Arahan Prabowo: BRIN Kaji BBM Etanol 100 Persen, Apa Dampaknya?

Bagi jutaan pengendara di Indonesia, harga bahan bakar di stasiun pengisian adalah persoalan harian yang langsung menggerogoti isi dompet. Ketergantungan pada impor minyak membuat harga BBM (Bahan Bak...

Arahan Prabowo: BRIN Kaji BBM Etanol 100 Persen, Apa Dampaknya?

Bagi jutaan pengendara di Indonesia, harga bahan bakar di stasiun pengisian adalah persoalan harian yang langsung menggerogoti isi dompet. Ketergantungan pada impor minyak membuat harga BBM (Bahan Bakar Minyak) rentan bergejolak mengikuti pasar global. Karena itu, arahan Presiden Prabowo Subianto kepada BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) untuk mengkaji implementasi BBM campur etanol hingga 100 persen bukan sekadar wacana teknis di laboratorium, melainkan isu yang bisa mengubah cara bangsa ini mengisi tangki kendaraannya.

Arahan tersebut merupakan bagian dari ambisi swasembada energi yang menjadi prioritas pemerintahan saat ini. Jika penelitian ini berhasil, Indonesia berpotensi menekan impor bensin secara besar-besaran sekaligus membuka pasar baru bagi petani tebu, singkong, jagung, hingga sorgum di dalam negeri.

Mengenal Etanol dan Arti Kode E100

Etanol adalah sejenis alkohol yang diproduksi melalui fermentasi bahan nabati kaya gula atau pati, seperti tetes tebu, singkong, jagung, dan nira aren. Ibarat seperti mencampur sirup ke dalam segelas air, pencampuran etanol ke dalam bensin menghasilkan bahan bakar dengan karakter baru. Angka di belakang huruf E menunjukkan kadar etanolnya: E5 berarti 5 persen etanol dan 95 persen bensin, E10 berarti 10 persen etanol, sedangkan E100 berarti etanol murni tanpa campuran bensin sama sekali.

Dari sisi teknologi, etanol punya keunggulan menarik. Nilai oktan atau RON (Research Octane Number) etanol murni mencapai sekitar 108, jauh di atas bensin beroktan 90 maupun 98. Semakin tinggi oktan, semakin tahan bahan bakar terhadap ketukan (knocking) di ruang bakar, sehingga mesin dapat bekerja lebih efisien pada rasio kompresi tinggi. Langkah awal di dalam negeri sebenarnya sudah dimulai: sejak 2023, salah satu produk bensin beroktan 95 yang dijual di sejumlah SPBU besar telah mengandung campuran etanol 5 persen.

Mengapa Etanol Menjadi Pilihan Strategis?

Ada tiga alasan besar di balik dorongan ini. Pertama, ketahanan energi. Konsumsi bensin nasional jauh melampaui produksi kilang dalam negeri, sehingga setiap liter etanol yang dicampur berarti satu liter impor yang bisa ditekan. Kedua, lingkungan. Pembakaran etanol menghasilkan emisi yang lebih rendah karena tanaman penghasilnya menyerap karbon dioksida saat tumbuh, menciptakan siklus karbon yang lebih netral. Ketiga, ekonomi pedesaan. Kebutuhan etanol dalam skala nasional akan menciptakan ekosistem industri bioenergi yang menyerap hasil panen petani dan membuka lapangan kerja baru di sektor pengolahan.

Pemerintah juga sudah memiliki pengalaman serupa lewat program biodiesel B35, yakni campuran 35 persen minyak sawit ke dalam solar yang berjalan sejak 2023 dan disebut berhasil menghemat devisa dalam jumlah besar. Etanol dipandang sebagai pelengkap strategi tersebut untuk sektor kendaraan bensin.

Tantangan Teknis yang Tidak Kecil

Namun, jalan menuju E100 tidak mulus. Kandungan energi etanol per liter sekitar 33 persen lebih rendah dibanding bensin. Artinya, untuk menempuh jarak yang sama, kendaraan membutuhkan volume etanol lebih banyak, sehingga konsumsi bahan bakar terasa lebih boros meski harga per liternya berpotensi lebih murah.

