Singapura Siaga: Kabut Asap Karhutla Sumatra-Kalimantan Mengancam

Ketika musim kemarau kembali menandai kalender tahunan, warga Singapura mulai terbiasa menengadah ke langit dengan perasaan cemas. Pemerintah negara kota itu baru saja mengeluarkan peringatan resmi: c...

Singapura Siaga: Kabut Asap Karhutla Sumatra-Kalimantan Mengancam

Ketika musim kemarau kembali menandai kalender tahunan, warga Singapura mulai terbiasa menengadah ke langit dengan perasaan cemas. Pemerintah negara kota itu baru saja mengeluarkan peringatan resmi: cuaca Negeri Singa berpotensi tertutup kabut asap apabila kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan, Indonesia, semakin meluas. Bagi pembaca di Tanah Air, kabar ini bukan sekadar pemberitaan luar negeri—asal muasal asap itu berada di halaman rumah kita sendiri, dan dampaknya pada akhirnya kembali menghantam kita pula.

Ibarat asap dapur yang merembes ke ruang tamu lewat celah ventilasi, partikel hasil pembakaran tidak mengenal garis batas administrasi. Ditiup angin muson, polutan dari Pulau Sumatra dan Kalimantan menyeberangi Selat Malaka dalam hitungan hari, mengubah langit biru Singapura—kota yang bangga menyandang julukan Garden City—menjadi kelabu. Yang dipertaruhkan bukan sekadar pemandangan: kesehatan puluhan juta orang di dua negara sekaligus ikut terancam.

Karhutla dan mekanisme kabut asap

Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di Indonesia hampir selalu memuncak pada musim kemarau, ketika lahan gambut—tanah yang terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang membusuk selama ribuan tahun—mengering dan mudah terbakar. Gambut kering bisa menyala di bawah permukaan tanpa terlihat, menyebar pelan seperti bara di dalam tumpukan arang. Ketika sebagian api dipicu oleh praktik pembakaran lahan untuk membuka area pertanian, api kecil itu bisa berubah menjadi bencana regional.

Dari titik panas yang tersebar, api melepas jutaan ton partikel halus. Partikel inilah, bersama karbon monoksida dan senyawa lain, yang terbawa angin lintas negara. Badan meteorologi dan lingkungan Singapura memantau indikator bernama PSI (Pollutant Standards Index), semacam pengukur tingkat kekotoran udara. Semakin tinggi angka PSI, semakin pekat kabut, dan semakin kuat imbauan agar warga mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Mengapa kabut asap lebih berbahaya dari yang terlihat

Bahaya utama kabut asap bukan pada baunya yang menusuk, melainkan pada partikel mikroskopis berukuran kurang dari 2,5 mikrometer—sekitar sepertiga puluh diameter rambut manusia—yang dikenal sebagai PM2,5. Partikel sekecil itu mampu menembus saluran pernapasan hingga ke paru-paru bahkan masuk ke aliran darah. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita asma adalah yang paling cepat merasakan dampaknya: mata perih, tenggorokan gatal, batuk, hingga gangguan pernapasan akut.

Riset menunjukkan kabut asap lintas batas juga menimbulkan beban ekonomi yang nyata. Pada peristiwa El Niño 2015, World Bank memperkirakan kerugian Indonesia akibat kebakaran mencapai sekitar 16 miliar dolar AS—setara dengan hampir 2 persen produk domestik bruto saat itu. Angka itu belum termasuk biaya kesehatan warga Singapura dan Malaysia yang turut menghirup udara tercemar selama berminggu-minggu.

Pelajaran dari sejarah dan jalan keluar

Kabut asap lintas batas sebenarnya sudah menjadi agenda lama di kawasan. ASEAN (Association of Southeast Asian Nations/Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara) menandatangani kesepakatan penanggulangan kabut asap lintas batas pada 2002, dan Indonesia meratifikasinya pada 2014. Namun peristiwa 2015, 2019, dan 2023—yang kembali diperparah oleh fenomena El Niño—membuktikan bahwa kesepakatan di atas kertas belum cukup tanpa implementasi (penerapan) yang konsisten di lapangan.

Sejumlah langkah nyata sebenarnya sudah berjalan. Indonesia membentuk Badan Restorasi Gambut untuk membasahi kembali lahan gambut yang kering, membangun kanal sekat agar air tidak mengalir keluar, dan mengembangkan teknologi modifikasi cuaca untuk memicu hujan buatan. Teknologi pemantauan titik panas (hotspot) melalui satelit juga terus disempurnakan agar tim pemadam bisa tiba sebelum api membesar. Kuncinya ada pada kecepatan deteksi dan pembasahan lahan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.

Kerja sama regional juga kian penting. Informasi titik panas yang sebelumnya dipertukarkan antarpemerintah kini bisa diakses publik secara nyaris real-time, sehingga tekanan sosial ikut mendorong aparat menindak pelaku pembakaran. Bagi Indonesia, insentif ekonomi menjadi kunci: petani membutuhkan alternatif membuka lahan tanpa membakar, dan komoditas yang diproduksi dari lahan bebas kebakaran perlu mendapat pengakuan di pasar.

Yang perlu kita pahami

Peringatan Singapura kali ini adalah pengingat bahwa ekosistem (sistem hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya) tidak mengenal batas negara. Kebakaran di Sumatra dan Kalimantan bukan hanya masalah domestik: ia menentukan kualitas udara yang dihirup ratusan juta orang di Asia Tenggara. Sebaliknya, perlindungan hutan dan lahan gambut Indonesia adalah investasi kesehatan kawasan yang tidak bisa ditawar.

Kabut asap memang datang dan pergi mengikuti musim, tetapi penyebabnya—lahan gambut yang mengering dan praktik pembakaran—adalah pekerjaan rumah yang menuntut solusi sepanjang tahun. Selama titik panas masih menyala di Sumatra dan Kalimantan, langit Singapura akan terus bergantung pada seberapa serius Indonesia menjaga lahannya sendiri. Inilah disrupsi lingkungan yang tidak bisa diatasi satu negara sendirian: diperlukan kolaborasi lintas batas, inovasi teknologi, dan kemauan politik yang konsisten dari semua pihak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User