Setiap Hari, Pasangan Ini Racik Bumbu Warisan Nenek

Jakarta – Sejak pagi, aroma rempah segar mengepul dari sebuah dapur sederhana di kawasan Jakarta Timur. Di sana, sepasang suami istri, Babah Fina (45) dan

Setiap Hari, Pasangan Ini Racik Bumbu Warisan Nenek

Jakarta – Sejak pagi, aroma rempah segar mengepul dari sebuah dapur sederhana di kawasan Jakarta Timur. Di sana, sepasang suami istri, Babah Fina (45) dan Ummi Labib (42), memulai rutinitas yang telah mereka jalani selama hampir satu dekade: meracik bumbu masak otentik resep sang nenek. Dengan tangan cekatan, mereka memilih kunyit, kemiri, ketumbar, dan aneka rempah pilihan yang diracik menjadi bumbu siap pakai. Resep yang kini menjadi andalan banyak keluarga ini adalah warisan berharga yang tak ternilai.

Warisan Resep yang Tak Lekang Zaman

Berawal dari sebuah buku catatan lusuh milik almarhumah nenek Ummi Labib, pasangan ini mulai menekuni dunia bumbu racik pada tahun 2015. Awalnya hanya untuk konsumsi pribadi, namun banyak tetangga dan kerabat yang terpikat kelezatan masakan dengan bumbu buatan mereka. “Nenek selalu bilang, bumbu adalah jiwa masakan. Kalau bumbunya benar, masakan akan berbicara sendiri,” ujar Ummi Labib, seraya menunjukkan lembaran resep bertuliskan tangan yang kini sudah dilaminasi.

Dengan resep yang diwariskan secara turun-temurun, setiap bumbu memiliki takaran yang presisi dan proses pengolahan yang tak boleh dipotong kompas. Babah Fina, yang semula bekerja sebagai karyawan swasta, memutuskan untuk sepenuhnya mendampingi sang istri mengembangkan usaha ini setelah melihat potensi besar pada tahun 2018. “Ini bukan sekadar bisnis, tapi tanggung jawab menjaga cita rasa warisan leluhur,” tegasnya.

Rutinitas Harian: Dari Seleksi Bahan hingga Pengemasan

Proses produksi bumbu racik pasangan ini berlangsung dalam beberapa tahap yang ketat. Berikut kronologi harian yang menggambarkan dedikasi mereka:

  1. Pukul 05.00 WIB — Seleksi bahan baku: Babah Fina berangkat ke pasar tradisional untuk memilih langsung rempah segar seperti kunyit, jahe, lengkuas, dan bawang merah berkualitas terbaik.
  2. Pukul 07.30 WIB — Pencucian dan sortir: Ummi Labib memimpin proses pembersihan, memastikan tak ada kotoran atau bahan rusak yang terikut.
  3. Pukul 09.00 WIB — Penimbangan dan peracikan: Setiap rempah ditimbang sesuai resep nenek, lalu dihaluskan secara bertahap menggunakan mesin giling batu untuk menjaga tekstur dan aroma alami.
  4. Pukul 13.00 WIB — Pemasakan awal (blanching): Campuran bumbu ditumis dengan api kecil selama 2–3 jam hingga kadar air menyusut dan aroma matang sempurna.
  5. Pukul 16.00 WIB — Pendinginan dan pengemasan: Bumbu dikemas dalam kemasan vakum berukuran 250 gram dan 500 gram, diberi label, lalu disimpan dalam cold storage sebelum dikirim ke pelanggan.

Setiap hari, pasangan ini mampu memproduksi rata-rata 15 kilogram bumbu racik yang terdiri dari varian bumbu kuning, bumbu merah, bumbu rendang, dan bumbu rawon. Dalam sebulan, mereka mendistribusikan sekitar 400–500 kemasan ke berbagai daerah di Jabodetabek melalui pemesanan daring.

Kunci Keistimewaan dan Penerimaan Pasar

Menurut Ummi Labib, rahasia utama bumbu mereka ada pada proporsi rempah yang seimbang dan tanpa bahan pengawet buatan. “Kami menggunakan garam dan gula alami dalam jumlah minimal sebagai pengawet, sisanya murni rempah. Itu yang membuat cita rasanya lebih segar dan tahan lama di suhu ruang hingga seminggu,” jelasnya. Sejak pandemi, permintaan justru melonjak karena banyak orang lebih sering memasak di rumah. Saat ini, omset bulanan mereka mencapai Rp25–30 juta, naik hingga 120% dibandingkan periode sebelum pandemi.

Harapan Pelestarian Kuliner Nusantara

Di tengah gempuran bumbu instan kemasan pabrik, pasangan ini tetap optimistis. Mereka bahkan aktif mengikuti pameran UMKM dan memberikan kelas gratis meracik bumbu dasar kepada ibu-ibu di lingkungan sekitar. “Kami ingin anak muda tahu bahwa bumbu tradisional itu tidak ribet. Justru ini cara kita merawat identitas kuliner Indonesia,” kata Babah Fina. Ke depan, mereka berencana meluncurkan varian bumbu organik dan memperluas distribusi hingga ke luar Pulau Jawa.

“Yang paling membahagiakan adalah saat pelanggan mengirim foto masakan mereka dan bilang rasanya persis seperti masakan neneknya dulu. Itu adalah bayaran paling mahal,” ujar Ummi Labib sambil tersenyum.

[SOCIAL_TWEET]: Setiap hari, pasangan ini meracik bumbu warisan nenek yang bikin masakan jadi istimewa. Tanpa pengawet, 100% rempah segar, dan hasilkan omset puluhan juta. Yuk dukung UMKM lokal! #KulinerIndonesia #BumbuTradisional #UMKMNaikKelas[SOCIAL_TG]: 🍲 Kisah pasangan suami istri di Jakarta yang jaga resep bumbu warisan nenek. Setiap hari produksi 15 kg, tanpa pengawet, kini omset tembus Rp30 juta/ bulan. Selengkapnya di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User