lebih hijau di mata dunia. Terminal LPG Tanjung Sekong kini menjadi bukti awal bahwa transisi energi tidak selalu harus dimulai dari hal besar, melainkan bisa dari satu terminal yang berani berubah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User