Masalah kedua adalah kompatibilitas mesin. Etanol bersifat lebih korosif dan dapat melarutkan sebagian material karet serta plastik pada sistem bahan bakar kendaraan lama. Ibarat seperti memaksa seseorang yang terbiasa makan nasi untuk tiba-tiba hanya makan roti, mesin yang dirancang untuk bensin murni butuh penyesuaian sebelum bisa menenggak etanol murni. Di sinilah teknologi kendaraan flex-fuel (bahan bakar fleksibel) menjadi kunci: mesin jenis ini dilengkapi sensor dan unit kontrol elektronik yang secara otomatis membaca kadar etanol, lalu menyesuaikan waktu penyemprotan bahan bakar dan pengapian demi efisiensi maksimal.

Tantangan lain meliputi infrastruktur penyimpanan khusus karena etanol mudah menyerap air dari udara, jaringan distribusi baru, serta masalah cold start atau mesin yang lebih sulit dinyalakan pada suhu rendah, meski untuk iklim tropis Indonesia persoalan terakhir ini relatif kecil.

Apa yang Akan Dikerjakan BRIN?

Sebagai lembaga riset negara, BRIN akan memimpin penelitian dan pengembangan menyeluruh: mulai dari uji karakteristik pembakaran di laboratorium, uji ketahanan material komponen mesin, hingga uji jalan menggunakan armada kendaraan sungguhan. Para peneliti juga akan memanfaatkan pemodelan komputasi dan algoritma simulasi untuk memprediksi performa mesin pada berbagai kadar campuran tanpa harus menguji satu per satu secara fisik, sehingga proses kajian berjalan lebih cepat.

Kajian ini sekaligus menjadi platform kolaborasi antara peneliti, industri otomotif, dan calon produsen etanol. Hasilnya akan menjadi dasar peta jalan implementasi: kadar campuran berapa yang aman untuk kendaraan yang sudah beredar, insentif apa yang dibutuhkan industri, serta bagaimana membangun rantai pasok dari kebun hingga nozzle SPBU. Tanpa data yang kuat, kebijakan sebesar ini berisiko menjadi disrupsi yang mengganggu, alih-alih inovasi yang menguntungkan publik.

Belajar dari Pengalaman Brasil

Indonesia tidak perlu memulai dari nol. Brasil menempuh jalan ini sejak meluncurkan program Proálcool pada 1975, dan kini mewajibkan campuran etanol sekitar 27 persen pada seluruh bensinnya. Sejak 2003, mobil flex-fuel mendominasi penjualan kendaraan baru di negara itu, dan banyak pengendaranya mengisi tangki dengan etanol murni karena harganya lebih murah per liter. Amerika Serikat pun telah puluhan tahun memakai campuran E10 sebagai standar bensin nasionalnya.

Pelajaran penting dari kedua negara tersebut: keberhasilan program etanol sangat bergantung pada kepastian pasokan bahan baku, insentif bagi produsen, dan kesiapan armada kendaraan. Transisi dilakukan bertahap dalam hitungan dekade, bukan semalam.

Apa Artinya bagi Pengendara?

Dalam jangka pendek, pengendara kemungkinan besar tidak akan merasakan perubahan drastis. Skenario paling realistis adalah kenaikan kadar campuran secara bertahap, dari E5 menuju E10 atau E15, yang umumnya masih aman bagi mayoritas kendaraan modern tanpa modifikasi. Baru setelah ekosistem kendaraan flex-fuel dan pasokan etanol matang, opsi kadar tinggi seperti E85 hingga E100 terbuka lebar.

Jika seluruh mata rantai berhasil disambung, manfaatnya akan terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari: harga bahan bakar yang lebih stabil karena tidak sepenuhnya bergantung pada harga minyak dunia, udara kota yang lebih bersih, dan uang yang berputar di kebun-kebun dalam negeri alih-alih mengalir ke luar negeri. Kini, semua mata tertuju pada hasil kajian BRIN yang akan menentukan apakah ambisi etanol 100 persen ini layak diwujudkan, dan seberapa cepat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User