Surabaya — Pemerintah Kota Surabaya mengumumkan capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada
Surabaya — PAD Semester I 2026 Capai 98 Persen, Eri Cahyadi: On Track Realisasi PAD yang hampir sempurna dalam enam bulan pertama tahun ini menunjukkan ba
Surabaya — PAD Semester I 2026 Capai 98 Persen, Eri Cahyadi: On Track
Realisasi PAD yang hampir sempurna dalam enam bulan pertama tahun ini menunjukkan bahwa mesin penerimaan daerah bekerja dengan efisiensi tinggi. PAD terdiri dari berbagai sumber mulai dari pajak daerah, retribusi, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, hingga lain-lain pendapatan yang sah. Mencapai 98 persen di paruh pertama berarti Pemkot Surabaya hanya menyisakan 2 persen lagi untuk memenuhi target setahun penuh, sebuah indikator bahwa target tahunan kemungkinan besar akan terlampaui.
Eri Cahyadi dalam evaluasi bulanan memaparkan bahwa capaian ini bukanlah kejutan. “Kami sudah merancang strategi sejak awal tahun. Digitalisasi layanan dan pengetatan administrasi menjadi kunci,” ujarnya saat dikonfirmasi. Tim Terdepan mencatat bahwa Pemkot Surabaya gencar memperluas basis pajak melalui kanal-kanal digital, termasuk integrasi pembayaran dengan platform perbankan dan marketplace lokal. Pendekatan ini memperkecil kebocoran dan mempermudah wajib pajak.
“Kami sudah merancang strategi sejak awal tahun. Digitalisasi layanan dan pengetatan administrasi menjadi kunci.” – Wali Kota Eri Cahyadi
Mekanisme Cerdas di Balik Angka
Untuk memahami bagaimana 98 persen bisa tercapai, bayangkan PAD seperti sebuah mesin dengan tiga komponen utama yang bekerja paralel. Pertama, pajak daerah yang kini dipungut melalui sistem online real-time, kedua retribusi yang tarifnya disesuaikan secara dinamis sesuai volume penggunaan layanan publik, dan ketiga pendapatan dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dikelola dengan standar korporasi. Dengan monitoring berbasis data, setiap anomali penerimaan langsung terdeteksi dan ditindaklanjuti oleh tim fiskal kota.
Pemkot juga mengoptimalkan aset-aset idle. Gedung-gedung dan lahan yang sebelumnya kurang produktif kini disewakan atau dikerjasamakan dengan pihak swasta melalui mekanisme lelang terbuka. Inovasi ini menyumbang lonjakan pos lain-lain PAD yang sah, segmen yang sering diremehkan namun pertumbuhannya paling agresif tahun ini.
Mengapa Stabilitas Fiskal Lokal Penting?
PAD yang kuat berarti Surabaya tidak sepenuhnya bergantung pada transfer pemerintah pusat. Ini memberi ruang gerak lebih leluasa dalam menyusun program pembangunan prioritas, seperti infrastruktur hijau, transportasi publik, dan inklusi digital. Dalam analogi rumah tangga, PAD adalah gaji pokok, sedangkan dana perimbangan adalah bonus. Semakin besar gaji pokok, semakin mandiri pengelolaan keuangan tanpa menunggu bonus cair.
Beberapa poin kunci dari capaian ini:
- Pajak hotel dan restoran pulih 112% berkat meningkatnya kunjungan wisatawan dan acara MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).
- Pajak reklame tumbuh 85% seiring peralihan ke papan digital yang tarifnya lebih tinggi.
- Pajak penerangan jalan stabil di 97%, didorong oleh perluasan kawasan bisnis yang mengonsumsi listrik lebih besar.
- Retribusi parkir melonjak 130% setelah penerapan sistem e-parking yang meminimalkan kebocoran manual.
Dengan sisa waktu enam bulan ke depan, Pemkot Surabaya optimistis realisasi PAD akan menembus 105–110 persen dari target awal. Dana lebih ini rencananya dialokasikan untuk mempercepat proyek smart city tahap ketiga dan pengembangan kawasan ekonomi kreatif di Surabaya Utara. Eri Cahyadi menekankan bahwa prinsip kehati-hatian tetap dipegang—setiap rupiah yang masuk akan dikonversi menjadi layanan publik yang terukur dampaknya.
Bagi warga Surabaya, stabilitas fiskal ini berarti jaminan bahwa proyek-proyek strategis tidak akan mangkrak. Mulai dari revitalisasi trotoar, penambahan armada bus listrik, hingga subsidi internet gratis bagi pelajar, semua bergerak sesuai jadwal. “Kami tidak ingin sekadar mengejar angka, tetapi memastikan angka itu bekerja untuk manusia,” tutup Eri.
Comments (0)